Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan

2/02/2024


Pertanyaan Pertama 

Beban dan amanah kepemimpinan adalah mengimbangi semua prioritas yang terpenting. Tugas saya dalam pendidikan adalah melakukan yang terbaik.  Apa yang diinginkan kadang-kadang belum tentu  itu yang terbaik. Dan untuk membuat perubahan, apalagi perubahan yang transformational, pasti ada kritik.  Sebelum mengambil keputusan, tanyakan, apakah yang kita lakukan berdampak pada peningkatan pembelajaran murid? (Nadiem Makarim, 2020)
Maksud yang saya pahami dari Pak Mentri Nadiem Makarim adalah bagaimanapun proses dalam seluruh satuan pendidikan adalah "apakah yang kita lakukan berdampak pada peningkatan pembelajaran murid?" sehingga sangat jelas bahwasanya dalam pendidikan harus memprioritaskan atau menitik beratkan pada kebutuhan murid sehingga kita berhasil memfasilitasi sang aktor dalam mengembangkan dirinya melalui pendidikan. Dan dalam prosesnya tentu kita akan menemukan segala sesuatu yang terkadang menghambat namun harus dapat diselesaikan secara persuasif. 

Berikut tanggapan lain yang bagi saya menjawab secara utuh.












Teks dalam gambar:
Dalam menghadapi dilema antara dua Kepentingan yang sama-sama benar memang sulit , menurut pendapat saya caranya adalah : yang pertama harus mengedepankan kepentingan murid yang kedua harus berpedoman pada nilai-nilai kebajikan yang ketiga memerlukan banyak pertimbangan, kesabaran ,kehati-hatian, dan harus dengan pikiran yang jernih.Yang keempat Kalau perlu melibatkan orang lain untuk diajak berdiskusi. Sebab salah dalam mengambil keputusan akan berakibat masalah yang baru dan biasanya lebih rumit untuk diselesaikan.

Pertanyaan Kedua

Bagaimana cara Anda (sebagai kepala sekolah) dalam menentukan buku yang akan dipakai. Anda mendatangkan beberapa penerbit, dan setiap penerbit menjanjikan 'komisi' untuk Anda sebagai kepala sekolah jika memilih buku terbitan mereka. Pihak Yayasan/Manajemen Sekolah memanggil Anda untuk mengetahui prosedur dan praktik pemesanan buku-buku tahun ajaran baru di sekolah selama ini. Apa yang Anda katakan?

Seluruh rangkaian jelas, bahwa penerbit datang sekolah memberikan sample yang akan dianalisis oleh tim guru. Guru tidak akan diberikan intervensi harus memilih yang mana yang memberi komisi terbesar untuk sekolah sehingga penilaian yang diberikan murni atas konten buku yang dianalisi. Untuk komisi yang dijanjikan tentu dapat dibelanja lagi untuk mengikutkan guru ke dalam pelatihan-pelatihan yang mengembangkan dirinya dalam mengajar. Saya rasa proses tersebut menjadi win-win solution. 

Pertanyaan Ketiga

Bagaimana situasi di lingkungan Anda sendiri, adakah nilai-nilai kebajikan yang dijunjung tinggi di tempat Anda bekerja, atau tinggal? Ceritakan pengalaman Anda Anda bagaimana nilai-nilai kebajikan tersebut telah membentuk diri Anda terutama dalam mengambil suatu keputusan?

Di tempat saya bekerja, sebagai seorang guru harus selalu menjunjung tinggi 4 kompetensi guru (pedagogis,kepribadian, sosial dan profesional). Saya bekerja dilingkungan yang sangat menjunjung tinggi belajar sepanjang hayat, yakni saya harus selalu menyegarkan pengetahuan saya atas pedagogis melalui komunitas belajar pekan yang saling berbagi dan menguatkan dalam menghadapi murid dikelas, seminar pendidikan oleh tokoh pendidikan tiap tahun ajaran baru, dan kegiatan pendukung lainnya. 
Saya juga dilatih untuk menjadi pribadi yang dapat dicontoh oleh murid, sebagai suri tauladan yang dapat murid ceritakan dengan bangga kepada orang tuanya. Saya juga dibiasakan menjadi pribadi yang tidak anti kritik setiap komunitas belajar, bahwa gagasan saya tidak selalu benar, dan gagasan orang lain tidak selalu salah. Di sekolah yang sudah besar ini juga dituntut menjadi pendidik yang profesional dengan mengikuti segala program yang mengembangkan diri pengajar seperti Pendidikan Profesi Guru, Pendidikan Guru Pengerak, Penulisan Modul Ajar, Penulisan Jurnal, dan Pengunaan LMS sebagai media pendukung pembelajaran.

Pertanyaan Keempat

Apakah Anda pernah mengalami atau melihat suatu pengambilan keputusan serupa studi kasus yang ditanyakan di atas, di mana ada dua kepentingan saling berbenturan? Ceritakan bagaimana pengalaman Anda sendiri di sekolah asal Anda. Apa yang Anda lakukan pada waktu itu, mengapa?

Masih jelas diingatan saya kejadian 4 tahun yang lalu. Ketika ada seorang murid laki-laki yang menganggu murid perempuan hingga melukai. Sang Ayah tidak terima atas perlakuan teman anaknya, Ia meminta pertemuan antara saya dan kepala sekolah atas kejadian tersebut.

Awalnya ayah murid perempuan tadi sangat tidak terima, karena ini bukanlah pertama kali murid laki-laki tersebut melakukan hal tersebut kepada anaknya. Sang ayah sangat menginginkan anak tersebut dikeluarkan karena sudah cukup mengganggu banyak pihak termasuk anaknya.

Setelah laporan tersebut diterima, sekolah kami memanggil orang tua dari murid laki-laki tersebut. Dalam pembelaannya, Ia menyadari bahwa anaknya salah namun menurutnya masih dalam batas wajar, karena toh anak perempuan tersebut tidak terluka. Kami tidak mempertemukan kedua orang tua tersebut karena menghindari percecokan yang lebih panjang. Kami menjanjikan akan memfasilitasi murid laki-laki tersebut kegiatan konseling oleh Guru Bimbingan dan Konseling secara rutin, perlahan sikap murid tersebut berubah khususnya interaksi dengan murid perempuan menjadi lebih berhati-hati.

Pertanyaan Kelima

Pernahkah Anda setelah mengambil suatu keputusan, bertanya pada diri sendiri, "Apakah keputusan yang Anda ambil adalah keputusan yang tepat?" "Apakah seharusnya saya mengambil keputusan yang lain?" Kira-kira apa yang membuat Anda mempunyai pemikiran seperti itu? 

Terkadang pertanyaan seperti itu muncul jika output yang didapat tidak seperti yang diharapkan. Namun saya meyakinkan diri bahwa output tersebut tidaklah instan sehingga saya hanya perlu menunggu agar perlahan hasilnya tampak. 

Pertanyaan Keenam

Pertanyaan-pertanyaan apa yang ingin Anda tanyakan pada sesi Pengambilan Keputusan berbasis Pemimpin Pembelajaran ini? Apa yang selama ini menjadi tantangan bagi Anda dalam mengambil suatu keputusan sebagai pemimpin pembelajaran?

Pertanyaan Paling dilematis dalam penentuan keputusan baik tingkat sekolah maupun tingkat kelas adalah "Apakah saya harus mementingkan kepentingan mayoritas (banyak orang) dibanting etika?" Karena keputusan itu harus dapat diterima oleh semua orang, namun ada batas 'etik' minor yang ditabrak agar dapat diterima oleh semua orang.

 

Seorang guru muda yang akan selalu belajar dari peserta didiknya, karena "Pembelajaran tidak hanya terjadi dari guru ke peserta didik, namun sebaliknya pun demikian".
Terimakasih Sudah Membaca

Artikel Terkait

Latest
Previous
Next Post »

Komentar tanpa moderasi tapi saya akan perhatikan setiap komentar.
I Love your comment EmoticonEmoticon