Barangkali, Kisah Ini Tak Semestinya Ada

2/13/2026 0


"Kamu ga mikirin orang-orang rumah,
Dew?" ucap Riki memecah keheningan. Mereka berdua diam canggung cukup lama. Dewi dan Riki  berada di Pantry kantornya siang ini.

***

Riki sedang membuat kopi keduanya hari ini. Setelah merasa cukup dengan adukannya. Riki meletakan sendoknya ke sink. Lalu beranjak untuk kembali ke workstation. Namun Dewi datang, menghentikannya untuk keluar.

"Hai" sapa wanita anak satu itu ceria.

"Hai, Dew" jawab Riki menghindari kontak mata. Namun tetap berusaha untuk tersenyum.

"Nanti pulang bareng yuks!" ajak wanita dengan tinggi 155cm itu sambil tersenyum lebar dan memiringkan wajahnya.

"Aku hari ini enggak bawa motor Dew"

"Kok tumben gabawa Rik. Padahal aku pengen ajak kamu ke tempat ngopi yang baru aku tau semalem."

"Lain kali aja ya." kali ini Riki melangkah meninggalkan ruangan pantry ini.

***

Riki masih ingat betul saat Dewi baru masuk ke perusahan percetakan ini, beberapa bulan yang lalu. Saat itu Senin pagi, seperti tempat percetakan pada umumnya, Senin pagi selalu tampak sibuk karena menyiapkan alat-alat yang sempat libur 2 hari, merekap pesanan yang masuk selama akhir pekan, atau memastikan barang yang akan dikirim hari ini masuk ke dalam kendaraan berplat sesuai tanggal hari itu.

Riki adalah seorang yang memastikan barang-barang yang sudah siap kirim, naik ke kendaraan yang benar serta memastikan pula bahwa supir yang membawa mengetahui harus dibawa kemana dan diserahkan ke siapa barangnya. Setelah kendaraan pertama meninggalkan parkiran  kantor, Pak Bos (begitu anak buah memanggilnya) mengantarkan Dewi ke Riki. 

"Riki ini Dewi, staf admin. Kamu kasih tau dia mesti ngapain ya. Saya mau sarapan dulu. Dirumah dikasih sayur lontong doang. Mana kenyang saya." Sesumbar Pak Bos langsung meninggalkan mereka di parkiran perusahan percetakan. 

Kala itu Dewi datang dengan baju berwarna biru telur asin serta jilbab persegi dengan warna serupa. Ia tampak seperti wanita yang baru lulus kuliah. Dewi bertingkah kikuk saat itu.

"Hai namaku Riki. Salam kenal ya Dewi. Hari ini kamu bisa bantuin aku jawab chat-chat customer yang masuk selama akhir pekan ya. Aku mau ngasih tau supir satu lagi tujuan dia kemana" Riki menjelaskan tugas pertama Dewi hari ini. Sambil mengarahkan Dewi ke komputer yang bisa digunakan untuk membuka chat yang dimaksud.

Setelah kejadian itu, Dewi dan Riki hanya berbicara sewajarnya saja. Kadang hanya bertemu di alat absensi karyawan. Karena dalam keseharian Dewi lebih sering berinteraksi langsung dengan Pak Bos. Sesekali mereka bertemu di pantry atau perjalanan menuju toilet.

Namun semua jarak itu seolah luruh sejak perusahaan percetakan mereka mengadakan jalan-jalan bersama sesama karyawan. Kala itu sehari setelah pemilu, usaha percetakan biasanya sedang sepi orderan. Pak Bos mengajak para karyawan untuk berkunjung ke pulau di pesisir jakarta.

Mereka menaiki kapal kecil bersama. Dewi duduk disebelah Riki. Dewi ternyata takut laut. Dia sesekali mengenggam tangan Riki tanpa malu-malu. Kadang sampai memeluk. Adegan di kapal itu membuat suasana mereka menjadi lebih cair. Selama liburan 2 hari di pulau itu, Riki dan Dewi jadi sering berbicara bersama.

Beberapa waktu setelah liburan itu Riki dan Dewi jadi semakin intens berinteraksi. Awalnya karena Riki suka ngopi di pantry dan bertemu dengan Dewi yang kebetulan juga suka ngopi. Lalu mereka suka mencari restoran yang menarik. Atau sekadar berkeliling bersama menaiki sepeda motor.

Namun, sabtu kemarin Riki tak sengaja melihat Dewi sedang bermain di playground di mall pusat kota. Awalnya Riki mengira Dewi sedang mengasuh keponakannya. Namun, tak lama ada pria dengan badan tegak yang menghampiri mereka. Awalnya si anak menghampiri pria itu, lalu  pria itu mengendongnya. Kemudian Dewi juga ikut menghampiri, kening Dewi dikecup oleh pria itu. Yang disambut oleh Dewi dengan merangkul pinggangnya.

Kala itu Riki masih mencoba denail dengan yang dia lihat. 

"Kayaknya sodara kok" batinnya 

"Tapi emang wajar ya kayak gitu?"

"Kalau memang Dewi sudah nikah. Apakah gue menjadi perusak rumah tangga orang lain? Cowok macem apa guee?"

"Gue itu udah nyaman banget sama Dewi. Sampe bego banget enggak background checking. Masaaa udah nikah perusahaan gatau? Pasti tau dong. Dan gue kok bodoh banget ga mencoba mencari tau. Apa anak-anak juga enggak ada yang tahu status perwakinan Dewi? Mereka pasti tau dong kalau gue lagi deket banget sama Dewi. Kalau mereka tau Dewi sudah nikah pasti mereka ingetin gue."

"Ah gak habis pikir banget. Kok ada perempuan kayak Dewi yang begitu ke suaminya? Apalagi dia punya anak perempuan. Apa dia enggak takut hal begini menimpah anaknya nanti?"

Banyak pertanyaan yang muncul dibenak Riki saat ini. Dan lebih banyak lagi umpatan yang Ia batinkan. Sebagian mengumpat Dewi. Tapi lebih banyak ke dirinya sendiri. Bahwa dia tidak mengecek dulu jati diri Dewi sebelum melanjutkan kedekatan mereka. 

Wajah Riki merah padam saat itu. Begitu banyak gejolak yang berkecamuk di dirinya. Apa yang selanjutnya dia lakukan? Apa dia minta penjelasan Dewi? Buat apa? Yang dia lihat sudah lebih cukup menjelaskan semua. Sialnya Riki lupa pada hari pertama gabung apakah Dewi menggunakan cicin di jari manisnya? 

Kalau setelah mereka dekat, Riki cukup yakin tidak ada cicin nikah di sana. Karena sejak kencan ketiga mereka sudah saling bergandengan tangan. Tentu dia akan merasakan cincin itu jika memang ada. Tapi apakah benaran tidak ada? Riki jadi makin ragu sekarang. 

***

"Haiii aku lagi ngomong sama kamu tau. Kok main keluar aja?" Ujar Dewi manja sambil meraih tangan Riki. 

"Ini Pak Yanto ngechat. Katanya nomor yang aku kasih enggak diangkat angkat. Dia udah setengah jam keliling alamat itu. Aku mau nelpon pakai nomor kantor." Kata Riki. 

Wajahnya langsung merah padam. Dia masih ingat kejadian 2 hari yang lalu di mall itu. Langkah dan gelagaknya sangat kaku. Dewi menjadi curiga. 

"Hei kamu kenapa Rik?" Sekali lagi Dewi memiringkan wajahnya. Ah Riki sangat menyukai jika Dewi melakukan itu.

Riki tidak menjawab apa apa. Dia membiarkan suasana dingin tercipta. Dinginnya menular sampai membuat kopi yang Riki buat seperti ditambahkan es batu. 

Dewi menarik Riki untuk duduk di kursi yang tak jauh dari mereka.

"Kamu kenapa? Cerita sama aku." Jawab wanita yang dua hari lalu Riki liat dikecup kening nya oleh pria tegak itu. 

"Kalau ada masalah bilang Rik. Bukan diem aja."

Suasana kembali hening. Detik jarum jam dari ruangan sebelah terdengar jelas. 

"Kamu ga mikirin orang-orang rumah, Dew?" ucap Riki memecah keheningan. Mereka berdua diam canggung cukup lama. 

"Maksud kamu apa?"

"Aku ngelihat kamu di playground hari sabtu kemarin. Lengkap dengan adegan kecup kening. Aku juga tadi pagi udah cek biodata kamu di database kantor. Kamu udah nikah Dew. Aku enggak bisa dan enggak mau jadi perusak pernikahan orang Dew."

Kali ini gelagak Dewi yang berubah total. Wajahnya menjadi pucat pasi. Kepanikan menjalar dari ujung kaki hingga kepala. Riki melihat dengan jelas perubahan wajah wanita anak satu itu. 

Hening yang canggung menjalar di pantry kecil itu. Pak Bos yang datang sambil bersenandung  menghentikan gerakannya di depan pintu. Dia merasakan suasana itu setelah bersetatap dengan keduanya. 

Pak Bos memilih kembali ke tempat awal di datang. Tanpa mengucapkan apapun. Tak ingin menghancurkan suasana apapun yang sedang terjadi di pantry nya. 

"Kamu fokus urusin gadis cilik dan suami kamu aja Dew. Biarin aku ngurusin diri aku sendiri"

Kali ini Riki benar-benar meninggalkan Dewi termenung di ruangan dengan banyak piring dan sendok kotor di sink nya. 

"Ini yang terbaik yang bisa gue lakukan" batin Riki sambil meraih telpon kantor tak jauh dari meja kerjanya. 

Ucapan Selamat Tinggal Kepala Sekolah

12/08/2025 0



Terima kasih.
Itu mungkin kata paling sederhana, tapi juga paling kuat untuk menggambarkan tujuh tahun mengenal Pak Kepala. Namun, rasanya terlalu singkat jika hanya berhenti di kata itu. Maka, izinkan saya merangkai kenangan agar perjalanan tujuh tahun ini terasa lebih istimewa.

Saya masih ingat jelas, pertengahan musim hujan tahun 2018. Aula Dewi Sartika menjadi saksi pertemuan pertama kita. Saat itu, bapak menyapa dengan kalimat yang sederhana namun membekas:
“Pak Dicky, ya?”

Sejak momen itu, saya baru sadar bahwa bapaklah sosok yang selama ini sabar membalas pesan WhatsApp saya menjelang hari penting itu. Maafkan ya, Pak, atas segala kerepotan yang saya timbulkan. 🙏😁

Lalu, kenangan melompat ke beberapa bulan sebelum pandemi Covid-19. Saat itu, saya menghadapi keluhan besar dari orang tua murid—tantangan pertama yang membuat saya benar-benar panik. Orang tua datang langsung, menyampaikan kekecewaan tanpa ragu. Namun bapak tetap tenang, mendengarkan dengan penuh kesabaran, lalu menjawab dengan pengetahuan dan pengalaman yang luas. Saya tidak pernah lupa kalimat bapak setelah sesi panjang itu:
“Tenang aja, Dik. Semua ini pasti selesai kok.”

Kalimat sederhana, tapi mampu meredakan ketakutan saya. Sejak saat itu, saya melihat Pak Kepala bukan hanya sebagai pemimpin sekolah, tapi sebagai sosok bijaksana yang jauh melampaui pengalaman saya dengan kepala sekolah lain. Saya yakin, jika bukan bapak yang memimpin, kisah saya di sekolah ini mungkin akan berbeda.

Tentu, ada banyak momen pendisiplinan. Sesi di ruang kepala sekolah yang membuat saya merasa kurang disiplin, teguran yang kadang terasa berat, hingga cerita legendaris tentang “nasi goreng akreditasi.” Semua itu, pada akhirnya, membentuk saya menjadi guru yang lebih baik. Terima kasih, Pak, sudah bersusah payah mendidik saya dengan cara yang kadang keras, tapi selalu penuh makna.

Di balik semua itu, ada begitu banyak kenangan hebat bersama bapak. Kenangan yang mungkin tidak selalu saya ceritakan, tapi tetap tersimpan rapi di hati. Dan hari ini, saya ingin menuliskannya agar tidak hanya menjadi ingatan, melainkan juga sebuah penghargaan untuk perjalanan tujuh tahun yang luar biasa.

Saya masih ingat, pernah berangkat bersama delapan orang teman. Empat motor melaju beriringan, masing-masing berboncengan dua. Saat jam makan siang, bapak sempat melihat rombongan itu lewat. Tentu bapak tahu siapa saja yang ada di sana. Namun, beberapa saat kemudian, saat rapat berlangsung, hanya nama saya yang disebut dengan pesan singkat penuh makna:
“Kalau jam makan siang, anak kelasnya jangan ditinggal ya.”

Ada juga kisah lain yang tak kalah lucu. Suatu hari saya salah mengenakan celana pramuka. Warnanya memang coklat, tapi tidak segelap coklat khas seragam pramuka. Tak lama kemudian, bapak mengunggah foto bersama pengurus pramuka di grup, lengkap dengan caption:
“Berikut contoh penggunaan seragam pramuka yang benar.”

Ah, kisah-kisah kecil itu ternyata cara bapak mendisiplinkan saya. Teguran yang sederhana, kadang terasa menggelitik, tapi justru meninggalkan kenangan yang hangat. Kini, jika saya mengingatnya kembali, rasanya seperti potongan cerita yang membentuk perjalanan saya—bahwa setiap detail, bahkan yang tampak sepele, punya arti besar dalam mendidik dan menempa saya.


Pengelolaan Program yang Berdampak positif pada Murid

3/18/2024 0



Melalui modul 3.3 ini, saya memahami bahwa tugas guru bukan hanya sekedar memberikan materi kepada murid, tapi bagaimana seorang guru mampu menggali, merancang, menemukan setiap potensi dari setiap murid dikelasnya, kelas yang tercipta harus menyenangkan. Serta menjadi guru pengerak sejatinya tidak dapat mengeluh, karena tiap kekurangan seorang guru penggerak harus bisa menemukan kelebihannya. Melalui "student agency" murid menjadi mampu mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, membuat pilihan-pilihan, menyuarakan opini, mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan rasa ingin tahu, berpartisipasi dan berkontribusi pada komunitas belajar, mengkomunikasikan pemahaman mereka kepada orang lain, dan melakukan tindakan nyata sebagai hasil proses belajarnya.

Dalam menjalankan Filosofi Ki Hajar Dewantara yakni Berpihak pada Murid salah satu tujuannya adalah Merdeka belajar, yang serangkaian proses yang menjadikan murid sebagai aktor pembelajaran, karena sejatinya murid memiliki kemampuan atau kapasitas untuk mengambil bagian atau peranan dalam proses belajar mereka sendiri. Guru sejatinya menumbuhkan kepemimpinan murid, sehingga murid memiliki suara (voice), pilihan (choice) dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembeajarannya. Kita sebagai guru harus menfasilitasi murid dengan membangun lingkungan yang dapat menumbuhkan kepemimpinan murid. Melalui student agency ini maka akan mewujudkan profil pelajar Pancasila. Peran keterlibatan komunitas juga harus dibangun agar dapat menumbuhkembangkan kepemimpinan murid di sekolah.

Kaitan modul 3.3 dengan seluruh modul yang sudah saya pelajari sejak tahun lalu yakni bahwa guru penggerak harusnya memulai segala sesuatunya dari dalam diri hal tersebut dimana hal tersebut tercantum dalam serangkaian modul 1 yakni Filosofi KHD, Nilai dan Peran Guru Pengerak, Visi Guru Pengerak, dan Budaya Positif. Dimana diakhir modul 1 diharapkan seorang guru pengerak tergerak untuk menjalankan Pendidikan yang berpihak dan berdampak pada murid. Tentu untuk tergerak guru pengerak harus memahami bahwa Prakarsa perubahan dapat dilakukan melalui tahapan BAGJA (Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, dan Atur Eksekusi) agar tiap perubahan dirasa tidak memberatkan seorang guru pengerak.

Lalu pada serangkaian modul 2 yakni Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi, Pembelajaran Sosial Emosional dengan menghadirkan kesadaran penuh murid, dan Coaching untuk Supervisi akademik harapannya guru pengerak dapat mulai bergerak untuk menjalankan Pendidikan yang berpihak pada murid atau dengan kata lain memerdekakan murid dalam belajar.

Lalu pada rangkaian modul 3 agar dapat menggerakan dilingkungan sekolahnya maka guru pengerak membutuhkan sebuah pemahaman bahwa kepemimpinan adalah mencakup segala aspek yakni  Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, dan Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid. Bahwa sebagai pemimpin pembelajaran guru penggerak harusnya dapat mengerakkan murid, dan orang disekitarnya dengan memanfaatkan aset, dan pengolahnya lagi lagi untuk Pendidikan yang berdampak positif bagi muridnya.

Tentu dalam praktiknya, guru melibatkan murid dalam penyusunan program melalui tahapan BAGJA, pelaksanaanya melibatkan murid secara penuh dan dievaluasi melalui 9 langkah pengujian dalam pengambilan keputusan.


Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan

2/02/2024 0


Pertanyaan Pertama 

Beban dan amanah kepemimpinan adalah mengimbangi semua prioritas yang terpenting. Tugas saya dalam pendidikan adalah melakukan yang terbaik.  Apa yang diinginkan kadang-kadang belum tentu  itu yang terbaik. Dan untuk membuat perubahan, apalagi perubahan yang transformational, pasti ada kritik.  Sebelum mengambil keputusan, tanyakan, apakah yang kita lakukan berdampak pada peningkatan pembelajaran murid? (Nadiem Makarim, 2020)
Maksud yang saya pahami dari Pak Mentri Nadiem Makarim adalah bagaimanapun proses dalam seluruh satuan pendidikan adalah "apakah yang kita lakukan berdampak pada peningkatan pembelajaran murid?" sehingga sangat jelas bahwasanya dalam pendidikan harus memprioritaskan atau menitik beratkan pada kebutuhan murid sehingga kita berhasil memfasilitasi sang aktor dalam mengembangkan dirinya melalui pendidikan. Dan dalam prosesnya tentu kita akan menemukan segala sesuatu yang terkadang menghambat namun harus dapat diselesaikan secara persuasif. 

Berikut tanggapan lain yang bagi saya menjawab secara utuh.












Teks dalam gambar:
Dalam menghadapi dilema antara dua Kepentingan yang sama-sama benar memang sulit , menurut pendapat saya caranya adalah : yang pertama harus mengedepankan kepentingan murid yang kedua harus berpedoman pada nilai-nilai kebajikan yang ketiga memerlukan banyak pertimbangan, kesabaran ,kehati-hatian, dan harus dengan pikiran yang jernih.Yang keempat Kalau perlu melibatkan orang lain untuk diajak berdiskusi. Sebab salah dalam mengambil keputusan akan berakibat masalah yang baru dan biasanya lebih rumit untuk diselesaikan.

Pertanyaan Kedua

Bagaimana cara Anda (sebagai kepala sekolah) dalam menentukan buku yang akan dipakai. Anda mendatangkan beberapa penerbit, dan setiap penerbit menjanjikan 'komisi' untuk Anda sebagai kepala sekolah jika memilih buku terbitan mereka. Pihak Yayasan/Manajemen Sekolah memanggil Anda untuk mengetahui prosedur dan praktik pemesanan buku-buku tahun ajaran baru di sekolah selama ini. Apa yang Anda katakan?

Seluruh rangkaian jelas, bahwa penerbit datang sekolah memberikan sample yang akan dianalisis oleh tim guru. Guru tidak akan diberikan intervensi harus memilih yang mana yang memberi komisi terbesar untuk sekolah sehingga penilaian yang diberikan murni atas konten buku yang dianalisi. Untuk komisi yang dijanjikan tentu dapat dibelanja lagi untuk mengikutkan guru ke dalam pelatihan-pelatihan yang mengembangkan dirinya dalam mengajar. Saya rasa proses tersebut menjadi win-win solution. 

Pertanyaan Ketiga

Bagaimana situasi di lingkungan Anda sendiri, adakah nilai-nilai kebajikan yang dijunjung tinggi di tempat Anda bekerja, atau tinggal? Ceritakan pengalaman Anda Anda bagaimana nilai-nilai kebajikan tersebut telah membentuk diri Anda terutama dalam mengambil suatu keputusan?

Di tempat saya bekerja, sebagai seorang guru harus selalu menjunjung tinggi 4 kompetensi guru (pedagogis,kepribadian, sosial dan profesional). Saya bekerja dilingkungan yang sangat menjunjung tinggi belajar sepanjang hayat, yakni saya harus selalu menyegarkan pengetahuan saya atas pedagogis melalui komunitas belajar pekan yang saling berbagi dan menguatkan dalam menghadapi murid dikelas, seminar pendidikan oleh tokoh pendidikan tiap tahun ajaran baru, dan kegiatan pendukung lainnya. 
Saya juga dilatih untuk menjadi pribadi yang dapat dicontoh oleh murid, sebagai suri tauladan yang dapat murid ceritakan dengan bangga kepada orang tuanya. Saya juga dibiasakan menjadi pribadi yang tidak anti kritik setiap komunitas belajar, bahwa gagasan saya tidak selalu benar, dan gagasan orang lain tidak selalu salah. Di sekolah yang sudah besar ini juga dituntut menjadi pendidik yang profesional dengan mengikuti segala program yang mengembangkan diri pengajar seperti Pendidikan Profesi Guru, Pendidikan Guru Pengerak, Penulisan Modul Ajar, Penulisan Jurnal, dan Pengunaan LMS sebagai media pendukung pembelajaran.

Pertanyaan Keempat

Apakah Anda pernah mengalami atau melihat suatu pengambilan keputusan serupa studi kasus yang ditanyakan di atas, di mana ada dua kepentingan saling berbenturan? Ceritakan bagaimana pengalaman Anda sendiri di sekolah asal Anda. Apa yang Anda lakukan pada waktu itu, mengapa?

Masih jelas diingatan saya kejadian 4 tahun yang lalu. Ketika ada seorang murid laki-laki yang menganggu murid perempuan hingga melukai. Sang Ayah tidak terima atas perlakuan teman anaknya, Ia meminta pertemuan antara saya dan kepala sekolah atas kejadian tersebut.

Awalnya ayah murid perempuan tadi sangat tidak terima, karena ini bukanlah pertama kali murid laki-laki tersebut melakukan hal tersebut kepada anaknya. Sang ayah sangat menginginkan anak tersebut dikeluarkan karena sudah cukup mengganggu banyak pihak termasuk anaknya.

Setelah laporan tersebut diterima, sekolah kami memanggil orang tua dari murid laki-laki tersebut. Dalam pembelaannya, Ia menyadari bahwa anaknya salah namun menurutnya masih dalam batas wajar, karena toh anak perempuan tersebut tidak terluka. Kami tidak mempertemukan kedua orang tua tersebut karena menghindari percecokan yang lebih panjang. Kami menjanjikan akan memfasilitasi murid laki-laki tersebut kegiatan konseling oleh Guru Bimbingan dan Konseling secara rutin, perlahan sikap murid tersebut berubah khususnya interaksi dengan murid perempuan menjadi lebih berhati-hati.

Pertanyaan Kelima

Pernahkah Anda setelah mengambil suatu keputusan, bertanya pada diri sendiri, "Apakah keputusan yang Anda ambil adalah keputusan yang tepat?" "Apakah seharusnya saya mengambil keputusan yang lain?" Kira-kira apa yang membuat Anda mempunyai pemikiran seperti itu? 

Terkadang pertanyaan seperti itu muncul jika output yang didapat tidak seperti yang diharapkan. Namun saya meyakinkan diri bahwa output tersebut tidaklah instan sehingga saya hanya perlu menunggu agar perlahan hasilnya tampak. 

Pertanyaan Keenam

Pertanyaan-pertanyaan apa yang ingin Anda tanyakan pada sesi Pengambilan Keputusan berbasis Pemimpin Pembelajaran ini? Apa yang selama ini menjadi tantangan bagi Anda dalam mengambil suatu keputusan sebagai pemimpin pembelajaran?

Pertanyaan Paling dilematis dalam penentuan keputusan baik tingkat sekolah maupun tingkat kelas adalah "Apakah saya harus mementingkan kepentingan mayoritas (banyak orang) dibanting etika?" Karena keputusan itu harus dapat diterima oleh semua orang, namun ada batas 'etik' minor yang ditabrak agar dapat diterima oleh semua orang.

 

Coaching Untuk Supervisi Akademik

11/22/2023 0



Selama menjadi guru, tentunya pembelajaran Anda pernah diobservasi atau disupervisi oleh kepala sekolah Anda. Bagaimana perasaan Anda ketika diobservasi?

Perasaan yang muncul tiap kali jadwal supervisi keluar adalah gelisah dan panik dikarenakan ada rasa takut terlihat gagal, takut tampak seperti guru yang tidak profesional, atau perasaan menakutkan lainnya. Perasaan tidak nyaman itu muncul terus sampai supervisi selesai.

Ceritakan pengalaman Anda saat observasi dan pasca kegiatan observasi tersebut.

Selain cemas, pengalaman yang paling berkesan adalah saat kepala sekolah mengapresiasi bahkan yang bagi saya pribadi hal tersebut tidak perlu dibanggakan. Selain itu dengan di observasi maka saat mendapatkan apa yang kurang sehingga perlu diperbaiki, dan apa yang bagus untuk terus dipertahankan

Menurut Anda, bagaimanakah proses supervisi akademik yang ideal yang dapat membantu diri Anda berkembang sebagai seorang pendidik?

Dilaksanakan secara sistemik, artinya format yang di supervisi jelas, mana yang perlu diperhatikan selama supervisi, dan kehadiran penuh sang supervisior. Lalu dialog paska supervisi yang berisi apapun yang bisa di apresiasi dari pihak yang diamati dan kritik serta saran yang dapat mengembangkan nilai profesionalisme pengajar.

Menurut Anda, jika Anda saat ini menjadi seorang kepala sekolah yang perlu melakukan supervisi, dimana posisi Anda sehubungan dengan gambaran ideal di atas dari skala 1 s/d 10? Situasi belum ideal 1 dan situasi ideal 10.

Sekitar 6 dari 10

Aspek apa saja yang Anda butuhkan untuk dapat mencapai situasi ideal itu?

Kemampuan mengapresiasi orang lain dalam segala kondisi dengan membangun kalimat yang efektif

Apa saja harapan yang ingin Anda lihat pada diri Anda sebagai seorang pendidik setelah mempelajari modul ini? Menjadi pihak yang dapat mengapresiasi dan mengamati dengan maksimal

Apa saja kegiatan, materi, manfaat yang Anda harapkan ada dalam modul ini? teknik supervisi yang baik. Menjadi supervisior yang tidak menakutkan kehadirannya namun tetap dihormati

Bagaimana peran Anda sebagai seorang coach di sekolah dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya di paket modul 2 yaitu pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosi?

Sebagai seorang coach kita harus dapat memahami jawaban coachee yang sedang di coaching agar prosesnya berjalan maksimal. Kapan harus memberikan pernyataan yang menaikan harga diri dan kapan waktu yang tepat memberikan pertanyaan terbuka agar coachee dapat mengekplor agar dapat menyelesaikan masalahnya.

Dengan PSE kita diajarkan untuk memperhatikan Sosial Emosional itu sangat penting dan Pembelajaran Diferensiasi terdapat pemahaman bahwa harus terjadi perbedaan tindakan coach dalam coaching tiap coachee yang berbeda.

Bagaimana keterkaitan keterampilan coaching dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin  pembelajaran?

Dalam proses coaching sangat erat kaitannya dengan filosofi KHD yang berpihak pada murid yakni Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara guru dan murid. Murid diberikan ruang kebebasan untuk menemukan kekuatan dirinya dan peran pendidik sebagai pamong dalam memberi tuntunan dan memberdayakan potensi agar murid tidak kehilangan arah.

REFLEKSI DIRI

Dalam proses coaching sangat erat kaitannya dengan filosofi KHD yang berpihak pada murid yakni Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara guru dan murid. Murid diberikan ruang kebebasan untuk menemukan kekuatan dirinya dan peran pendidik sebagai pamong dalam memberi tuntunan dan memberdayakan potensi agar murid tidak kehilangan arah.

Dalam penerapannya saya dihadapi anggapan oleh murid bahwa sebagai guru kurang memahami pembelajaran karena semua kembali lagi ditanyakan kepada murid, sebagai seorang guru tentu hal tersebut menyakiti hati. Namun tentu dalam setiap perubahan ada ketidaknyamanan. Namun guru hanya perlu membiasakan untuk juga melakukan coaching kepada murid agar tergali potensi maksimal tiap murid. 

Saya sudah memahami bahwa di kurikulum ini pendidikan harus berpihak pada murid dan tiap modulnya saya diberikan cara atau langkah agar semakin atuh berpihak pada murid.


Pembelajaran Sosial Emosional

11/17/2023 0



Apa kesimpulan tentang perubahan pengetahuan, keterampilan, sikap sebagai pemimpin pembelajaran setelah mempelajari pembelajaran sosial dan emosional?

Bahwa dalam pembelajaran kebutuhan murid untuk merasa dihargai dan sesama murid saling menghargai juga diperhatikan dalam kurikulum merdeka sehingga pendidikan yang berpihak pada murid sangat nyata dalam penerapannya.

Apa kaitan pembelajaran sosial dan emosional yang telah anda pelajari dengan modul-modul sebelumnya?

Dimana pembelajaran ini sangat erat kaitannya dengan proses pembelajaran yang berpihak pada murid sesuai dengan filosfi KHD. Murid sebagai subjek pembelajar yang beragam harus terlayani dengan baik melalui visi misi yang baik pula yang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Pembelajaran ini juga selain menununjang  budaya positif disekolah juga perlu menekankan Keterampilan sosial, regulasi emosi, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan.

Sebelum mempelajari modul ini, 

Saya berpikir bahwa dalam pendidikan kita hanya perlu berfokus pada kemampuan kognitif anak, sehingga menjadikan anak sebagai objek dalam pendidikan setelah melalui pembelajaran modul 2.2 saya sadar bahwa pendikan bukannya hanya kognitif saja namun Sosial Emosionalpun perlu diperhatikan sehingga anak semakin nyaman dan merdeka dalam menjalankan tugasnya sebagai aktor pembelajar

Setelah mempelajari modul ini, 

Ternyata pendidikan memandang penting sosial emosional demi memfasilitasi kebutuhan murid untuk dihargai keberadaannya.

Berkaitan dengan kebutuhan belajar

Dan lingkungan yang aman dan nyaman untuk memfasilitasi seluruh individu di sekolah agar dapat meningkatkan kompetensi akademik maupun kesejahteraan psikologis (well-being),  3 hal mendasar dan penting yang saya pelajari adalah anak nyaman, anak belajar, sukses pendidikannya

Perubahan yang akan saya terapkan di  kelas dan sekolah

Bagi murid-murid:

Bertanya tiap pagi bagaimana harinya, mengajak untuk beramal dan beribadah sebagai wujud syukur kepada Tuhan YME, serta membiasakan murid mengalami pembelajaran yang memaksa mereka untuk bertukar pikiran

Bagi rekan sejawat: 

Menularkan budaya-budaya yang perlahan saya ubah menjadi lebih baik melalui komunitas belajar