"Kamu ga mikirin orang-orang rumah,
Dew?" ucap Riki memecah keheningan. Mereka berdua diam canggung cukup lama. Dewi dan Riki berada di Pantry kantornya siang ini.
***
Riki sedang membuat kopi keduanya hari ini. Setelah merasa cukup dengan adukannya. Riki meletakan sendoknya ke sink. Lalu beranjak untuk kembali ke workstation. Namun Dewi datang, menghentikannya untuk keluar.
"Hai" sapa wanita anak satu itu ceria.
"Hai, Dew" jawab Riki menghindari kontak mata. Namun tetap berusaha untuk tersenyum.
"Nanti pulang bareng yuks!" ajak wanita dengan tinggi 155cm itu sambil tersenyum lebar dan memiringkan wajahnya.
"Aku hari ini enggak bawa motor Dew"
"Kok tumben gabawa Rik. Padahal aku pengen ajak kamu ke tempat ngopi yang baru aku tau semalem."
"Lain kali aja ya." kali ini Riki melangkah meninggalkan ruangan pantry ini.
***
Riki masih ingat betul saat Dewi baru masuk ke perusahan percetakan ini, beberapa bulan yang lalu. Saat itu Senin pagi, seperti tempat percetakan pada umumnya, Senin pagi selalu tampak sibuk karena menyiapkan alat-alat yang sempat libur 2 hari, merekap pesanan yang masuk selama akhir pekan, atau memastikan barang yang akan dikirim hari ini masuk ke dalam kendaraan berplat sesuai tanggal hari itu.
Riki adalah seorang yang memastikan barang-barang yang sudah siap kirim, naik ke kendaraan yang benar serta memastikan pula bahwa supir yang membawa mengetahui harus dibawa kemana dan diserahkan ke siapa barangnya. Setelah kendaraan pertama meninggalkan parkiran kantor, Pak Bos (begitu anak buah memanggilnya) mengantarkan Dewi ke Riki.
"Riki ini Dewi, staf admin. Kamu kasih tau dia mesti ngapain ya. Saya mau sarapan dulu. Dirumah dikasih sayur lontong doang. Mana kenyang saya." Sesumbar Pak Bos langsung meninggalkan mereka di parkiran perusahan percetakan.
Kala itu Dewi datang dengan baju berwarna biru telur asin serta jilbab persegi dengan warna serupa. Ia tampak seperti wanita yang baru lulus kuliah. Dewi bertingkah kikuk saat itu.
"Hai namaku Riki. Salam kenal ya Dewi. Hari ini kamu bisa bantuin aku jawab chat-chat customer yang masuk selama akhir pekan ya. Aku mau ngasih tau supir satu lagi tujuan dia kemana" Riki menjelaskan tugas pertama Dewi hari ini. Sambil mengarahkan Dewi ke komputer yang bisa digunakan untuk membuka chat yang dimaksud.
Setelah kejadian itu, Dewi dan Riki hanya berbicara sewajarnya saja. Kadang hanya bertemu di alat absensi karyawan. Karena dalam keseharian Dewi lebih sering berinteraksi langsung dengan Pak Bos. Sesekali mereka bertemu di pantry atau perjalanan menuju toilet.
Namun semua jarak itu seolah luruh sejak perusahaan percetakan mereka mengadakan jalan-jalan bersama sesama karyawan. Kala itu sehari setelah pemilu, usaha percetakan biasanya sedang sepi orderan. Pak Bos mengajak para karyawan untuk berkunjung ke pulau di pesisir jakarta.
Mereka menaiki kapal kecil bersama. Dewi duduk disebelah Riki. Dewi ternyata takut laut. Dia sesekali mengenggam tangan Riki tanpa malu-malu. Kadang sampai memeluk. Adegan di kapal itu membuat suasana mereka menjadi lebih cair. Selama liburan 2 hari di pulau itu, Riki dan Dewi jadi sering berbicara bersama.
Beberapa waktu setelah liburan itu Riki dan Dewi jadi semakin intens berinteraksi. Awalnya karena Riki suka ngopi di pantry dan bertemu dengan Dewi yang kebetulan juga suka ngopi. Lalu mereka suka mencari restoran yang menarik. Atau sekadar berkeliling bersama menaiki sepeda motor.
Namun, sabtu kemarin Riki tak sengaja melihat Dewi sedang bermain di playground di mall pusat kota. Awalnya Riki mengira Dewi sedang mengasuh keponakannya. Namun, tak lama ada pria dengan badan tegak yang menghampiri mereka. Awalnya si anak menghampiri pria itu, lalu pria itu mengendongnya. Kemudian Dewi juga ikut menghampiri, kening Dewi dikecup oleh pria itu. Yang disambut oleh Dewi dengan merangkul pinggangnya.
Kala itu Riki masih mencoba denail dengan yang dia lihat.
"Kayaknya sodara kok" batinnya
"Tapi emang wajar ya kayak gitu?"
"Kalau memang Dewi sudah nikah. Apakah gue menjadi perusak rumah tangga orang lain? Cowok macem apa guee?"
"Gue itu udah nyaman banget sama Dewi. Sampe bego banget enggak background checking. Masaaa udah nikah perusahaan gatau? Pasti tau dong. Dan gue kok bodoh banget ga mencoba mencari tau. Apa anak-anak juga enggak ada yang tahu status perwakinan Dewi? Mereka pasti tau dong kalau gue lagi deket banget sama Dewi. Kalau mereka tau Dewi sudah nikah pasti mereka ingetin gue."
"Ah gak habis pikir banget. Kok ada perempuan kayak Dewi yang begitu ke suaminya? Apalagi dia punya anak perempuan. Apa dia enggak takut hal begini menimpah anaknya nanti?"
Banyak pertanyaan yang muncul dibenak Riki saat ini. Dan lebih banyak lagi umpatan yang Ia batinkan. Sebagian mengumpat Dewi. Tapi lebih banyak ke dirinya sendiri. Bahwa dia tidak mengecek dulu jati diri Dewi sebelum melanjutkan kedekatan mereka.
Wajah Riki merah padam saat itu. Begitu banyak gejolak yang berkecamuk di dirinya. Apa yang selanjutnya dia lakukan? Apa dia minta penjelasan Dewi? Buat apa? Yang dia lihat sudah lebih cukup menjelaskan semua. Sialnya Riki lupa pada hari pertama gabung apakah Dewi menggunakan cicin di jari manisnya?
Kalau setelah mereka dekat, Riki cukup yakin tidak ada cicin nikah di sana. Karena sejak kencan ketiga mereka sudah saling bergandengan tangan. Tentu dia akan merasakan cincin itu jika memang ada. Tapi apakah benaran tidak ada? Riki jadi makin ragu sekarang.
***
"Haiii aku lagi ngomong sama kamu tau. Kok main keluar aja?" Ujar Dewi manja sambil meraih tangan Riki.
"Ini Pak Yanto ngechat. Katanya nomor yang aku kasih enggak diangkat angkat. Dia udah setengah jam keliling alamat itu. Aku mau nelpon pakai nomor kantor." Kata Riki.
Wajahnya langsung merah padam. Dia masih ingat kejadian 2 hari yang lalu di mall itu. Langkah dan gelagaknya sangat kaku. Dewi menjadi curiga.
"Hei kamu kenapa Rik?" Sekali lagi Dewi memiringkan wajahnya. Ah Riki sangat menyukai jika Dewi melakukan itu.
Riki tidak menjawab apa apa. Dia membiarkan suasana dingin tercipta. Dinginnya menular sampai membuat kopi yang Riki buat seperti ditambahkan es batu.
Dewi menarik Riki untuk duduk di kursi yang tak jauh dari mereka.
"Kamu kenapa? Cerita sama aku." Jawab wanita yang dua hari lalu Riki liat dikecup kening nya oleh pria tegak itu.
"Kalau ada masalah bilang Rik. Bukan diem aja."
Suasana kembali hening. Detik jarum jam dari ruangan sebelah terdengar jelas.
"Kamu ga mikirin orang-orang rumah, Dew?" ucap Riki memecah keheningan. Mereka berdua diam canggung cukup lama.
"Maksud kamu apa?"
"Aku ngelihat kamu di playground hari sabtu kemarin. Lengkap dengan adegan kecup kening. Aku juga tadi pagi udah cek biodata kamu di database kantor. Kamu udah nikah Dew. Aku enggak bisa dan enggak mau jadi perusak pernikahan orang Dew."
Kali ini gelagak Dewi yang berubah total. Wajahnya menjadi pucat pasi. Kepanikan menjalar dari ujung kaki hingga kepala. Riki melihat dengan jelas perubahan wajah wanita anak satu itu.
Hening yang canggung menjalar di pantry kecil itu. Pak Bos yang datang sambil bersenandung menghentikan gerakannya di depan pintu. Dia merasakan suasana itu setelah bersetatap dengan keduanya.
Pak Bos memilih kembali ke tempat awal di datang. Tanpa mengucapkan apapun. Tak ingin menghancurkan suasana apapun yang sedang terjadi di pantry nya.
"Kamu fokus urusin gadis cilik dan suami kamu aja Dew. Biarin aku ngurusin diri aku sendiri"
Kali ini Riki benar-benar meninggalkan Dewi termenung di ruangan dengan banyak piring dan sendok kotor di sink nya.
"Ini yang terbaik yang bisa gue lakukan" batin Riki sambil meraih telpon kantor tak jauh dari meja kerjanya.


Komentar tanpa moderasi tapi saya akan perhatikan setiap komentar.
I Love your comment EmoticonEmoticon