Mencinta dengan Ragu

9/01/2019

Jika Kamu boleh ragu. Apa aku juga boleh?
“Hai.”
Aku tertegun.
Suara itu menghamburkan lamunanku.
Setelah beberapa saat melihat sekeliling dan cukup yakin tidak ada yang mengenaliku di tempat ini.
Aku kembali ke lamunan ku
Sebentar, mari aku ingat-ingat.
. . .
Aku, kamu, dan (yang semoga masih ada) kita
Sedang berada dalam tahap saling meragu
Hanya kamu sebenarnya.
Tapi toh aku yang selalu diragukan pada akhirnya juga ikut meragu
Padahal rasa itu tidak pernah ada sebelumnya
Sampai akhirnya kamu berhasil membuat ragu menjadi milik kita berdua
Ragu… Ragu …. Ragu ….
Kuulang kata-kata itu berharap pada akhirnya, Ia tak berarti apa-apa.
Namun, tampaknya sia-sia.
Karena semakin kesini, malah semakin besar rasanya.
Ragu . . . .
Setiap manusia pernah merasakan hal itu.
Ragu akan dirinya, ragu akan pekerjaannya, ragu akan segala tindakannya.
Dan tahapan paling  parah dari itu adalah meragukan orang lain
Siapa aku, sampai nekat meragukan kamu?
Dan Siapa juga kamu? Berani-beraninnya meragukan aku?
Aku tidak tahu-menahu ragumu
Jadi,
Aku hanya akan menceritakan bagianku saja.
Ragu… Ragu . . . Ragu .   .   .   .   .   .   .
Kembali kuulang kata itu.
Aku sedang meyakinkan, bahwa aku sama sekali tak begitu.
Karena, usaha untuk menjadikan kita tetap ada masih terus aku lakukan.
Walau tak terlihat nyata dipandanganmu.
Ragu
Bukan pertama kali muncul disisi ku
Dulu aku ragu bisa mendapatkanmu
Setelahnya
Aku ragu bisa bertahan lama denganmu
Kemudian
Aku juga ragu
Apakah ini akan bergerak kearah yang benar?
Ke arah yang bagi sebagian orang, menjadi tujuan akhirnya.
Aku selalu berusaha mengusir semua raguku, dengan kenangan-kenangan yang sudah pernah tercipta diantara kita
.
Menikmati senja di hutan bakau
Bersepada berkeliling di tempat wisata
Atau bercanda tak jelas di hutan kota
Atau aku usir Ia dengan pikiran bahwasanya
Untuk mendapatkanmu, dulu, tak sedikit yang aku perjuangkan
Alasan pertama kumenyukaimu
Saat berhasil mendapatkan nomer telpon genggammu
Rasa ketika sadar bahwa umpanku disambut seperti yang aku harapkan
.
Tapi,
Untuk akhir yang mungkin tidak mengenakan kelak.
Aku hanya ini bilang
“Hei. Aku tidak ingin diragukan. Tapi jika kamu terus-terusan begitu, aku bisa apa?"

Seorang guru muda yang akan selalu belajar dari peserta didiknya, karena "Pembelajaran tidak hanya terjadi dari guru ke peserta didik, namun sebaliknya pun demikian".
Terimakasih Sudah Membaca

Artikel Terkait

Latest
Previous
Next Post »