Hai, namaku Dewi Mustafa. Aku sedang antri untuk menaiki kendaraan umum andalan warga sekitar ibu kota. Ya KRL. Keretaku dijadwal akan datang sekitar 10 menit lagi. Jadi sembari menunggu aku ingin bercerita kepadamu.
Mungkin ceritanya akan membosankan, atau menarik. Aku tidak tau, kamu yang bisa memutuskan setelah membaca seluruh ceritanya.
Ceritanya bermula dari 5 bulan yang lalu. Masih di stasiun yang ini, kali itu berangkat kerja. Aku masuk agak siang, jadi nuansa di stasiun ini cukup lengang. Kalau tidak salah sekitar pukul 10 pagi.
Aku baru saja tap in di mesin untuk masuk ke stasiun ini. Aku tak sengaja melihat seorang pria yang cukup berisi sedang asik melihat gawai nya. Tak lama ia juga melihatku. Kami tak sengaja saling tatap cukup lama. Ada rasanya yang aneh di dadaku kala itu. Aku juga bingung. Tapi karena keretaku sedang memasuki area peron, akhirnya aku bergegas antri.
Tak lama, mungkin sebulan kemudian aku bertemu lagi dengan pria itu. Pria itu memandangku, kali ini aku dengan sengaja membuang pandangan karena tidak ingin terlihat gugup. Namun anehnya pria itu datang menghampiriku. Dia bilang "Hai, aku sering melihatmu. Namaku Juan."
Aku bingung harus memberikan reaksi apa kala itu, jadinya yang keluar dari bibirku kurang lebih seperti ini.
"hmm.. ehhh... iyaaa... Emang ya? Kok aku enggak engeh yaa. Aku Dewi, Apa kita pernah ketemu?"
"Iya tadi aku bilang, sering melihat kamu. Wajahnya kayak familiar gitu tiap ketemu, makanya aku samperin aja. Tinggal di daerah sini emang?"
"Iya gajauh dari stasiun rumahku. Ini mau berangkat kerja. Maaf, kok kamu berani banget nyamperin orang asing kayak gini. Jadi takut aku."
"Oiaaa, maaf bukan bermaksud lancang. Mau kenal aja, kayaknya kamu juga naik dan turun di stasiun yang sama. Aku orang baru di sini, tinggal sama budeh. Jadi maksudnya mau cari temen berangkat kerja bareng. Kalau gamau gapapa kok, ngerti banget."
Begitulah pertemuan pertamaku dengan Juan. Rasanya cukup aneh untuk orang asing langsung mengajak berbicara selama itu kan? Itu juga yang aku dan teman teman kantorku bicarakan 3 jam setelah kejadian. Tepatnya saat jam makan siang di kantin karyawan perusahaan tempatku bekerja.
Setelah kejadian aneh itu, Juan dan Aku jadi sering bertemu di stasiun ini. Awalnya kami bertemu di mesin tap in, kadang di gerbong, dia juga pernah memberiku duduk saat pulang kerja setelah tak sengaja melihatku berdiri tak jauh darinya.
Butuh waktu hampir 2 bulan bagi Juan untuk meminta nomorku. Yang langsung kuberikan tanpa ragu saat diminta. Katanya "Kita cuman ketemu di kereta, pengen deh ngeliat kamu enggak dempet dempetan di gerbong, atau muka cape pulang kerja. Kalau boleh, boleh ga aku minta nomor kamu?"
Kujawab cukup centil saat itu "Kok lama benget si baru minta?"
Selang beberapa lama kami jadi sering bertemu di luar stasiun. Awalnya kami ngafe dekat kantorku. Dia naik ojek online ke kantorku, lalu kami berbicara cukup lama di cafe gedung itu. Ah rasanya nyamannya cukup aneh.
Namun setelah dekat sebulan, aku melihat dia sedang bersama seorang anak kecil. Si anak tampak sangat imut, mungkin 3 tahun. Dia bawel sekali, si Juan sampai kelelahan menanggapi cerita pria mungil itu. Ketika melihat mereka, entah kenapa aku merasa cukup kecewa.
Apakah dia sudah berkeluarga? Anak siapakah itu? Kalau dia berkeluarga, kok dia deketin aku? Apakah aku termasuk perebut laki orang? Rasa kecewa yang menjalar ini sangat mengganggu. Aku tidak bisa tidur, apa yang harus aku lakukan?
Setelah kejadian itu, aku tak lagi merespon pesan singkatnya. Tak lagi berangkat dari stasiun itu. Aku sengaja naik ojek online untuk ke satu stasiun setelahnya. Rasa kecewa ini masih belum bisa aku obati, apapun itu aku tidak ingin rasa ini merusak hubungan pernikahan seseorang. Aku tidak ingin jadi perempuan yang jahat.
Ah keretaku datang. Jadi begitulah ceritaku.
Juan duduk di samping ku, dengan pria mungil yang pernah aku lihat dulu.
Bukaaan, aku bukan perebut suami orang.
Ternyata Pria munggil itu bernama Fuad. Dia keponakan Juan. Ibunya sedang sibuk kala pertama kali aku melihatnya dulu, jadi diajaklah Fuad oleh Juan berkeliling menaiki KRL.
Lucu memang, seperti sekarang kami sedang 'momong' Fuad, karena ibunya sedang ada keperluan.
Romantis, ya?
Rasanya seperti sedang test drive jadi suami-istri.
Hihihi
Sampai jumpa.


Komentar tanpa moderasi tapi saya akan perhatikan setiap komentar.
I Love your comment EmoticonEmoticon