Masih di dalam pesawat. Aku duduk tak jauh dari sayap, sesekali melirik jam tangan. Pria yang menemaniku berkeliling Gili Trawangan itu sedang menikmati musik melalui TWS-nya.
Pria yang, sama sepertiku, baru saja mengalami perpisahan yang menyakitkan. Kami sama-sama menjadikan perjalanan ini sebagai pelarian.
Tak terasa, pertemuan kami akan berakhir dalam beberapa jam lagi.
"Apakah kami akan benar-benar bertemu lagi?" batinku sambil menarik napas panjang.
*
"Penumpang tujuan Lombok dipersilakan melakukan boarding melalui Gate 26."
Suara seorang petugas terdengar melalui pengeras suara Bandara Soekarno-Hatta siang itu. "Ah, nekat sekali aku."
Sambil menyampirkan tas kecil di depan dada, aku menarik napas dalam-dalam, berusaha meyakinkan diri bahwa keputusan membeli tiket ke Lombok seminggu setelah membatalkan seluruh persiapan pernikahanku adalah keputusan yang tepat.
Koper sudah masuk bagasi. Seluruh biaya pelarian ini sudah kubayar uang mukanya. Pihak hotel bahkan sudah kuminta menjemputku tiga puluh menit setelah pesawat mendarat.
Jadi... rasanya sudah terlambat untuk membatalkan semuanya, bukan?
Baiklah. Lanjutkan saja. Toh aku juga tidak ingin kehilangan cuma-cuma sisa uang muka yang baru saja dikembalikan oleh vendor katering.
Aku duduk di kursi 15C, sisi lorong. Kursi tengah dan kursi dekat jendela masih kosong. Meskipun sedang musim liburan, diam-diam aku berharap kedua kursi itu tetap tidak terisi.
Harapan itu pupus.
Dua penumpang terakhir memasuki kabin, dan salah satunya duduk di kursi 15A. Untungnya, kursi di antara kami tetap kosong.
Pria itu bertubuh cukup tinggi dengan jenggot tipis. Ia memiliki lesung pipi di sisi kiri wajahnya. Kacamata minusnya berubah gelap terkena sinar matahari. Senyumnya... cukup menarik.
Setelah saling melempar senyum canggung, aku berdiri mempersilahkannya masuk ke kursinya.
"Terima kasih."
Ia membalas dengan senyum yang membuat lesung pipinya semakin jelas.
Setelah beberapa sapaan dan basa-basi singkat, aku mengenakan TWS lalu melanjutkan film Netflix yang sudah kuunduh sebelum berangkat.
*
Destinasi pertama pelarian ini adalah Mandalika.
Travel yang kupilih menjadikan kegiatan berkendara mengelilingi Sirkuit Mandalika sebagai daya tarik utama. Karena ini adalah open trip, aku akan bergabung dengan peserta lain.
Di luar dugaan, pria berlesung pipi itu ternyata ikut dalam rombongan yang sama.
Ia juga datang sendirian.
Karena setiap motor harus diisi dua orang, kami akhirnya dipasangkan dalam satu kendaraan.
"Hai, kayaknya kita satu pesawat, ya?" katanya setelah kami menyelesaikan dua putaran di kawasan Mandalika.
"Iya, kayaknya. Aku ingat lesung pipi sama kacamatamu yang menghitam."
"Cukup detail juga, ya, ngamatinnya."
Aku hanya tertawa kecil.
"Kita belum kenalan. Gue Juan. Nama lu siapa?"
"Aku Dewi."
"Sendirian juga?"
"Iya."
Juan mengangguk.
"Sama. Namanya juga lagi pelarian, Dew. Mana sempat ngajak orang. Aku baru booking pesawat sama open trip ini tiga hari yang lalu. Untung masih kebagian."
Aku tersenyum.
"Berarti kita bakal terjebak bareng beberapa hari. Semoga kamu orang yang menyenangkan."
Begitu kalimat itu keluar, aku langsung menyesal. Bagaimana kalau justru aku yang membosankan? Yah, sudahlah. Semoga saja pelarian ini memang keputusan yang tepat.
*
Hari kedua kami mengunjungi pulau-pulau kecil di sekitar Lombok yang lebih dikenal sebagai Gili.
Pemandangannya luar biasa. Air lautnya begitu jernih. Dari bening kehijauan di bibir pantai hingga biru tua ketika semakin menjauh ke tengah laut.
Agenda pertama hari itu adalah snorkeling. Terumbu karangnya masih sangat terawat. Ikan-ikan berwarna-warni berenang di sekeliling kami, dan untuk pertama kalinya aku melihat penyu berenang bebas di laut dangkal.
Pemandangan yang sulit dilupakan.
Andai saja aku sempat belajar berenang dengan baik sebelum berangkat, tentu aku tidak akan terlalu merepotkan Juan. Namun, kalau boleh jujur... aku justru bersyukur tidak melakukannya.
Beberapa kali aku kehilangan keseimbangan di dalam air. Setiap kali itu terjadi, Juan sigap menggenggam tanganku. Ia menemaniku menyelam, memastikan aku tetap tenang ketika mulai panik. Entah mengapa, sentuhan sederhana itu membuatku merasa aman.
Padahal kami baru saling mengenal beberapa hari. Aku berharap waktu berjalan sedikit lebih lambat.
*
Kalau dipikir-pikir, Gili Trawangan mengingatkanku pada Bali.
Banyak wisatawan mancanegara memenuhi jalanan dan pantainya. Sebagian mengenakan pakaian yang mungkin terasa terlalu terbuka menurutku.
Aku sempat melirik Juan. Apakah pemandangan seperti itu menarik baginya?
Entahlah.
Kami memilih menyewa sepeda listrik untuk berkeliling pulau. Juan yang mengemudi. Aku duduk di belakang. Angin laut berembus pelan sepanjang perjalanan. Baru kusadari, parfum yang dipakainya harum sekali. Harum yang diam-diam ingin terus kuhirup.
Semoga saja dia tidak menyadarinya.
*
Dan tibalah bagian paling menyebalkan dari setiap liburan. Pulang.
Masih ada Juan di sebelahku. Kami bahkan memiliki jadwal penerbangan pulang yang sama. Seandainya aku tidak bertemu dengannya, mungkin perjalanan ini hanya akan menjadi pelarian biasa.
Namun kini rasanya berbeda.
Tak terasa, pertemuan kami akan berakhir dalam hitungan jam.
"Apakah kami akan benar-benar bertemu lagi?" batinku sambil menarik napas panjang.
Kami sama-sama datang ke Lombok dengan hati yang retak. Apakah jika kami tidak mengalami perpisahan itu, rasa nyaman ini tetap akan muncul? Kalau tidak ada perpisahan sebelumnya tentu kami tidak akan ke Lombok. Perpisahan lah yang menjadi alasan kami ke Lombok, kan?
Atau aku hanya sedang mencari tempat untuk bersandar?
Aku tidak tahu.
Yang kutahu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak lagi merasa sendirian.
Semoga saja, jika memang takdir mengizinkan, aku dan Juan bisa berjalan ke arah yang sama.
Kalau tidak...
Setidaknya, Lombok pernah mempertemukan dua orang yang sama-sama sedang belajar pulih.

Komentar tanpa moderasi tapi saya akan perhatikan setiap komentar.
I Love your comment EmoticonEmoticon