(cerpen) Kisah si kayanya

1/19/2013
Namanya Rinda. Hanya itu yang ku tahu. Itu juga dari nametag yang digunakannya ketika menjadi panitia idul Adha di kampus ku yang mungkin juga kampusnya. 

***
"gus, cepetan kek. Takbir nya kayanya udah mau abis itu"
Iya iya. 
Oke, aku belum memperkenalkan diri ya teman ?

Namaku Muhammad Agus terkesan enggak cocok memang tapi coba kau artikan, bisa di artikan Muhammad yang Mulia kan ?. Betapa cerdasnya pemikiran ibu dan ayah ku.
Aku baru aja masuk tingkat dua dalam dunia perkuliahan. Rumahku dekat kampus. Kampusku juga punya masjid yang agak menjorong ke luar lingkungan kampus alhasil masjid tersebut dibuka untuk umum. Jadi sering sekali (baca ; pas jumatan) aku solat berjamaah disana.
"bu, kan ga wajib ya?" tanyaku malu-malu.
"lantas, kamu ga mau solat?"

"ini bu ada tugas yang belum kelas dari malem, agus mau kerjain ini aja deh. Itung-itung sekalian jagain rumah" jawabku membela diri.
"alah alasan kamu. Udah cepet mandi ganti baju. Kapan kamu solat berjamaah? Ya solat jum'at. Lalu kapan lagi?"
"ibu..." kataku dengan nada memelas.
Namun hanya di balas oleh sorotan mata tajam olehnya. Yang mungkin bisa di artikan seperti ini. "cepetan!"
***
"bujang, kamu ini udah punya pacar belom si? Kok belum pernah kenalin ke ibu?" Tanya ibu setelah moment menyiksa itu terlewati. Oke, keterlaluan memang. Masa solat ku sebut seperti itu. Maaf ya.
"hmmm" jawabku sedikit membuatnya penasaran.
"udah belom?"
"udah, tapi dia kalo gini hari suka jadi cowok bu. Brewoknya keluar" jawab ku asal.
"ah, kamu homo" ujar ibu kaget. Ya, cukup lah membuat tiga sampai lima orang juga mendengarnya.
Di saat itu. Ku lihat si pemilik kelopak mata paling indah di dunia tak jauh dari tempatku bercakap dengan ibu. Si pemilik kelopak mata indah itu tampak bingung melihat kearahku. Namun, tatapan bingung itu makin membuat kelopak matanya terlihat menawan. Saat itu ada gerombolan angin yang entah kenapa membuatku jadi begitu panas.
"buyung kamu homo?" ujar ibu kali ini cukup pelan dari sebelumnya. Aku tak mendengar yang pertama ini yang ketiga di tambah dengan jeweran terperih yang pernah ku dapat khas darinya.
"enggak bu. Agus cuman bercanda kok. Agus lagi pendekatan bu" atau lebih tepatnya baru  sekarang. Kami masih bertatapan hingga sekarang. Namun, sekarang tatapan pemilik kelopak mata terindah itu berubah menjadi tatapan mengusir. Aku baru sadar, teriakan ibu tadi cukup menarik perhatian.
***
"buyung, nanti kalo udah jadian. Bawa ke ibu ya?" ujar ibu ketika ia dengan cepat-cepat membuka pintu. Aku tak tahu kenapa....
***
"sangat jelas bahwa yang menjadi kurang nya pemerataan pendidikan di Indonesia yakni kurangnya perhatian pemerintah pusat, namun ......" sisa kalimat dari dosen jadi tak begitu jelas oleh agus sekarang. Ia masih memikirkan si gadis Idul Adha itu. Rinda namanya. Agus dapat ketika ia melempar nametag nya ke sampah selepas pemotongan qurban. Agus yang belum sama sekali melihat pemotongan jadi begitu semangat. Agus membuntuti  rinda kemanapun. Bahkan ketika selesai. Ia langsung membuang nametag nya ke tong sampah dan lekas pergi entah kemana.
***
Agus yang awalnya jarang sekali solat berjamaah di masjid dekat rumahnya akhir-akhir ini dengan tujuan ya apalagi selain untuk sekali lagi bertemu dengan si pemilik kelopak mata paling anggun dan istimewa kala itu.
Ini sudah pekan ketiga dan si Rinda belum sama sekali terlihat. Entah apa yang membuatnya menghilang. "gus, udah dapet belom cewenya ?" ujar ibu ketika agus baru saja masuk ke rumahnya
"maksud ibu?"
"alah enggak usah pura-pura. Ibu tau kanapa kamu akhir-akhir ini sering solat di masjid ya karna ada cewe yang kamu taksir kan ?"
"..." agus bingung harus gimana
"jadi?"
"...." "jawab agus"
"gini bu dia enggak keliatan keliatan masa" ucap agus tanpa sadar
"emang nya kamu solat lima waktu di masjid kampus mu itu "
"Enggak si . Cuman kalo lagi bisa aja"

"semangat ya" agus bingung dengan sikap ibunya.
Agus diam enggak tau harus seperti apa.
***
"eh kalo misalkan beton ini di banting di kepala lu. Lu juga belum tentu sadar kali ya gus" kata Dedi teman agus. Yang sedari tadi bingung dengan sikap temannya.
"eh tau rinda enggak lu. dia pernah jadi panitia kurban tiga bulanan yang lalu" 
"mm, jangan bilang dia rinda anak kajur kita itu?"
"maksud lu?"
"yeh, emang enggak tau? Anak kajur kita itu cakep dan dia emang islam banget"

"masa si?"
"iya, psikologi 2011"
"lah, jenior kita dong? kok gue ga sadar pas ospek?"
"eh dah, dia kan setahun yang lalu enggak pake krudung plus rada gemuk gitu, gimana mau sadar?"
"eh kok lu tau banyak si?" kata agus sambil mengeluarkan rokoknya. Pelarian nya jika kuliah sudah cukup membuatnya muak.
"lu ngerokok lagi?" ujar dedi kaget. Mereka sedang berjalan menuju kantin kampusnya.
"iya, nyokap udah nagih nagih lagi kapan lulus?"
"et dah. Bukan nya lu udah terbiasa ya?" kata dedi kali ini sedang melihat lihat kampus nya. Mereka ingin makan siang, pagi tadi kampusnya di guyur hujan dan itu membuat suasana nya jadi begitu nyaman.
"eh. Itu bukan?" kata dedi lagi sambil menunjuk ke salah satu sudut kantin ke gerombolan wanita muslimah yang sedang berbincang.
"yang mana ?"
"itu yang pake tas miring warna hijau itu loh. Nah yang sekarang nengok ke kita"
"ehmm,,, bukan bukan" kata agus ragu
"perhatiin pelan pelan deh. eh ya kenapa pake kaca mata hitem dia ya ? Apa masih sakit mata ?"
"au ah"
gadis itu hendak tersenyum dan mengangkat tangannya untuk menyapa tepat ketika kedua pria di kantin yang sedari tadi memperhatikan nya -yang salah satu di antara nya ia kenali sebagai orang yang dia temui ketika ia jadi panitia kurban- duduk dan membelakangi nya.

Seorang guru muda yang akan selalu belajar dari peserta didiknya, karena "Pembelajaran tidak hanya terjadi dari guru ke peserta didik, namun sebaliknya pun demikian".
Terimakasih Sudah Membaca

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Komentar tanpa moderasi tapi saya akan perhatikan setiap komentar.
I Love your comment EmoticonEmoticon