Aku Perlahan Melupakan Wajahmu

7/04/2026

Juli 2021. Tepat lima tahun yang lalu, ia pulang menghadap Sang Pencipta.

Dulu, Juli selalu menjadi bulan yang paling menyenangkan bagiku. Bulan ketika para pendidik bisa berhenti sejenak setelah melewati satu tahun ajaran yang melelahkan, lalu bersiap menyambut tahun ajaran baru dengan segala harapannya.

Namun, sejak 19 Juli 2021, Juli berubah makna.

Saat itu, sebagian besar warga Indonesia sedang merayakan Iduladha di tengah puncak pandemi COVID-19. Masa yang, setiap kali kuingat, masih terasa begitu menyakitkan. Ia, yang kini telah lima tahun berada dalam dekapan Penciptanya, termasuk kelompok yang paling rentan. Setiap hari para pewarta mengingatkan agar mereka dijaga sebaik mungkin. Nyatanya, tak semua hal bisa dijaga.

Kalau kuingat kembali, tak satu pun temanku datang saat pemakamannya. Mungkin karena pandemi. Aku mencoba memahami itu.

Namun, lima belas bulan kemudian, ketika keluargaku kembali kehilangan seseorang, orang-orang itu juga tidak datang.

Sejak saat itu aku bersumpah pada diriku sendiri: aku tidak akan datang ke pemakaman siapa pun dari keluarga mereka.

Akan tetapi, April kemarin, aku mengkhianati sumpah itu. Meski tetap tidak hadir di pemakaman, aku datang setelahnya untuk menemani seorang teman yang sedang berduka. Mungkin aku akhirnya sadar bahwa menemani seseorang yang kehilangan jauh lebih penting daripada mempertahankan dendam yang kupelihara sendiri.

Malam ini aku baru saja menonton film Jepang berjudul Forget Me Not. Sebuah film romantis yang dibungkus nuansa horor. Premisnya sederhana sekaligus menyakitkan: Azusa mengidap kondisi aneh yang membuat siapa pun yang bertemu dengannya—termasuk keluarga dan orang-orang yang mencintainya—akan melupakannya beberapa jam kemudian.

Takashi, kekasihnya, berusaha melawan keadaan itu. Ia selalu berada di sisi Azusa dan mencatat setiap kenangan mereka agar tak ikut lenyap bersama ingatannya. Namun, pada akhirnya, bahkan usaha sebesar itu pun tidak cukup.

Barangkali begitulah cara waktu bekerja.

Perlahan orang-orang akan lupa wajahnya. Lalu namanya. Lalu suaranya. Hingga akhirnya yang tersisa hanyalah cerita-cerita yang semakin jarang diceritakan.

Dan tanpa kusadari, aku pun mulai mengalaminya.

Aku mulai kesulitan mengingat wajahmu dengan utuh. Aku mulai lupa aroma tubuhmu sepulang mengajar. Aku mulai kehilangan ingatan tentang langkah kakimu, tentang kebiasaan-kebiasaan kecilmu, tentang segala hal yang dahulu membuatku merasa begitu dimiliki.

Mungkin suatu hari nanti ingatanku akan semakin pudar. Mungkin aku tidak akan mampu mengingat semuanya dengan sempurna.

Tetapi malam ini aku ingin membuat satu janji.

Jika Takashi pernah berjuang sekuat tenaga agar tidak melupakan Azusa, maka aku akan berusaha lebih keras lagi untuk tetap mengenangmu.

Selama aku masih mampu mengingat, selama namamu masih bisa kusebut, dan selama cerita tentangmu masih bisa kuceritakan, maka kau belum benar-benar hilang.

Seorang guru muda yang akan selalu belajar dari peserta didiknya, karena "Pembelajaran tidak hanya terjadi dari guru ke peserta didik, namun sebaliknya pun demikian".
Terimakasih Sudah Membaca

Artikel Terkait

Latest
Previous
Next Post »

Komentar tanpa moderasi tapi saya akan perhatikan setiap komentar.
I Love your comment EmoticonEmoticon