Tampilkan postingan dengan label puasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puasa. Tampilkan semua postingan

Ceritaku Selama #dirumahaja

4/29/2020 2

Covid-19 belakang pasti sering kalian baca, denger, cari, atau entah kenapa muncul di beranda sosial media. Penyakit yang tidak begitu mematikan dengan tingkat penularan yang tinggi. Bikin doi cocok jadi "Pendemik".

Oia, kalian udah cuci tangan belum?
Kalau belum,
Yuk! Cuci tangan dulu!

Terus saran gue momen gini tuh dijaga deh tangan kalian dari megang sesuatu apalagi di tempat umum. Selain benda itu bisa aja ada virus yang enggak keliatan atau benda itu bisa aja melukai kalian. Covid-19 dan jari yang terluka itu enggak cocok banget. Lu tau kan kalo luka kena sabun itu enak banget!
Soo, Staysafe semua.

Oia, Perkenalkan gue Dicky
(kali aja belum kenal)

Gue salah satu guru lumayan keren yang ngajar disalah satu sekolah swasta di Kota Bekasi, seperti yang kalian tau Bekasi juga ikut PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) kaya Jakarta dan wilayah sekitarnya.

Walau PSBB Bekasi baru mulai tanggal 15 April kemarin, gue libur jauh sebelum itu. Lebih tepatnya gue terakhir masuk itu tanggal 16 Maret 2020 (Persis kayak Gubernur DKI yang ngeliburin sekolah untuk pertama kali). Sebulan sebelum PSBB kota Bekasi. Karena sekolah gue pusat nya ada di Jakarta jadinya ikutan libur deh.

Gue si enggak mau ngebahas bagaimana enggak pedulinya lingkungan gue sama itu PSBB. Gue lebih suka ngebahas gimana enaknya hidup gue belakangan ini.

dan enaknya menjadi pahlawan karena #dirumahaja.

Pasti lu pernah ngomong atau kepikiran kayak gini

"Gue lagi nyari kalender yang tanggal merah semua"
"Cape banget  ya. Udah pulang kerja masih harus ngerjain tugas kerjaan lagi"
Baru bangun tidur terus bilang "Masih ngantuk, mau tidur tapi takut kesiangan."
atau "mau pakai internet malam yang banyak en cepet, tapi besok kudu kerja/kuliah pagi" Sebuah kebimbangan
"Siang ini panas banget si, mandi terus tiduran enak kali ya."
"Dosen enggak masuk ngasih kabar di menit-menit terakhir, gue udah jalan. Sayang bensin banget."

Emang si namanya WorkFromHome tapi rasanya itu kayak nikmatin kalender yang semuanya tanggal merah. Lu bebas mau bangun jam berapa, mau tidur jam berapa sing penting besoknya enggak ada video conference . 😂😂

Terus kalian enggak harus macet-macetan di jalan setiap pulang dan pergi kerja/kuliah, enggak bakalan ngerasa sia-sia udah berangkat eh ternyata dosennya berhalangan, bisa tidur siang sepuasnya juga. Itu kalau kalian menjadi orang beruntung buat WorkFromHome.

Buat yang tetap harus kerja, gue doakan semoga kalian dilindungi dari hal-hal buruk kayak covid-19. Jangan lupa lakukan prosedur pencegahan ya 👍

Selama #dirumahaja gue punya banyak kegiatan yang biasanya sulit buat dikerjaain atau terlalu males buat dilakukan. Kayak belakangan gue jadi akrab lagi sama kegiatan membaca, nonton serial, atau sekadar dengerin podcast

Mulai dari baca, gue kembali rajin buat baca. Jenis bacaan gue pun semakin beragam. Biasanya gue cuma kuat baca fiksi karena enggak perlu pemikiran lebih. Terus belakangan gue melebarkan wawasan kebacaan gue ke nonfiksi. Gue mulai suka bacaan tentang tokoh-tokoh yang keren, buku buku motivasi, buku ilmiah atau cara ngajar.

Selama #dirumahaja gue baca Gege Mencari Cinta, Koala Kumal, Jika Aku Milikmu, Juru Bicara, 100 orang paling berpengaruh,  dan beberapa buku lainnya.

Buku-buku yang tadinya enggak pernah gue baca akhirnya gue buka lagi. Bahkan hampir tiap malem gue akan jongkok di depan lemari buku sembari memilih buku buat dibaca.

Bahkan gue sampe beli buku-buku baru. Dengan tema yang random


Buku nonfiksi itu perlu waktu yang lebih. Gue perlu berhenti sejenak untuk memasukan gagasan si buku ke otak gue. Semacam membuat bacaan masuk akal di pola pikir gue. 🤣

Selain baca, gue jadi punya banyak referensi film/serial yang asik buat ditonton selama #dirumahaja

Awalnya gue milih-milih dalam nonton serial, karena gue enggak siap sama perasaan "terus gue ngapain sekarang?" yang muncul tiap kali gue selesai nonton serial. Sekarang gue jadi nonton apa aja. Bahkan gue nonton serial drama korea (mungkin banyak yang jadi penonton drakor belakangan), gue nonton dokumentasi (ada serial netflix judulnya "pendemic" yang muncul bahkan sebelum si covid-19 jadi 'pendemik'), gue nonton podcast yang ada di youtube, gue dengerin podcast beneran di spotify.

Gue bahas dikit aja ya yang serial. Nanti podcast seru gue bahas di postingan berbeda. Siapa tau ada yang mau baca 🤣


sumber: makassar.tribunnews.com

Drakor pertama yang gue tonton itu Itaewon Class. Drakor yang enggak jadiin cinta sebagai sajian utamanya. Tetep ada si cintanya tapi isinya lebih menceritakan seorang yang ambisius ingin mengalahkan orang kaya yang enggak mungkin bisa dilawan. Dia ngajarin gue kalo punya ambisi harus dikejar sampai tercapai, tapi jangan juga lupaain orang yang menemani kalian menggapai ambisi tadi.

Sumber: Tirto.id

Drakor kedua yang gue tonton itu Hi Bye, Mama

Pokoknya drakor ini menceritakan seorang ibu yang meninggal saat mengandung bayinya. Menjadi arwah selama beberapa tahun. Lalu diberi kesempatan untuk 'hidup lagi'. Drakor ini si cocok buat kalian yang gampang sedih, atau mau sedih tapi enggak mau terlihat cengeng. Sumpah banyak adegan yang bikin gue nangis sejadi-jadinya.

Misalnya,
Ketika pernikahan seorang anak perempuan yang bapaknya sudah meninggal, si anak sedih karena dia telat nikah jadinya si bapak 'keburu' meninggal.
Tokoh utama mewakili si bapak menyampaikan pesan melalui surat ke anaknya untuk ngasih tau si bapak minta maaf tidak bisa menemani anaknya menikah, enggak mau anaknya ngerasa terbebani. Ini menjadi sedih karena di surat itu ada kalimat yang sering diucapkan ayahnya ketika si anak mengalami kegagalan. "Tak apa-apa. Ini bukan masalah besar."

Gue nangis banget disitu, sumpah.
Film ini punya banyak karakter, tapi secara ciamik bikin kita perhatian sama semuanya.

sumber: Kumparan.com

Drakor ketiga itu Hospital Playlist (masih ongoing, baru episode 7 dari 16 episode yang dijadwalkan). Ceritanya tentang 4 dokter laki-laki dan 1 dokter perempuan yang berteman sejak masa kuliah lalu bekerja di Rumah sakit yang sama. Drakor ini jadi naik daun gara-gara, orang-orang lagi fokus dan menaruh empati besar ke tenaga kesehatan yang sedang jadi pahlawan saat covid-19 ini. Awalnya gue suka karena mereka menyajikan profesi yang sedari SD gue jadikan cita-cita. Tapi lama-lama membosankan karena terlalu banyak ngomongin istilah medis, gue males mikirnya 😂

sumber: liat gambar

Serial ke empat itu bukan drakor tapi serial USA, dan kebetulan juga punya 4 season.
Judulnya The Good Place isinya menceritakan akhirat. Tentu dengan pandangan kita sebagai manusia. Diserial ini diceritaain bahwa semua pengurus 'surga/neraka' adalah staf yang bertugas merancang surga/neraka masing-masing. Setiap staf mengurusin beberapa orang aja (1-4 orang mungkin) jadinya stafnya banyak banget. Ini sebenernya drama komedi cuman ngajarin kita untuk jadi orang baik atau menanggung akibatnya setelah meninggal. Disini lebih diperlihatkan gambaran surga menurut pengarangnya (sesuai sama judul mungkin ya), nereka hanya digambarkan dalam bentuk suara, atau dialog antar staf 'neraka'.
Ada satu tokoh yang tergila-gila dengan manusia (mulai dari penjepit kertas, gantungan kunci, macet), dan menyebutkan beberapa kali serial 'Friends' yang menurutnya semua cocok masuk neraka kecuali si Phoebe buffay.
Pemaran Phoebe (Lisa Kudrow) muncul di episode-episode terakhir season 4 tapi bukan sebagai Phoebe.


Sumber: thecinemaholic.com

Serial selanjutnya itu Kim's Convenience sebuah serial Kanada yang menceritakan keluarga pendatang asal Korea. Ini juga drama komedi sebenernya. Dia punya 4 season, yang tiap seasonnya cuman 12/13 episode dan berdurasi kurang dari 30 menit tiap episode. Gue cari-cari si bakalan lanjut sampai 6 season, tapi karena lagi pendemik kayaknya bakalan mundur. Dia biasanya tayang dari awal tahun sampai akhir Maret atau awal April.

Isinya menceritakan sebuah keluarga yang menjalankan bisnis toserba dengan gaya minimarket. Setiap episode menyajikan persoalan yang berbeda, dan hubungan tiap episode hanya seperti berbeda hari aja. Enggak terlalu berhubungan tiap episode.
Yah gitu lah pokoknya.

Kurang lebih itu yang gue lakukan selama #dirumahaja.

Gue mengajak semua pembaca untuk berdoa agar kondisi sekarang cepat berlalu biar kita bisa kembali hidup normal.
Untuk para bos yang baik hati, mari kita doakan semoga perusahaannya tetap stabil sehingga tidak sampai terjadi PHK besar-besaran.
Untuk para pekerja yang harus keluar rumah biar ada penghasilan, mari kita doakan keselamatan dan kesehatannya agar tidak ada keluarga yang kehilangan.
Bagi yang tidak terpengaruh marilah kita ulurkan tangan untuk membantu, saya tau kita bayar pajak. Tapi membantu tidak ada salahnya kan?
Pesanlah gofood/grabfood tapi makanannya untuk si driver.
Lewat situs kitabisa, atau mungkin ada temanmu yang mengadakan penerimaan sumbangan bagi keluarga terdampak covid-19.
Saran saya jangan salurkan bantuan secara langsung selain mengurangi kemungkinan kalian keluar rumah, dengan cara itu memperbanyak jumlah sumbangan, Kan?

Aduh jadi panjang.
Bye.

Segalanya berubah di April

5/20/2018 2
Januari adalah bulan paling menyenangkan buatku. Paling tidak ia adalah awal dari tahun yang menjanjikan, dan garis akhir dari tahun yang kusesali. Selain fakta bahwa aku lahir pada bulan itu.

Tapi itu sebelum aku menjumpai April 2018.



Aku menjumpai banyak hal baru disana. Wanita baru. Lingkungan kerja baru. Tempat tinggal baru. Tanggung jawab baru. Teman baru. Bahkan aku baru memulai kehidupan mandiri ku pada bulan itu.

Point pertama tadi akan aku bahas pada waktunya. Tentang manusia yang sedang mengisi hari-hariku yang sudah gamang setelah dua tahun menduda 😛

Lanjut ke point selanjutnya.

Lingkungan Kerja Baru
Teman Baru
Tempat Tinggal Baru
Mandiri?

Paling tidak itulah hal-hal yang sangat membuat Aprilku kemarin sangat berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Aku memutuskan untuk mundur dari sekolah sebelumnya sebelum akhir tahun pelajaran, walaupun keputusan itu terkesan tidak bertanggung jawab, tapi tetap saja ku lakukan. 

Gejolak di tempat lama, adaptasi ditempat baru, bahkan akhirnya aku memulai sesuatu yang sudah dari dulu aku dambakan. Memulai hidup mandiri sebelum menikah. Walaupun aku tetap pulang saat akhir pekan, tapi itu tidak menghilangkan konteks bahwa aku hidup mandiri sebelum menikah.

Aku ingin membahas lingkungan kerja baru. Di sekolah ini aku mengalami banyak shock terapi. Beberapa budaya sangat berbeda dari sekolah sebelumnya, mulai dari jargon-jargon khas sekolah, gaya kepemimpinan yang sangat berbeda, pola interaksi dengan pegawai (selain guru) yang lumayan mengasikan, tidak ada tempat berkumpul lain selain ruang guru, pola serapan, dan makan siang yang selalu sama, budaya solat berjamaah, olahraga sore menjalang ashar, atau hal-hal lainnya.

Padahal ada sedikit persamaan dari sekolah ku saat ini dengan sekolah sebelumnya. Sama-sama memiliki tiga unit, SD-SMP-SMK untuk sekolahku sebelumnya. Sedangkan sekolah baru terdiri dari SD-SMP-SMA. Walaupun seakan sama, tapi disekolah sebelumnya aku masih bisa mengenal pegawai yang berbeda unit tadi, sedang disekolah baru aku belum bisa mengenal satupun guru di unit SMP-SMA. Karena unit SD pada dasarnya adalah unit paling muda dari ketiganya sehingga SD terletak agak jauh dari unit SMP-SMA, hal itu terjadi karena lokasi unit SD sebelumnya adalah lahan parkir.

Lingkungan kerja baru pasti membawa teman baru. Baik guru, staf, atau tenaga non guru. Beberapa sedang kucari kecocokannya, mana yang aku rasa cocok dengan gayaku, mana yang sebaiknya tidak aku dekati dengan gayaku yang terlalu guyon. 

Aku datang bersama tiga belas orang lainnya, sehingga tidak kesulitan membuat teman. Bahkan jumlah guru baru dengan guru lama lebih banyak guru baru. Pada dasarnya guru baru lebih mendominasi di sana. 😝

Kamu bisa membaca perjuanganku sehingga diterima di sekolah ini pada postingan berjudul Keputusan Berat.

Lanjut

Karena lokasi sekolah dengan tempat tinggalku di Priok berjarak kurang lebih 30km, aku memutuskan untuk mencari kontrakan kecil di lingkungan sekolah. Memang sedikit berlebihan memang, padahal ada guru lama yang tetap pulang pergi padahal jarak ke rumahnya lebih dari 42km. 

Tinggal sendiri memang tidak menyenangkan, aku harus menyiapkan segalanya sendiri, makan, perbaikan rumah, bayar listrik, atau sekadar menjaga kebersihan rumah. Selain itu, teman-temanku kebanyakan tinggal di priok, akhirnya aku hanya bisa bermain atau sekadar berbincang dengan mereka pada waktu akhir pekan. Padahal tidak semua temanku liburnya selalu pada akhir pekan. 

Tinggal sendiri memang tidak terlalu menyenangkan, apalagi tidak banyak kegiatan yang bisa aku lakukan selain bermain hape, atau menonton film di laptop. Dan sekarang sedang bulan Ramadhan, pasti lebih berat. 

Memang, tidak ada yang menyenangkan dari perubahan. Tapi jika tidak ada perubahan, kamu tidak akan mengalami perbaikan, kan?

Doakan semoga segala yang terjadi di Aprilku kemarin memang yang terbaik buatku.

Terimakasih sudah membaca.

See you.

Chapter Finnale - Jadi Begini Ceritanya

7/01/2016 10
Mak, dikit lagi Dicky jadi SP,d

Ini adalah postingan penutup, setelah menyelesaikan tentang 'tulisan itu' - SKRIPSI (red)

Ada baiknya, kalian baca dulu beberapa postingan sebelumnya

Jadi begini ceritanya...

Setelah menempuh perjalanan yang enggak gampang-gampang amat, akhirnya genap sudah gue malalui masa kuliah S1, setelah bertahun-tahun harus PP Priok-Setiabudi, setelah bertahun-tahun mengalami macet di Manggarai, menikmati lamanya lampu merah Matraman, berjam-jam di kantin deket kampus, menjadi anak yang akrab sama orang tua, mencoba susahnya menjadi anak kos, sampai menemukan oasis perjalanan melalui Jalan HOS. Cokroaminoto, gue pun akan mengakhirinya beberapa bulan kedepan.

NB : FYI, Jalan HOS. Cokroaminoto itu jalan paling asik setelah motor dilarang melalui Jalan Thamrin.

Jadi begini ceritanya...

Banyak yang sudah gue lalui selama menjalaninya masa kuliah. Mulai dari cupu mencari identitas diri, sok akrab sama mahasiswa baru atau senior, sampai cari muka sama beberapa dosen. Yang berbuah di akhir semester, senior ngasih jalan gue mendapatkan pekerjaan, dan dosen pembimbing yang sangat memudahkan gue menyelesaikan skripsi, jujur selama menulis skripsi, gue merasa kedua dosen itu kayak 'malaikat' dalam wujud manusia.

Tentunya Allah yang memberikan malaikat itu buat gue. Semenjak Allah memberi beragam kemudahan dalam menyelesaikan skripsi, gue enggak pernah absen untuk menyisipkan terima kasih kepada-Nya yang gue ucapkan berkali-kali.

Jadi begini ceritanya,

Skripsi yang menyiksa gue belakangan, yang sampe mengharuskan tipi di ruang keluarga dimasukin ke kamar orang tua, akhirnya selesai. Selesai sudah pertanyaan nyokap yang belakangan selalu ngomong "udah beres?" atau "daripada maen mending ngerjain" 

Haha, sudah selesai. Dan gue pun menyelesaikannya dengan beragam kepuasan, sambil mengucap syukur yang tak henti-hentinya.

Dilain sisi,

Sedih memang, ketika salah satu dosen penguji gue bilang "ini adalah momen terakhir kita bisa berdiskusi sama mahasiswa"

Jujur gue tambah sedih ketika dia juga mengucapkan "ini adalah tahapan akhir, selamat bagi kamu yang sebentar lagi akan menjadi sarjana" yang dia ucapkan kepada seluruh mahasiswa yang dia uji hari itu.

Memang si gue bukan mahasiswa dengan IPK yang memuaskan kalo dibandingkan sama temen-temen gue, dan gue juga bikin skripsi yang biasa aja. Tapi itu udah cukup mengantarkan gue ke jenjang asli dalam kehidupan. Yap, menjadi dewasa, dan menjadi pekerja. Udah cukup nyusahin orang tua. Udah cukup jadi beban bagi mereka beberapa puluh tahun belakangan. Dan inilah saatnya bagi gue untuk membalasnya.

Jadi begini ceritanya,

Gue kan pernah cerita di postingan ini, kalo gue lagi seleksi di sekolah swasta. Dan Alhamdulillah, sehari setelah gue sidang, gue dan teman-teman gue dinyatakan secara sah menjadi bagian dari sekolah tersebut. Yap, semenjak hari itu gue semakin yakin kalo kita dekat sama Allah, Ia akan memberi jalan tol bagi kita. Yap, jalan kehidupan yang tanpa hambatan.

Agak malu emang sama ibadah gue yang masih bolong, tapi Dia masih bisa cinta banget sama gue kayak gini.

Thanks, Allah.

Semua ini bagi gue berkah ramadhan.

Akhirnya gue semakin mencintai ramadhan, dan menanti ramadhan selanjutnya.

NB  : jujur nih ya, gue ga begitu kuat nahan laper pas ramadhan :p

Ramadhan Datang

6/14/2016 6


Ramadhan datang alam pun riangmenyambut bulan yang berkahumat berdendang kumandang azanpertanda hati yang senang
Itulah sepenggal lirik yang sangat gue ingat belakangan ini. Yap Ramadhan kembali menyapa, waktunya untuk menyambut dengan suka cita. Bahkan siang hari di ramadhan tetap sejuk. Alam juga ikut menyambutnya.
Inti paragraf sebelumnya gue enggak ngerti maksudnya apaan. Jadi kalo lu bingung itu enggak nunjukkin kalo lu kurang pintar kok, santai aja.
Lanjut
Inti yang paling menakutkan dari ramadhan bagi kaum pemakan segala tiap jam ini adalah tidak diperbolehkan makan, dan minum. Itulah cobaan ter beratnya. Emang si puasa di Indonesia hanya 13 jam. 
Tapi enggak minum, dan makan seharian itu berat bagi gue, apalagi gue itu tipe orang yang kalo makan ya laper, eh kebalik. 
Malah yang terjadi belakangan, kemampuan tubuh gue untuk membedakan antara pengen makan sama pengen ee juga menurun drastis. Jadi pernah beberapa kali gue udah di wc eh enggak keluar itu ee.
Balik ke tujuan post ini dibuat, gue mau berbagi sedikit kisah dalam sepuluh hari pertama ramadhan kali ini. Nikmati yaaaa.
Puasa kali ini bagi gue emang sangat menakutkan, puasa kali ini gue menghindari untuk menghitung hari, karena semakin banyak hari yang berlalu gue pun semakin tertekan untuk menyelesaikan kuliah.
Banyak problematika yang gue miliki dalam ramadhan kali ini, misalnya gue harus lulus sebelum tahun ajaran baru. Kalo enggak gue bisa aja gagal diterima disalahsatu sekolah swasta bonafit di bilangan pulomas. Tapi gue berharap semoga pihak sekolah ngasih kompensasi gue untuk menambah satu semester buat ngelarin kuliah kalo misalnya gue tidak bisa lulus semester ini. Aaaamiiiin. Tapi lebih afdol lagi kalo gue bisa lulus semester ini tanpa harus nambah semester. Itu lebih aaaamiiiin. 
Disisi lain banyak banget hal yang bisa bikin gue sulit, kayak misalnya penelitian yang cuman seminggu, padahal di jurusan gue, penelitian paling minimal dua minggu untuk jenis skripsi yang lagi gue kerjain. Belom lagi kalo penguji sidang gue sama kayak penguji seminar proposal, pasti dia bakalan nagih yang dia minta, misalnya disuruh dibuatkan video atau penguji satunya lagi yang sangat teliti.
Ditambah path, Instagram, dan bahkan Facebook udah diisi oleh beberapa mahasiswa angkatan gue yang memposting foto dirinya dengan selendang bertuliskan nama dilengkapi gelar S.Pd dengan ucapan bersyukur di caption nya. Menambah beban bagi mahasiswa yang belom dinyatakan lulus kayak gue....
Kalo diinget-inget tiap ramadhan gue selalu beda, ada yang gabut segabut-gabut nya, ada yang galau segalau-galau nya, ada yang bahagia kebangetan,  dan ramadhan kali ini diisi dengan kecemasan yang sangat besar. Semoga kecemasan di ramadhan ini akan menjadi berkah bagi gue, dan bagi mahasiswa angkatan akhir yang sedang berjibaku dengan skripsinya. AAAAMMIIIIIIINN
Kalo postingan kali ini enggak enak dibaca maaf ya, gue lagi banyak pikiran. Ini gue post asal untuk update blog aja. Kasian udah sebulan gue cuekin, mahal nih bayar domainnya. 

Yang Paling Dari Tiap Bukber

7/28/2015 20

Momen Ramadan baru aja berlalu kurang lebih sepuluh hari yang lalu, kalo di ibaratkan luka Tetanus sekarang itu lagi fase kejang-kejang tapi tidak terlalu. Lalu hubungan nya apa? Enggak ada. Nah kali ini gue mau membuat beberapa bukber yang PALING. Bisa paling apa aja, paling jauh, paling ribet perencanaan nya atau paling mahal sekalipun. Daripada berlama-lama langsung aja deh.


Paling Jauh 'n Ribet
Ini adalah bukber kelas gue di PGSD UNJ. Lokasi yang sangat jauh membuat gue harus jalan kurang lebih 3 jam sebelum azan magrib berkumandang. Dan keputusan tadi sukses membuat gue jadi orang pertama yang dateng. Lokasinya sendiri di Perumahan Duta Indah di daerah Pondok Gede, Bekasi Regency. Ya intinya mah kalo di Bekasi ya jauh aja.

Bukber kali ini bertempat di tempat tinggal salah satu temen sekelas gue. Namanya Nurohmah, bukber ini juga bukber yang paling ribet perencanaan nya. Gimana enggak ini adalah bukber kelas yang akhirnya full tank. Hampir tiga tahun kita sekelas tapi inilah bukber paling berhasil yang bisa terlaksana. Walau enggak semua tapi paling enggak hampir seluruh penghuni kelas ikutan.
Kalo mau baca profil mereka bisa baca di artikel ini

Itu udah Maksimal Banget loh putihnya. Pake beberapa Blitz

Namanya artis, kamera yang moto banyak jadinya enggak fokus ke kamera ini deh

Paling Mendadak
Bukber kali ini adalah bukber ketika gue beberapa kali ke kampus untuk download film, atau game dan ternyata waktunya sampe azan magrib. Jadi mau enggak mau gue harus buka dulu baru pulang, awal-awalnya si gue bakalan makan takjil dan langsung pulang. Tapi muncullah ide buat ngajak beberapa temen yang gue temui di kampus buat bukber. Fix jadi deh. 

Segelintir anak Kombun

Ini adalah bukber setelah bukber
Ini Juga bukber setelah bukber bareng keluarga. Mendadak
Tapi bukan temen yang di temui di kampus


Paling Freak
Ini adalah bukber bareng Calon Maba UNJ Jalur Penmaba
Jadi dulu pas gue mau masuk UNJ, sampailah tercetus sebuah ide buat bikin grup yang isinya anak-anak yang ngebet mau masuk UNJ lewat jalur apapun, dalam hal ini PENMABA (cari aja di google)

Nah karena dulu jalur penmaba terlaksana saat bulan puasa (Puasa 2012), dan grup itu aktif banget saling bantu sebar info alhasil sampailah gagasan untuk buka puasa bareng. Dengan alasan demikian semenjak itu setiap puasa (2012-sekarang) selalu aja ada yang ngadain BUKBER, karena gue iseng. Gue pengenlah ikut acara bukber mereka yang rutin (walau cuman segelintir orang si). Gue ikut. Tiga tahun gue enggak ketemu mereka. Ada yang tambah kurus/gemuk. Tanpa berminyak, tambah ganteng (gue).

Gue sempet ngerasa enggak enak juga sama salah satu dari mereka, dia itu salah satu mahasiswa UNJ juga, saban gue ketemu sama dia di kampus gue selalu aja buang muka. Untung cowok, jadinya dia enggak ngungkit itu di acara. Enaknya ngumpul sama temen yang jarang ketemu itu, setiap omongan lucu, garing atau apapun yang tujuan nya buat mancing ketawa, mereka pasti ketawa walau kadang yang muncul ketawa kasian

Dari kiri
Esti, Ika, dan Herma

Dari kiri
Jodi, Rio, dan Gue


Paling Mahal
Bukber paling mahal adalah bukber bareng keluarga, yap karena ini ditraktir jadinya gue dan sodara-sodara gue secara beringas memilih makanan di tempat yang enggak bakalan sanggup (lebih tepatnya si enggak ikhlas) kalo harus bayar pake uang sendiri.
Ada lagi si bukber yang kurang lebih sama mahalnya, Bukber di SD tempat gue ngajar club sains saban sabtu. Di sana menunya emang tradisional, kayak martabak telor, kue-kue an, tapi kulitasnya itu loh yang bener-bener bikin lidah gue dimanjakan. Oia gue enggak sempet foto sama sekali disana, soalnya selain makanan enak, gue bisa ambil makanan sendiri, hilaf deh. Jadinya enggak kepikiran yang laen selain "Makan yang mana lagi ya?"

Bukber Paling Mahal
Sponsor Bukber kali ini


Beda hari, enggak mahal tapi sama keluarga juga
Paling Kasian
Ini bukber gue kurang lebih di dua minggu terakhir ramadan. Karena gue jaga stand Zakat di sebuah gedung perkantoran daerah Kuningan. Saban buka puasa gue bakalan cuman makan takjil (bisa gorengan, lontong, kurma) dan bakalan makan besar sejam setelahnya setelah sampai rumah. Sampe-sampe mulut gue enggak enak buat nelen. Kebanyakan gorengan yang masuk ke mulut gue.


"Postingan ini dipersembahkan untuk KOMBUN pada edisi #Juli2015."