Minta Pendapat ya, lagi Bikin Novel neh ???

3/16/2011
assalamulaikum para blogger, semoga selalu dalam keadaan sehat walafiat ya
Langsung aja deh engga usah basa basi
ane lagi bikin novel neh gatau bagus apa enggak, ana mau minta bantuan buat para blogger untuk ngasih sedikit pendapatnya tentang ini, ya kalo bisa kritik, saran, dan lain lain yang bisa membantu saya mengembangkan ini ya gan, ini satu bab bakal novel saya
PLIS BANGET YA
1
Di bogor di daerah kaki gunung ada sebuah desa yang asri masih berbau – bau ke desa desaan walau beberapa bagunan di sana sudah seperti sebuah perumahan yang sering kita temukan di daerah bekasi. Tapi seperti desa pada umumnya disana ada sebuah sawah, sungai, bahkan jika ingin mencari tempat mata air tak terlalu sulit untuk di cari.
Di kesibukan sebuah desa pada umumnya ada dua anak di sawah, yang satu sedang asik berlarian di sawah merusak sawah yang baru saja di garap, anak itu gendut, kumel dengan rambut yang berantakan dan gomdrong, tapi rambutnya lurus rapih, sedangkan anak yang satunya di tepi sawah dia hampir sama dekil dan kumel dengan anak yg ada disawah tetapi dia tak segendut yang sedang berlarian di sawah, dengan rambut yang ikal dan sepertinya dia jengkel dengan anak itu.
“Jon, jangan nanti ayahku dimarahin” ujar anak yang ditepi sawah kepada temannya yang sedang berlarian di sawah terlihat beberapa kerutan kemarahan di wajahnya.
“kan kau sendiri yang mengajakku kesini zal, kenapa kau melarangku” ujar anak yang ada disawah dibuat sepolos- polosnya tetapi gagal.
“tapikan aku ngajak kamu cuman buat ngeliat – liat doang, bukan merusak sawah tempat ayahku bekerja” sahut anak kurus ditepi sawah itu tetap dengan kerutan kemarahan di wajahnya yang masih terlihat lugu.
“Baiklah, baik aku menyerah” sumbar anak gendut itu dengan berlari – lari ke tepi tempat anak yang memanggilnya sedikit tertatih – tati dengan beban yang harus di bawa oleh kakinya.
“Lalu apa mau mu” kata anak gembul itu mengancam
“bu . bu . bukan begitu maksudku” anak kurus itu gagap mendadak,
“bolehkah aku mengajakmu ke sungai di dekat bukit sana” sambut anak gembul itu lagi setelah dia telah sampai cukup dekat untuk di dengar oleh anak kurus itu, dan menunjuk ke tempat yang dimaksud.
“oke, baiklah tapi jangan kau ceburkan aku di sana,… Ingat aku tak bisa berenang !” saut anak kurus itu dan memelankan suaranya untuk tiga kata terakhir, sepertinya itu aib buatnya.
“baiklah, dan banyak cuap lagi, kita harus cepat kesana, sudah hampir siang nih” sesumbar anak gembul itu berkata dengan sedikit angan – angan bila ia benar – benar menceburkannya kesungai itu, dulu dia pernah dengan amat sengaja menceburkan anak kurus itu di sungai dan di benar – benar tak bisa berenang.
Sebelumnya ia belum mengetahui bahwa anak kurus itu tak bisa berenang, ia langsung kelagapan saat itu, untungnya kala itu disungai cukup banyak orang, dan ada yang berenang untuk menyelamatkan temannya. Anak gembul itu melihat orang yang menyelamatkan temannya, dia tidak kurus, dan juga tidak bisa dibilang gemuk, dan ia kira dia itu wanita sebab rambutnya yang panjang yang kala itu terkena air, sedikit lepek, dan ia cukup tercengang setelah dia mendengarnya berkata “dia tak apa – apa , dia hanya kaget, cukup gelagapan dan akhirnya menelan banyak air” kata pria itu dengan sedikit serak dan dalam
“Dan kau” pria itu menunjuknya yang masih kaget dengan sosok pria yang lebih mirip wanita daripada pria saat keluar dari air
“ia … iiiaa . aaaa” jawab anak gembul itu gagap dadakan
“ jangan pernah dorong temanmu lagi ke air, kecuali kau cukup yakin dia bisa berenang, bisa dimengerti ?”, katanya jelas dan sedikit mengancam
Tapi anak gembul yang di Tanya tetap diam saja tak jelas mengerti atau tidak dia
“bisa di mengerti ?” Tanya pria itu lagi karna anak gembul itu tetap diam saja
“BISA DI MENGERTI?” seru lelaki itu berteriak. “BISA DIMENGERTI” serunya lagi ketika anak gembul itu tetap tak menjawab dengan tangan yang lelaki itu pukulkan ke bahu anak gembul itu.
“iiaaa pak, maaf saya kira dia bisa berenang” jawab anak gembul itu rupanya dia telah menemukan suaranya kembali dan mengusap – usap bahunya yang seikit perih oleh hadiah dari lelaki itu. “maafkan saya” tambahnya.
“jangan minta maaf padaku, minta maaflah pada temanmu ini, … tampaknya ia masih pingsan” dia menambahkan setelah dia kembali melihat anak kurus itu yang masih tergeletak di tanah. “cepat bawa dia kerumah dan beri tahu orang tuanya” tambahnya setelah anak gembul itu sudah mendekati anak kurus itu untuk memastikan keadaan bahwa dia baik – baik saja,
“tak usah aku tahu jalan ke rumahku kok,” kata anak kurus itu dengan sedikit malu, tampaknya ia sudah sadar dari tadi karna ia berkata kerita temannya sudah ingin menganggatnya.
“syukurlah” kata anak gembul itu sedikit geli “aku kira kamu, bisa renang sorry ya” tambahnya ketika muka temanya itu sedikit merah padam
“tak apa – apa. Dan ingat jangan pernah menceburkan lagi aku kesungai” kata anak kurus kala itu dan juga mengembalikan anak gembul itu kembali kesituasi saat itu.
“Kenapa kau senyum – senyum saja dari tadi” Tanya anak kurus itu curiga
“tak ada apa – apa kok” jawab anak gembul itu berbohong
“aku tau kau tadi mengingat – ingat tragedy memalukan kala itu” kata temannya sedikit membuat hati anak gembul itu sedikit mencelos ya ‘tragedy memalukan’ itu lah tiap kali ia ingin menyebut tragedy tersebut, dan anak gembul itu selalu berusaha agar phobia nya si anak kurus itu bisa sedikit melupakannya mulai dari mencoba membawanya ke dalam sungai agar ia menghilangkan phobianya tapi tak penah berhasil dia selalu mengelak setiap kali anak gembul itu mengajaknya ke sungai, tapi kali ini seperti anak kurus itu ingin sedikit membantunya.
“ya kan, katamu tadi apapun boleh ku lakukan, supaya aku lupa” anak gembul itu berkata sedikit geli, tadi saat mereka menuju ke sawah anak kurus itu berkata seperti itu. dan rupanya anak kurus itu menyesali kenapa dia tadi berkata seperti itu
“baiklah, tapi hanya menghayal jangan diwujudkan ya” kata anak kurus itu sedikit memohon
“aku tak bisa memastikan” kata anak gembul itu mengoda.
“jangan lah” kata anak kurus itu memohon
“liat saja nanti” begitulah anak gembul itu berkata setiap kali diharapkan tentang sesuatu yang berlawanan dengan apa yang ingin ia lakukan sebenarnya.
“kalo kau tak bisa memastikan itu aku akan pulang” kata anak kurus itu, kali ini sedikit mengancam
“baiklah, hhha” jawab anak gembul itu sedikit acuh tak acuh. Tapi ia tetap menghayalkan temannya itu ia ceburkan benar ke sungai
Anak gembul dan anak kurus itu mereka adalah sahabat sejati sejak SD kelas empat sampai sekarang mereka beranjak masuk SMP, mereka walau sering mengerjai satu sama lain, tapi tetap saja mereka selalu bermain bersama – sama, dan kali ini juga anak gembul itu ada sebuah masalah, dan sekarang anak kurus itu sedekit berusaha untuk menghiburkannya. Seperti sebuah Simbiosis Mutualisme mereka selalu saling menghibur satu sama lain, kala yang satu membutuhkannya yang satu walau tak bisa dipastikan pasti akan menghibur.
“kalo nanti ayahmu di marahin sama yang punya sawah kau jangan ngasih tahu aku yang melakukanyya ya” kata anak gembul itu kepada anak kurus itu saat sampai disungai dibalik bukit, mereka dalam berjalanan dalam keadaan nyaris bisu
“aku tak bisa memastikannya” kata anak kurus itu sedikit menggoda walau mukanya sedikit pucat pasi karena sudah melihat air sungai,
“kau membalasku?” kata anak gembul itu
“mungkin” jawab anak kurus itu singkat dan setelah selesai berkata dia langsung duduk di tepi sungai “lupakan aku, dan main air lah” tambahnya dan ia langsung berbaring di atas rumput tepi sungai itu.


MOHON SEKALI BANTUAN -NYA

Seorang guru muda yang akan selalu belajar dari peserta didiknya, karena "Pembelajaran tidak hanya terjadi dari guru ke peserta didik, namun sebaliknya pun demikian".
Terimakasih Sudah Membaca

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

1 kicauan:

Write kicauan
pencari jejak
AUTHOR
16 Maret 2011 23.33 delete

wah, udah ada yang mau bikin novel. semangat selalu kang! :D
mampir ke lapak saya ya! ;)
salam kenal

Reply
avatar

Komentar tanpa moderasi tapi saya akan perhatikan setiap komentar.
I Love your comment EmoticonEmoticon