Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Aku Perlahan Melupakan Wajahmu

7/04/2026 0

Juli 2021. Tepat lima tahun yang lalu, ia pulang menghadap Sang Pencipta.

Dulu, Juli selalu menjadi bulan yang paling menyenangkan bagiku. Bulan ketika para pendidik bisa berhenti sejenak setelah melewati satu tahun ajaran yang melelahkan, lalu bersiap menyambut tahun ajaran baru dengan segala harapannya.

Namun, sejak 19 Juli 2021, Juli berubah makna.

Saat itu, sebagian besar warga Indonesia sedang merayakan Iduladha di tengah puncak pandemi COVID-19. Masa yang, setiap kali kuingat, masih terasa begitu menyakitkan. Ia, yang kini telah lima tahun berada dalam dekapan Penciptanya, termasuk kelompok yang paling rentan. Setiap hari para pewarta mengingatkan agar mereka dijaga sebaik mungkin. Nyatanya, tak semua hal bisa dijaga.

Kalau kuingat kembali, tak satu pun temanku datang saat pemakamannya. Mungkin karena pandemi. Aku mencoba memahami itu.

Namun, lima belas bulan kemudian, ketika keluargaku kembali kehilangan seseorang, orang-orang itu juga tidak datang.

Sejak saat itu aku bersumpah pada diriku sendiri: aku tidak akan datang ke pemakaman siapa pun dari keluarga mereka.

Akan tetapi, April kemarin, aku mengkhianati sumpah itu. Meski tetap tidak hadir di pemakaman, aku datang setelahnya untuk menemani seorang teman yang sedang berduka. Mungkin aku akhirnya sadar bahwa menemani seseorang yang kehilangan jauh lebih penting daripada mempertahankan dendam yang kupelihara sendiri.

Malam ini aku baru saja menonton film Jepang berjudul Forget Me Not. Sebuah film romantis yang dibungkus nuansa horor. Premisnya sederhana sekaligus menyakitkan: Azusa mengidap kondisi aneh yang membuat siapa pun yang bertemu dengannya—termasuk keluarga dan orang-orang yang mencintainya—akan melupakannya beberapa jam kemudian.

Takashi, kekasihnya, berusaha melawan keadaan itu. Ia selalu berada di sisi Azusa dan mencatat setiap kenangan mereka agar tak ikut lenyap bersama ingatannya. Namun, pada akhirnya, bahkan usaha sebesar itu pun tidak cukup.

Barangkali begitulah cara waktu bekerja.

Perlahan orang-orang akan lupa wajahnya. Lalu namanya. Lalu suaranya. Hingga akhirnya yang tersisa hanyalah cerita-cerita yang semakin jarang diceritakan.

Dan tanpa kusadari, aku pun mulai mengalaminya.

Aku mulai kesulitan mengingat wajahmu dengan utuh. Aku mulai lupa aroma tubuhmu sepulang mengajar. Aku mulai kehilangan ingatan tentang langkah kakimu, tentang kebiasaan-kebiasaan kecilmu, tentang segala hal yang dahulu membuatku merasa begitu dimiliki.

Mungkin suatu hari nanti ingatanku akan semakin pudar. Mungkin aku tidak akan mampu mengingat semuanya dengan sempurna.

Tetapi malam ini aku ingin membuat satu janji.

Jika Takashi pernah berjuang sekuat tenaga agar tidak melupakan Azusa, maka aku akan berusaha lebih keras lagi untuk tetap mengenangmu.

Selama aku masih mampu mengingat, selama namamu masih bisa kusebut, dan selama cerita tentangmu masih bisa kuceritakan, maka kau belum benar-benar hilang.

Yang Terpisah Telah Bersatu Kembali

Yang Terpisah Telah Bersatu Kembali

12/11/2022 0

Juli 2021

Tampaknya ini jadi bulan berat bagi keluargaku. Kami silih berganti bertemu virus pembunuh itu. Hingga tuhan mempertemukannya dengan ibu.

Ibu kelompok rentan yang sering dibicarakan. Dan ibu sudah sampai di titik paling lemahnya. Tidak cukup kuat melawan penyakit yang menjadi pelengkap penggerogot hidup ibu dua tahun kebelakangan.

Ibu sudah tidak perlu sakit. Ibu sudah tidak perlu merasakan sakit-sakit itu lagi. 

Dan Bapak kehilangan ibu. Pihak yang paling disakiti dalam skenario Tuhan ini. Ia kehilangan wanitanya. Wanita yang menemani hampir selama 40 tahun.

Bodohnya Aku,

Aku memilih untuk membenci bapak. Karena bagiku itu cara paling mudah untuk melupa. Melupa segala kebaikan dan kenangan indah tentang mereka. Aku membencinya sepaket dengan ibu.

Entah muncul karena apa, dan untuk alasan apa

Semua ingatanku tetang mereka melulu hal yang menyakitkan. Yang kusadari, pada akhirnya, adalah mekanisme diri untuk tak larut dalam kesedihan yang muncul. Yang bahkan belum benar-benar muncul. Kututupi erat. Kekanak-kanakan.

Setahun berlalu, aku masih menghukum bapak dengan beragam ingatan buruk. Yang entah kenapa sangat melegakan. Karena saat itu aku tau bahwa jika tak membencinya, ingatanku akan mereka melulu menghasilkan tetasan air mata

Hingga pada akhirnya, 

Dua bulan yang lalu. Aku dihardik kenyataan. Mereka kembali dipertemukan oleh waktu. Bahwa orang yang kubenci adalah yang paling berhak membenciku. Karena aku tak pernah menyempatkan diri untuk hadir dalam duka Bapak. Bapak melalui semuanya sendirian, bapak kehilangan Wanita sekaligus dunianya.

Kali ini aku yang berhak dihukum.

Kusadari bahwa bapak juga menghukum diri atas kepergian wanitanya. Sayang yang dulu dia kucurkan sendirian ke istrinya  tanpa bantuan dariku, Anak mereka. Aku bagai anak yang tak tau balas budi. Aku baru menyadarinya, sekarang. Dan aku, sangat-sangat menyesali.

Menyesal bahwa tak bisa hadir dalam duka bapak. Duka yang harus Bapak pikul sendirian, hingga duka itupun menggerogoti tubuhnya. Sosok gagah itu jatuh atas dukanya sendiri, yang melalui dukanya di tempat mereka dipisahkan oleh waktu. Bapak bagai seorang yang pincang, tak tau arah tujuan, dan sangat memerlukan pertolongan. Dan aku, kala itu, alih-alih menemaninya berduka malah memilih membencinya.

Sekali-lagi aku sungguh menyalahkan diri.

Sekarang aku tidak bisa berbicara apa-apa kepada Bapak. Aku hanya bisa bilang

“Dicky Minta Maaf, Pak. Maaf Bapak harus melalui duka itu sendirian”

Saya Ingin Memperkenalkan Diri

1/21/2022 0


Halo Perkenalkan saya Dicky. Pemilik blog ini. Saya ingin mengungkapkan sesuatu kepada kalian. Baca baik-baik ya.

Saya adalah anak yang tidak telalu membenci orang tua nya. Saya akan memikirkan segala jasa mereka kepada saya alih-alih segala sikap mereka yang membuat saya ingin pergi dari rumah.

Sebagai suami saya sedang berusaha untuk membuat istri bahagia karena saya sangat bahagia bersama Wanita tersebut. Saya sebisa mungkin melakukan hal-hal yang dulu membuat Wanita itu ingin bersama saya selamanya. Saya tentu tidak ingin membuatnya menyesal.

Sebagai ayah dari seorang anak laki-laki, saya ingin menjadi contoh yang baik dan membuat dia dengan bangga bilang ke teman-temannya kelak “Dia ayah terbaik nomor satu seluruh dunia” (seperti quote film by the way). Saya akan memberi hal terbaik yang bisa saya berikan, tanpa bermaksud memanjakan. Tentu itu keinginan semua orang tua, kan?

Sebagai seorang guru saya harus bisa menjadi manusia yang sangat dirindukan murid-muridnya tiap kali libur panjang. Saya ingin mereka menganggap saya sebagai orang tua kedua yang sangat menyayangi mereka tanpa menimbulkan kebencian. Saya berusaha, maaf jika belum terlihat.

Sebagai pemilik blog ini, Saya ingin sekali rutin mengisinya. Agar ia tampak terawat dan terisi seperti seharusnya. Ya maafkan jika belum tampak usahanya.

Sabagai seorang pria yang sudah hidup hampir 28 tahun, saya ingin menjadi orang yang sangat bersyukur atas apa-apa yang ada dalam diri alih-alih membandingkan diri kepada yang lebih tinggi. Karena sebanyak apapun tidak akan tampak cukup jika tak disyukuri, kan?

Sebagai seorang teman, saya ingin selalu diingat. Bukan hanya sebagai manusia yang diajak berkumpul. Saya ingin keberadaan saya di lingkup hidup mereka berarti. Sehingga mereka tanpa ragu menceritakan hidupnya, tanpa takut penghakiman dari seorang. Saya juga ingin menjadi teman yang asik, seru tapi juga tidak membuat mereka merasa tersakiti atas apa yang keluar dari mulut saya.

Sebagai orang yang sudah lama hidup, dan temannya hanyalah rekan kerja. Saya bingung harus mencari teman lagi dimana. Tolong beritahu saya.

Sebagai bagian dari lingkungan manusia saya ingin punya kontribusi bukan hanya sebatas buah bibir para tetangga. Saya bukan penduduk asli memang, tapi jika tidak berusaha saya enggak akan dianggap bukan?

Sebagai bawahan dari seseorang, saya harus paham bahwa sejujur dan sebenar apapun, Saya mesti menyadari bahwa saya adalah bawahan dari ego seseorang yang juga harus dipuaskan. Jika dia puas, tentu kita akan diberi lebih bukan?

Sekian

Terimakasih sudah membaca

See You.

Tidak Ada yang Siap

11/21/2021 0


Saya kaget bahwa "hal" itu berhasil merenggut jutaan hidup orang. Enggak ada yang siap, negara, cendikiawan, pemangku kepentingan publik, warga, siapapun. Apalagi saya. Saya yang baru memulai untuk hidup secara mandiri dipinggir kota tentu kaget. Lingkungan tempat tinggal yang sepi semakin sepi karena banyak yang pulang kampung, saya sempat hidup benar-benar sendiri di tiga bulan pertama pandemi ini menghantam banyak wilayah. 

Maret 2020 menjadi maret yang paling menyebalkan dari maret-maret sebelumnya. Bulan ketiga dalam putaran kalender gregorian itu seharusnya tentram karena baru selesai musim hujan dan akan menuju musim kemarau. Tapi entah kenapa dia hadir disertai dengan sebuah wabah yang mengubah seluruh penduduk planet ini.

Pekerjaan saya yang seorang pendidik dipaksa untuk beradaptasi. Bagaimana menjadi guru yang sejatinya butuh sentuhan psikologi tetap bisa menjalankan perannya walau hanya sebatas tatap maya. Banyak perubahan yang harus disikapi, banyak tuntutan yang harus disanggupi. Sebagai seorang pendidik, saya akui pandemi ini mengajarkan saya banyak hal.

Tulisan diatas dibuat di penghujung tahun 2020. Kembali saya tegok di penghujung tahun 2021.

Pandemi menghantam banyak sisi kehidupan, Saya tak luput dari hantamannya. Ia mengambil seseorang yang paling berarti buat saya.

Saya benci untuk mengakui bahwa saya sedih kehilangannya. Alih-alih bersedih saya memilih untuk marah. Marah atas sikap, aturan, dan beberapa hal tentang beliau. Tapi memang seperti itukan orang tua?

Hari ini saya bersedih,

Setelah sadar saya telah menyia-nyiakan waktu 3 bulan pertama pandemi alih-alih bercengkrama dengan beliau malah memilih untuk tinggal sendirian.

Saya bersedih setelah sadar bahwa beliau tak akan pernah kembali. Beliau sudah benar-benar telah selasai akan tugasnya. Walau tidak sempurna tapi beliau telah melaksanakannya dengan sungguh-sungguh.

Saya hanya ingin bilang,
Terimakasih atas segalanya
Ucap yang menenangkan
Tindakan yang melindungi
dan segala hal di belakang layar yang membentuk saya menjadi seperti sekarang.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, 

Tidak ada yang siap

Tidak ada yang siap atas kondisi ini.


06 06 2020

12/22/2020 0

Calon Suami dan Istri Saat ingin mengucapkan Janji Suci

Setelah beragam persoalan, lika-liku kehidupan yang kami alami bersama akhirnya Juni kemarin kamipun resmi menjadi pasangan suami-istri sah. Kaget, kagum, tak siap, gelagapan, itu yang kami berdua rasakan setiap harinya. Tapi sepasang suami-istri hebat pun pasti pernah mengalaminya, Kan?

Jujur, pada awalnya, saya kagum serta panik atas keberanian diri ini mengajak orang lain menikah dan membina rumah tangga bersama. Saya takut bagaimana saya bertindak akan melukai hari-harinya, dan apakah saya juga akan terluka atas tindakannya. Satu hal yang penting, kami telah dan akan terus berupaya untuk bersama. Semoga Allah memiliki rencana yang sama atas kami.

Saya takut akan masa depan seperti apa yang akan kami, dan anak-anak kami kelak hadapi. Namun, Saya juga sadar bahwa saya tidak akan pernah bisa mengetahui masa depan, tidak ada yang bisa meramalkan bagaimana keadaan diwaktu-waktu selanjutnya. Saya hanya bisa berencana dan tidak bisa benar-benar memastikan hasilnya. Saya hanya bisa menjalankan hari-harinya dengan semangat untuk berjuang bersama. 

Hari buruk tentu akan kami hadapi, semoga hari buruk itu bisa berganti menjadi hari yang indah setelahnya.

Itu yang coba saya tanamkan saat menyadari bahwa tidak ada dua orang yang selalui sependapat. Saya sadar kami akan menghadapi hari buruk karena tindakan satu sama lain, saya juga yakin bahwa kami bisa melaluinya dengan kepala dingin.

Kami pasangan suami istri baru, belum menginjak umur satu tahun. Banyak yang belum kami alami. Kami hanya harus bersiap dengan apapun yang akan menghampiri kelak. Doakan kami bisa dan akan selalu ingin berkerjasama.

Dekade Yang Sip!

5/28/2020 0

Akhirnya blog yang enggak jelas juntrungannya ini genap berumur
sepuluh tahun.
Hari ini pas banget dia berusia 10 tahun alias satu dekade

Walau belum menghasilkan uang yang banyak. Gue tetep bersyukur memilikinya karna dia bisa menjadi tempat gue membuang segala uneg-uneg. Gue cuman bisa berharap uneg-uneg tadi akhirnya bisa menghasilkan uang 😂

Sepuluh tahun,

Jika diibaratkan seorang manusia, masih anak-anak. Masih usia SD. Kurang lebih kelas 4/5 SD. Masih jadi orang yang sangat bergantung.

Sama kayak blog ini, tetep akan butuh gue sebagai pengeraknya. Dia enggak akan menjadi apa-apa selama gue enggak berbuat apa-apa.

Tahun 2010,
Waktu itu gue kelas 1 SMA

Gue membuat blog ini di Warung Internet dekat rumah daerah Tanjung Priok. Warnetnya rame sama bocah-bocah yang main poker atau game facebook lainnya.

Kalian mungkin tau kalau tahun 2010-an banyak orang masih suka permainan-permainan yang ada di facebook atau mungkin sekarang masih 🤨

Awalnya gue agak malu buat bikin, karena di sana itu setiap komputer di jajar mengelilingi tembok.
Apapun yang dilakukan pasti ketauan sama yang OP atau sama pengunjung lain.
Gue malu aja dikelilingi sama pemain poker gue malah buat blog.

Kurang lebih warnetnya kayak gini
sumber : https://apollo-singapore.akamaized.net/v1/files/0htr6fcgsme12-ID/image;s=850x0

Gue jadi pengunjung tetap di sana selama beberapa minggu sebelum akhirnya membuat blog ini. Selain untuk mengakrabkan diri sama lingkungan, juga buat ngerjain tugas sekolah. (alias Copy-Paste halaman Wikipedia enggak diedit sama sekali formatnya)

Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk dilalui
Gue masih inget postingan pertama gue diisi sama bahasa yang enggak jelas dan penulisan yang enggak banget. Lu baca aja dah.

Bahkan paling parah tahun lalu
Gue cuman buat satu postingan

Minat ngeblog gue bisa dibilang menurun tiap tahun, mungkin karena punya banyak kegiatan yang menyibukkan atau karena paham kalau blog ini menyulitkan gue yang enggak pinter-pinter banget buat merangkai kata.

Padahal untuk mengisi blog si empunya mesti mau berjuang dan melawan Writer's block. Lah gue malah diturutin.

Gue sekarang enggak tau harus nulis apaan lagi. 😁

Pokoknya gue cuman bisa berharap bahwa gue semakin rajin dan bisa menghasilkan sesuatu dari blog ini. Dan yang terpenting semoga kalian suka.

See You.

Ceritaku Selama #dirumahaja

4/29/2020 2

Covid-19 belakang pasti sering kalian baca, denger, cari, atau entah kenapa muncul di beranda sosial media. Penyakit yang tidak begitu mematikan dengan tingkat penularan yang tinggi. Bikin doi cocok jadi "Pendemik".

Oia, kalian udah cuci tangan belum?
Kalau belum,
Yuk! Cuci tangan dulu!

Terus saran gue momen gini tuh dijaga deh tangan kalian dari megang sesuatu apalagi di tempat umum. Selain benda itu bisa aja ada virus yang enggak keliatan atau benda itu bisa aja melukai kalian. Covid-19 dan jari yang terluka itu enggak cocok banget. Lu tau kan kalo luka kena sabun itu enak banget!
Soo, Staysafe semua.

Oia, Perkenalkan gue Dicky
(kali aja belum kenal)

Gue salah satu guru lumayan keren yang ngajar disalah satu sekolah swasta di Kota Bekasi, seperti yang kalian tau Bekasi juga ikut PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) kaya Jakarta dan wilayah sekitarnya.

Walau PSBB Bekasi baru mulai tanggal 15 April kemarin, gue libur jauh sebelum itu. Lebih tepatnya gue terakhir masuk itu tanggal 16 Maret 2020 (Persis kayak Gubernur DKI yang ngeliburin sekolah untuk pertama kali). Sebulan sebelum PSBB kota Bekasi. Karena sekolah gue pusat nya ada di Jakarta jadinya ikutan libur deh.

Gue si enggak mau ngebahas bagaimana enggak pedulinya lingkungan gue sama itu PSBB. Gue lebih suka ngebahas gimana enaknya hidup gue belakangan ini.

dan enaknya menjadi pahlawan karena #dirumahaja.

Pasti lu pernah ngomong atau kepikiran kayak gini

"Gue lagi nyari kalender yang tanggal merah semua"
"Cape banget  ya. Udah pulang kerja masih harus ngerjain tugas kerjaan lagi"
Baru bangun tidur terus bilang "Masih ngantuk, mau tidur tapi takut kesiangan."
atau "mau pakai internet malam yang banyak en cepet, tapi besok kudu kerja/kuliah pagi" Sebuah kebimbangan
"Siang ini panas banget si, mandi terus tiduran enak kali ya."
"Dosen enggak masuk ngasih kabar di menit-menit terakhir, gue udah jalan. Sayang bensin banget."

Emang si namanya WorkFromHome tapi rasanya itu kayak nikmatin kalender yang semuanya tanggal merah. Lu bebas mau bangun jam berapa, mau tidur jam berapa sing penting besoknya enggak ada video conference . 😂😂

Terus kalian enggak harus macet-macetan di jalan setiap pulang dan pergi kerja/kuliah, enggak bakalan ngerasa sia-sia udah berangkat eh ternyata dosennya berhalangan, bisa tidur siang sepuasnya juga. Itu kalau kalian menjadi orang beruntung buat WorkFromHome.

Buat yang tetap harus kerja, gue doakan semoga kalian dilindungi dari hal-hal buruk kayak covid-19. Jangan lupa lakukan prosedur pencegahan ya 👍

Selama #dirumahaja gue punya banyak kegiatan yang biasanya sulit buat dikerjaain atau terlalu males buat dilakukan. Kayak belakangan gue jadi akrab lagi sama kegiatan membaca, nonton serial, atau sekadar dengerin podcast

Mulai dari baca, gue kembali rajin buat baca. Jenis bacaan gue pun semakin beragam. Biasanya gue cuma kuat baca fiksi karena enggak perlu pemikiran lebih. Terus belakangan gue melebarkan wawasan kebacaan gue ke nonfiksi. Gue mulai suka bacaan tentang tokoh-tokoh yang keren, buku buku motivasi, buku ilmiah atau cara ngajar.

Selama #dirumahaja gue baca Gege Mencari Cinta, Koala Kumal, Jika Aku Milikmu, Juru Bicara, 100 orang paling berpengaruh,  dan beberapa buku lainnya.

Buku-buku yang tadinya enggak pernah gue baca akhirnya gue buka lagi. Bahkan hampir tiap malem gue akan jongkok di depan lemari buku sembari memilih buku buat dibaca.

Bahkan gue sampe beli buku-buku baru. Dengan tema yang random


Buku nonfiksi itu perlu waktu yang lebih. Gue perlu berhenti sejenak untuk memasukan gagasan si buku ke otak gue. Semacam membuat bacaan masuk akal di pola pikir gue. 🤣

Selain baca, gue jadi punya banyak referensi film/serial yang asik buat ditonton selama #dirumahaja

Awalnya gue milih-milih dalam nonton serial, karena gue enggak siap sama perasaan "terus gue ngapain sekarang?" yang muncul tiap kali gue selesai nonton serial. Sekarang gue jadi nonton apa aja. Bahkan gue nonton serial drama korea (mungkin banyak yang jadi penonton drakor belakangan), gue nonton dokumentasi (ada serial netflix judulnya "pendemic" yang muncul bahkan sebelum si covid-19 jadi 'pendemik'), gue nonton podcast yang ada di youtube, gue dengerin podcast beneran di spotify.

Gue bahas dikit aja ya yang serial. Nanti podcast seru gue bahas di postingan berbeda. Siapa tau ada yang mau baca 🤣


sumber: makassar.tribunnews.com

Drakor pertama yang gue tonton itu Itaewon Class. Drakor yang enggak jadiin cinta sebagai sajian utamanya. Tetep ada si cintanya tapi isinya lebih menceritakan seorang yang ambisius ingin mengalahkan orang kaya yang enggak mungkin bisa dilawan. Dia ngajarin gue kalo punya ambisi harus dikejar sampai tercapai, tapi jangan juga lupaain orang yang menemani kalian menggapai ambisi tadi.

Sumber: Tirto.id

Drakor kedua yang gue tonton itu Hi Bye, Mama

Pokoknya drakor ini menceritakan seorang ibu yang meninggal saat mengandung bayinya. Menjadi arwah selama beberapa tahun. Lalu diberi kesempatan untuk 'hidup lagi'. Drakor ini si cocok buat kalian yang gampang sedih, atau mau sedih tapi enggak mau terlihat cengeng. Sumpah banyak adegan yang bikin gue nangis sejadi-jadinya.

Misalnya,
Ketika pernikahan seorang anak perempuan yang bapaknya sudah meninggal, si anak sedih karena dia telat nikah jadinya si bapak 'keburu' meninggal.
Tokoh utama mewakili si bapak menyampaikan pesan melalui surat ke anaknya untuk ngasih tau si bapak minta maaf tidak bisa menemani anaknya menikah, enggak mau anaknya ngerasa terbebani. Ini menjadi sedih karena di surat itu ada kalimat yang sering diucapkan ayahnya ketika si anak mengalami kegagalan. "Tak apa-apa. Ini bukan masalah besar."

Gue nangis banget disitu, sumpah.
Film ini punya banyak karakter, tapi secara ciamik bikin kita perhatian sama semuanya.

sumber: Kumparan.com

Drakor ketiga itu Hospital Playlist (masih ongoing, baru episode 7 dari 16 episode yang dijadwalkan). Ceritanya tentang 4 dokter laki-laki dan 1 dokter perempuan yang berteman sejak masa kuliah lalu bekerja di Rumah sakit yang sama. Drakor ini jadi naik daun gara-gara, orang-orang lagi fokus dan menaruh empati besar ke tenaga kesehatan yang sedang jadi pahlawan saat covid-19 ini. Awalnya gue suka karena mereka menyajikan profesi yang sedari SD gue jadikan cita-cita. Tapi lama-lama membosankan karena terlalu banyak ngomongin istilah medis, gue males mikirnya 😂

sumber: liat gambar

Serial ke empat itu bukan drakor tapi serial USA, dan kebetulan juga punya 4 season.
Judulnya The Good Place isinya menceritakan akhirat. Tentu dengan pandangan kita sebagai manusia. Diserial ini diceritaain bahwa semua pengurus 'surga/neraka' adalah staf yang bertugas merancang surga/neraka masing-masing. Setiap staf mengurusin beberapa orang aja (1-4 orang mungkin) jadinya stafnya banyak banget. Ini sebenernya drama komedi cuman ngajarin kita untuk jadi orang baik atau menanggung akibatnya setelah meninggal. Disini lebih diperlihatkan gambaran surga menurut pengarangnya (sesuai sama judul mungkin ya), nereka hanya digambarkan dalam bentuk suara, atau dialog antar staf 'neraka'.
Ada satu tokoh yang tergila-gila dengan manusia (mulai dari penjepit kertas, gantungan kunci, macet), dan menyebutkan beberapa kali serial 'Friends' yang menurutnya semua cocok masuk neraka kecuali si Phoebe buffay.
Pemaran Phoebe (Lisa Kudrow) muncul di episode-episode terakhir season 4 tapi bukan sebagai Phoebe.


Sumber: thecinemaholic.com

Serial selanjutnya itu Kim's Convenience sebuah serial Kanada yang menceritakan keluarga pendatang asal Korea. Ini juga drama komedi sebenernya. Dia punya 4 season, yang tiap seasonnya cuman 12/13 episode dan berdurasi kurang dari 30 menit tiap episode. Gue cari-cari si bakalan lanjut sampai 6 season, tapi karena lagi pendemik kayaknya bakalan mundur. Dia biasanya tayang dari awal tahun sampai akhir Maret atau awal April.

Isinya menceritakan sebuah keluarga yang menjalankan bisnis toserba dengan gaya minimarket. Setiap episode menyajikan persoalan yang berbeda, dan hubungan tiap episode hanya seperti berbeda hari aja. Enggak terlalu berhubungan tiap episode.
Yah gitu lah pokoknya.

Kurang lebih itu yang gue lakukan selama #dirumahaja.

Gue mengajak semua pembaca untuk berdoa agar kondisi sekarang cepat berlalu biar kita bisa kembali hidup normal.
Untuk para bos yang baik hati, mari kita doakan semoga perusahaannya tetap stabil sehingga tidak sampai terjadi PHK besar-besaran.
Untuk para pekerja yang harus keluar rumah biar ada penghasilan, mari kita doakan keselamatan dan kesehatannya agar tidak ada keluarga yang kehilangan.
Bagi yang tidak terpengaruh marilah kita ulurkan tangan untuk membantu, saya tau kita bayar pajak. Tapi membantu tidak ada salahnya kan?
Pesanlah gofood/grabfood tapi makanannya untuk si driver.
Lewat situs kitabisa, atau mungkin ada temanmu yang mengadakan penerimaan sumbangan bagi keluarga terdampak covid-19.
Saran saya jangan salurkan bantuan secara langsung selain mengurangi kemungkinan kalian keluar rumah, dengan cara itu memperbanyak jumlah sumbangan, Kan?

Aduh jadi panjang.
Bye.

Mencinta dengan Ragu

9/01/2019 0

Jika Kamu boleh ragu. Apa aku juga boleh?
“Hai.”
Aku tertegun.
Suara itu menghamburkan lamunanku.
Setelah beberapa saat melihat sekeliling dan cukup yakin tidak ada yang mengenaliku di tempat ini.
Aku kembali ke lamunan ku
Sebentar, mari aku ingat-ingat.
. . .
Aku, kamu, dan (yang semoga masih ada) kita
Sedang berada dalam tahap saling meragu
Hanya kamu sebenarnya.
Tapi toh aku yang selalu diragukan pada akhirnya juga ikut meragu
Padahal rasa itu tidak pernah ada sebelumnya
Sampai akhirnya kamu berhasil membuat ragu menjadi milik kita berdua
Ragu… Ragu …. Ragu ….
Kuulang kata-kata itu berharap pada akhirnya, Ia tak berarti apa-apa.
Namun, tampaknya sia-sia.
Karena semakin kesini, malah semakin besar rasanya.
Ragu . . . .
Setiap manusia pernah merasakan hal itu.
Ragu akan dirinya, ragu akan pekerjaannya, ragu akan segala tindakannya.
Dan tahapan paling  parah dari itu adalah meragukan orang lain
Siapa aku, sampai nekat meragukan kamu?
Dan Siapa juga kamu? Berani-beraninnya meragukan aku?
Aku tidak tahu-menahu ragumu
Jadi,
Aku hanya akan menceritakan bagianku saja.
Ragu… Ragu . . . Ragu .   .   .   .   .   .   .
Kembali kuulang kata itu.
Aku sedang meyakinkan, bahwa aku sama sekali tak begitu.
Karena, usaha untuk menjadikan kita tetap ada masih terus aku lakukan.
Walau tak terlihat nyata dipandanganmu.
Ragu
Bukan pertama kali muncul disisi ku
Dulu aku ragu bisa mendapatkanmu
Setelahnya
Aku ragu bisa bertahan lama denganmu
Kemudian
Aku juga ragu
Apakah ini akan bergerak kearah yang benar?
Ke arah yang bagi sebagian orang, menjadi tujuan akhirnya.
Aku selalu berusaha mengusir semua raguku, dengan kenangan-kenangan yang sudah pernah tercipta diantara kita
.
Menikmati senja di hutan bakau
Bersepada berkeliling di tempat wisata
Atau bercanda tak jelas di hutan kota
Atau aku usir Ia dengan pikiran bahwasanya
Untuk mendapatkanmu, dulu, tak sedikit yang aku perjuangkan
Alasan pertama kumenyukaimu
Saat berhasil mendapatkan nomer telpon genggammu
Rasa ketika sadar bahwa umpanku disambut seperti yang aku harapkan
.
Tapi,
Untuk akhir yang mungkin tidak mengenakan kelak.
Aku hanya ini bilang
“Hei. Aku tidak ingin diragukan. Tapi jika kamu terus-terusan begitu, aku bisa apa?"