Pengalaman Menggunakan XL Prioritas

1/03/2018 0
Sejak Oktober 2017, kurang lebih dua bulan saya menggunakan layanan pascabayar XL. Kisah bermula saat saya kehilangan kartu XL. Tanggal 13 Oktober saya pun berkesempatan untuk mengunjungi Xplor yang ada di Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sebenarnya lokasinya bagus, tapi karena sebagian besar La Piazza (Bagian dari komplek MKG) ditutup, jadinya agak kesulitan menuju ke sana.

Berlokasi enggak jauh dari Farmers Market Kelapa Gading, ruangannya dibuat agak trendy. Tidak sekaku operator merah. Artinya tidak ada batas yang benar-benar memisahkan antara pelanggan dan Rangers nya (Sebutan bagi Custemer Servis XL). Pelanggan dengan Rangers hanya dipisahkan oleh meja yang tersusun berjarak mengelilingi sudut salah satu sisi ruangan. Mejanya berbentuk ‘n’ sempurna, setiap ‘n’ dapat diisi oleh dua rangers. Menurut daya ingat saya ada 2/3 ’n’ disana. Yang jelek (setidaknya menurut saya) adalah, kedua pihak berada dalam posisi berdiri. Yap, si Rangers melayanin pelanggan dengan berdiri. Bagi pelanggan yang lelah bisa duduk dikursi tunggu yang terletak tidak jauh dari meja ‘n’ tadi, itu akan jadi kendala saat kursi tunggu penuh.

Saya yang awalnya hanya ingin mengganti kartu yang hilang, berpikir sekalian saja berpindah ke Prioritas. Saya bilang ke rangers bahwa saya ingin mencoba perbedaan kualitas layanan prioritas XL dengan Prabayar XL, si rangers pun lebih menyarankan saya untuk menggunakan nomer baru. Karena jika saya lakukan migrasi dari prabayar ke pascabayar ada kontrak minimal setahun jika ingin kembali ke prabayar. Sedangkan dengan nomer baru kontrak minimal sekitar 3 bulan (setidaknya menurut rangers tadi). Ditambah jika saya memilih untuk menggunakan nomer baru saya bisa mendapatkan nomer XL dengan 10 digit angka. Saya pun memilih untuk menggunakan nomer baru dengan 10 digit angka.

Setelah mendapatkan nomer XL 10 digit, si rangers menanyakan bagaimana saya ingin melakukan pembayaran. Karena tidak punya kartu kredit, saya memilih untuk memasukan deposit. Minimal 200K, deposit itu yang akan menjadi batas pemakaian perbulan. Saya memilih paket seharga 150k, dengan batas 200k artinya dalam sebulan saya hanya mempunyai 'pulsa' 50k diluar biaya untuk paket prioritas.

Saya memilih berlangganan paket prioritas glod yang terdiri dari 15GB untuk 4G saja, 5GB semua jaringan, 150sms-150menit nelpon(semua operator), dan unlimited WhatsApp, Line, dan BBM. Dengan biaya langganan 150rb perbulan. Semua rincian itu akan terset ulang setiap awal bulan. Dengan biaya 50k/1GB jika melebihi kuota yang disediakan. Tagihan akan muncul kurang lebih tanggal 1-10 setiap bulannya, dengan tanggal 27 untuk jatuh tempo pembayaran.

Bulan pertama (pembayaran November) saya dikenakan biaya sekitar 101k, dibulan kedua saya hanya membayar 65k. Aslinya saya harus membayar 166k dibulan kedua, namun menurut sistem saya sudah membayar sebesar 101k. Sepertinya dibulan pertama saya melakukan pembayaran double, soalnya sempat gagal jadinya saya coba dua kali dipembayaran pertama. Dalam setiap pembayaran dikenakan pajak sekitar 10%.

Dibulan pertama saya hanya membayar 101k, menurut hemat saya karena dibulan pertama saya hanya menggunakan prioritas kurang dari 3minggu, dengan sisa kuota yang masih sangat banyak. Sedangkan dibulan kedua, saya menyisahkan kurang lebih 1Gb sehingga saya harus membayar 165k. Dibulan desember kemarin (yang akan ditagih Januari ini) saya bahkan kelebihan 1 GB. Yang artinya saya kira kira harus membayar sekitar 220k.

Pemakian kurang dari 3 minggu (bulan pertama) menyisakan kuota yang banyak juga disebabkan oleh kualitas jaringan yang belum begitu stabil, dibulan kedua kualitas jaringan semakin stabil, dan dibulan ketiga ini, saya semakin merasa bahwa kualitas jaringan prioritas jauh lebih stabil dari bulan pertama. 

Anehnya ketika saya lakukan test speed, saya tidak pernah mendapatkan angka lebih dari 3Mbps (jika saya lakukan di rumah, notabene di pedalaman perumahan padat penduduk pada jam 'normal') Jika saya lakukan di jalan raya bisa menyentuh angka 17Mbps.
Saat membuat post ini (3/1) saya coba melakukan speed test. Hasilnya cukup mencengangkan.

1. Saya lakukan masih di daerah Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara
2. Saya lakukan di SPBU Pertamina Jalan Raya Pelumpang Semper, Jakarta Utara
3. Saya lakukan di rumah, di daerah Tugu Selatan, Jakarta Utara

Diluar itu semua, kualitas jaringan XL prioritas (dibulan ketiga ini) tidak terlalu beda dengan yang prabayar jika digunakan untuk browsing atau sekedar melihat sosial media. Barulah terjadi perbedaan yang sangat kentara saat melakukan kegiatan streaming video (misalnya youtube, iflix, atau web streaming lainnya). Sepanjang bulan Juli-Oktober prabayar XL tidak bisa memberikan streaming video yang lancar untuk aplikasi VOD (Video On Demand) seperti Iflix. Namun semenjak saya menggunakan prioritas, streaming di Iflix sama sekali bukan kendala. Dengan catatan saya tidak melakukannya di jam-jam padat (18.00-20.00 WIB).

Hal seperti kualitas sinyal tidak bisa disamakan ya. Setiap daerah berbeda. Bahkan di rumah teman saya yang masih berada dalam satu kelurahan yang sama, kualitas jaringan XL sangat menyebalkan.

Sejauh ini saya puas dengan kualitas yang saya dapatkan dari Priotitas, hanya saja dengan nomer telpon yang cuman 10 Digit menjadikan nomer saya sering mendapatkan sms spam. Isinya sebagian besar menawarkan kredit mobil atau sekadar gathering sesama pengguna merek mobil. Namun setelah saya komplain via twitter ke @MyXLCare, sms spam itu jauh berkurang.


Selanjutnya saya tertarik menggunakan layanan Mifi atau Home Router dari XL Go. Siapa yang sudah coba?

If you wondering, saya enggak dibayar sama XL bikin postingan ini.
Kaya penting aja blog ini :D

See You.

S01E01 - Pilot

12/17/2017 3
Hai, Desember.

Sebagai penghabisan, aku suka. Karena ia akan mempertemukanku dengan titik awalku. Seperti seekor kuda. Ia membawaku, untuk menyambut titik awal.

sumber: pixabay

Tahun ini menjadi blogger yang tidak menjalankan kewajibannya. Dalam tahun ini gue cuman nulis kurang dari lima belas postingan. Entahlah, mungkin gue pernah mengalami tahun yang lebih buruk, atau ini yang paling buruk?

Enggak tau kenapa tahun ini, keinginan untuk menulis sangat rendah, lebih rendah daripada inflasi. Atau angan-angan di chat mantan.

Demi meminta maaf sama diri sendiri, gue mau membahas sesuatu.

Setiap akhir tahun, hampir semua serial mencapai mid season finnale nya. Artinya dia akan rehat beberapa bulan (salah satu hal yang enggak dimiliki serial di Indonesia). Biasanya si Serial serial yang gue tonton selalu berakhir minggu kedua atau ketiga Desember, dan akan lanjut di awal atau pertengahan Februari.

Ternyata krunya butuh liburan akhir tahun sampe sebulan. Sangat-sangat dimanjakan sekali ya kru-kru serial itu. Memang si libur akhir tahun juga memberi penyegaran bagi serialnya (enggak cuman krunya), pertama kru menjadi bersemangat setelahnya atau penonton yang dibikin penasaran dimana poin itu yang harus dipertahankan tiap serial.

Gue mau cerita sedikit ah masalah serial yang gue suka. Bukan spoiler si, tapi gue mau ngebahas bagaimana si gue sampai suka, dan mengikuti tiap episode dalam tiap seasonnya. Cuman mau sharing aja si, kalo suka ya lanjut kalo ga suka ya lanjut, siapa tau jadi suka. Ya, kan?

Dulu itu gue enggak suka buat ngikutin serial. Kenapa? Karena gue males buat ngikutin tiap episodenya, gue lebih suka cerita yang dibahas dalam satu kali penayangan. Alasan kedua itu bagian ketika flashback. Bagian itu yang bikin gue makin males. Karena gue harus inget itu flashback bagian mana, kejadian apa, atau tokoh yang mana? Alasan ketiga itu gue enggak suka dibikin penasaran.

Simpelnya itu gini,

Dalam sebuah serial, dia menjelaskan satu pokok permasalahan, tapi dalam satu pokok permasalahan tadi ada masalah-masalah kecil lainnya yang dibahas dalam tiap episodenya, nah masalah-masalah kecil itulah yang mengarah atau membangun pokok permasalahannya tadi.

Satu pokok permasalahan yang dijabarkan dalam satu season dalam tiap episodenya bukan satu-satunya yang menjadi fokus cerita. Ada kalanya ada masalah-masalah kecil yang tidak berkaitan langsung atau berkaitan, tapi berkaitan dengan satu atau dua season setelahnya.
Dan itu enggak asik. Nonton kok dibikin pusing sama cerita, bukannya menikmati cerita.

Itulah yang membuat gue enggak demen ngikutin serial.

Berkaitan dengan alasan ketiga, gue pernah terlanjur suka sama satu serial (kartun si tepatnya). Begini ceritanya..

Gue pernah suka sama satu serial yang ditayangkan sama salah satu tipi. Tapi karena di tipi serialnya enggak urut, gue jadi enggak begitu paham sama ceritanya. Saking penasarannya gue sama cerita lengkapnya, gue nyari CD nya di ITC.

Kalo lu penasaran, serial kartun yang gue suka itu Avatar: The Last Airbander. Serial yang menceritakan keempat elemen yang hidup harmoni; Air Nomad (pengembara udara), Water tribe (suku air), Fire Nation (Negara Api), sama Earth Kingdom (Kerajaan Tanah). 


sumber: imdb.com


Tapi, semua berubah sampai negara api menyerang...

Pernah dengerkan bercandaan kaya gitu?

Back to topic

Karena dulu belom musimnya download torrent atau streaming kaya sekarang, alternatif nonton kalo enggak di tipi atau dari CD. Sesuatu hal yang menyusahkan yang ternyata menjadi keistimewaan generasi 90-an.

Gue mencari CD Avatar di ITC, karena dulu masih bocah. Gue enggak berani, enggak diijinin, atau enggak tau harus kemana akhirnya gue minta bokap buat menemati. Dia setuju tapi dia cuman mau nunggu di parkiran. 

Berbekal rasa penasaran yang tinggi (tentu setelah berhasil mengumpulkan uang jajan), gue mencari di tiap pedagang CD yang menjajahkan dagangannya di tempat itu. Beberapa dengerin gue sambil lalu, cuman beberapa yang menanggapi dengan serius. Mungkin karena gue bocah kelas 6SD, nyari CD tanpa didampingi orang tua membuat mereka beranggapan gue cuman nanya enggak beli.

Iya, bokap gue emang tega ama anaknya.

Setelah dapat gue langsung pulang. Singkat cerita itulah alasan kenapa gue hampir sebelas tahun enggak begitu suka sama namanya serial. Kalo sukapun, gue akan mencoba membatasi diri untuk tidak terlalu suka. Persis kaya yang dilakuin cewek sama gue. HAHAHA

Skip ke akhir tahun 2014, teman gue mengenalkan gue sama salah satu serial zombie terbaik yang sudah masuk season keempat kala itu. Yap, temen gue mengenalkan gue sama season pertama The Walking Dead (selanjutnya gue singkat TWD), yang sekarang gue sesali. Why? Karena setelah gue nonton enam episode pertama TWD, gue langsung berburu download an/CD tiap season. Gue mencoba mengejar ketertingalan gue. 

sumber: imdb.com

Gue menghabiskan tahun 2014-2016 untuk berburu download an TWD. Mulai pake wifi kampus, sengaja ke warnet buat download, nyari CD nya, atau yang terparah gue mendownload via tethring HP gue. Lu tau kan dulu mahal banget paket data? Apalagi sebelum ada promo forji.

Gue kalo udah suka sama sesuatu gue akan bener-bener buat ngikutin atau sekadar memenuhi rasa penasaran.

to be continue

fyi
Episode pertama di season pertama dari setiap serial selalu dinamai 'pilot'. Dan kalo lu akrab sama torrent atau streaming lu akan fasih sama penulisan S01E01. Yang artinya Season 1 Episode 1.

See you.

Aku berubah

11/25/2017 2
Dokumentasi pribadi
Setelah lebih dari setahun berada di lingkungan yang sama, orang yang sama, dan rutinitas yang sama, seakan pola pikir yang terbentuk mengikuti arus. Semua seakan menjadi sama saat kamu berinteraksi terus dengan hal-hal tadi. Seperti pemaksaan alam, pemaksaan yang cukup kuat. Terlalu kuat.

Percayalah dunia kerja perlahan-namun-sangat-pasti akan memberi pengaruhnya terhadap dirimu. Dirimu yang idealis, punya prinsip, punya sudut pandang tersendiri perlahan akan tergerus. Dirimu akan memaksakan diri untuk berada dalam posisi amanmu. Dan segala anganmu dulu akan tergerus, tertutup. Tergerus hingga tipis, tertutup berlapis-lapis. Hingga saat kamu sadar, kamu bukanlah dirimu yang kamu banggakan, dulu.

Aku telah berubah. Itulah diriku, kini.

Yakinku cukup kuat bahwa memang demikian. Aku berubah.

Walau dengan keras aku melawannya, alam tetap mempunyai kuasanya untuk mengubahku. Aku yang idealis, prinsipil, punya sudut pandang tersendiri sudah tiada. Yang ada hanyalah aku yang berusaha menerima aku yang baru. Yang dari dulu aku takuti.

Tapi aku tak bisa. Teriak nuraniku.

Aku tidak bisa terus seperti ini. Aku ingin, aku tetap aku yang dulu. Yang kuat, (sok) idealis, dan punya sudut pandang tersendiri akan dunia. Aku tidak ingin terjebak di rutunitas yang sama ini terus menerus. Namun, aku terlalu takut untuk mengambil langkah kecil untuk melawan perubahan tadi. 

Dan, aku sudah terjebak dalam posisi amanku.

Ini yang aku takutkan, aku yang lebih memilih untuk berada di posisi nyaman. Posisi yang seharus tidak secepat ini aku tempati.

Aku yang dulu selalu bertindak karena aku ingin bertindak, telah berubah. Kini, aku bertindak karena aku disuruh, bagian dari tugasku, atau yang terparah, segala tindakanku berdasar atas nominal yang aku terima. Ini mencederai prinsipku. Yang membuat diriku menjadi orang yang melakukan hal-hal yang tidak mengembangkan.

Aku harus bagaimana?

Aku hanya bisa mengeluh.

Kuharap kamu tidak mengeluh.


ps:
maaf konten sama gambarnya enggak nyambung :p

Setelah berhenti

9/10/2017 2

Berhenti

Itulah kata yang menggambarkan diri saya.

Saya berhenti menjadi saya seperti yang saya harapkan.

Saya berhenti. Bila ingin menggunakan kata yang lebih halus, saya berhenti sejenak.

Memilah-milih kata yang cocok.

Hiatus, write block, hilang arah, atau tak lagi punya tujuan yang dulu saya miliki.

Saya hapus berkali kali kata yang terpikirkan.

Dan, saya memutuskan bahwa saya

Sempat berhenti, terhenti, ataupun istilah lain yang mengarah bahwa saya sedang berjalan di tempat.

Seharusnya saya tidak begini. 

Guruku pernah berkata,

Jika tidak bisa berlari paling tidak, berjalan.

Namun, yang terjadi, kondisi saya bukan keduanya. 

Saya berhenti.

Berhenti dari dunia yang dari tahun 2010 ingin saya geluti.

Saya berkaca, bahwa saya selalu berhenti ketika saya tidak berhasrat.

Dan harus saya akui, hasrat itu sudah tidak ada ditempat sebelumnya.

Saya berhenti,

Sekali lagi saya tegaskan bahwa diri ini punya beragam alasan yang mengarah kesana.

Padahal, saya tidak ingin berhenti,

Sangat tidak menginginkan hal itu.

Saya tidak ingin dilupakan di dunia di mana saya ingin diingat.

Saya harus menghentikan pemberhentian ini.

Agar saya tidak terlalu lama bertahan ditempat yang bukan tempatnya.

Dan saya ingin tidak berhenti.

Walaupun saya tidak bisa berjalan,

paling tidak saya tidak berhenti.

Karena berhenti artinya tidak berjalan sama-sekali.

Hal itu bukan yang saya inginkan.

Setelah berhenti saya ingin kembali belajar untuk merangkak.

Dan saya ingin berjalan, bukan berhenti seperti saat ini,

Saya tidak boleh berhenti.

Tips Menjadi Guru yang Menyebalkan

6/29/2017 6
sumber : https://pixabay.com

Sebelum menuju topik postingan kali ini, saya mau mengucapkan.

Selamat Idul Fitri, 1438H. Semoga Ramadhan tahun ini memberi berkah untuk kita semua, dan kita kembali menjadi insan yang baik, baik kepada insan lain maupun ke Allah sebagai sang pencipta.

Saya melewatkan bulan puasa kemarin dengan tidak membuat secuilpun postingan untuk diposting di blog ini. Maafkan kesalahan saya. Semangat saya sedang turun. Mungkin karena saya ngeblog untuk mendapatkan apresiasi bukan karena pengen nulis.

Dengan segala kerendahan hati yang suci ini. Saya minta maaf untuk semua yang nyasar ke blog ini. Dan saya juga minta maaf kepada diri sendiri yang kurang memberi dorongan yang sedikit lebih keras.

Back to topic

Kali ini saya mau membahas bagaimana si caranya untuk menjadi guru menyebalkan, guru yang tidak disukai oleh muridnya. Guru yang menjadikan siswa tidak menyukai berada di sekolah. Silakan lanjut membaca.

  • Kasih PR terus
Yap, beri murid kalian banyak PR, mulai dari PR mengerjakan LKS, wawancara, cari informasi di koran atau internet, atau sekadar merangkum. Apalagi menjelang pembagian rapot, kalian bisa berdalih untuk menutup nilai yang kurang. Jangan beri dia kesempatan untuk bermain dengan temannya di rumah. Karena toh murid tidak akan belajar jika tidak diberi PR. Guru senior atau pun guru baru sering menerima aduan seperti itu dari wali murid, kan? 

Karena wali murid pun mendukung, sudah seharusnya kalian memberi mereka PR yang banyak. Agar si murid, 'belajar' di rumah? Setuju?

Setelah memberi PR, kalian bisa gunakan jam pelajaran di sekolah dengan mengoreksi bersama. Jadi, kalian tidak perlu repot-repot menghabiskan jam kosong kalian untuk mengoreksi. Ditambah kalian juga tidak dipusingkan membuat rencana kegiatan pembelajaran. 
  • Jarang bikin permainan
Tidak usahlah bikin permainan yang melelahkan kalian sebagai pengajar. Daripada harus berteriak, mengatur ini itu, atau mengganggu malam kalian untuk merancang permainan. Repot sekali, kan?

Efek permainan itu banyak, murid jadi senang dengan kalian, pembelajaran jadi kurang menjemukan, murid banyak bergerak artinya kalian harus bergerak lebih banyak lagi. Ditambah dengan melakukan permainan kelas jadi berisik dan pastinya mengganggu kelas lain.

So, hindari permainan dalam pembelajaran. Dan kalian akan fix jadi guru yang menyebalkan. Selamat!
  • Kerjakan apa yang ada di buku
Sumber: https://pixabay.com

Buku dibeli buat apa? Untuk dipelajari? So, daripada pusing mikirin kegiatan pembelajaran lain. Lebih baik kerjakan apa yang ada dibuku. Kan walimurid /pemerintah sudah mengeluarkan biaya cukup besar untuk membayar buku. Bagaimana jika mereka protes bukunya tidak digunakan dengan maksimal?

Pemerintah mungkin tidak protes, tapi yang mengajar di sekolah swasta mungkin akan diprotes wali muridnya jika bukunya jarang digunakan. Apakah saya benar?

Banyak informasi yang bisa didapatkan murid dari buku, kadang bahkan kalian sebagai guru tidak bisa mengimbangi informasi itu. Nah, karena buku adalah tempat segala ilmu dapat ditemukan, ngapain pusing-pusing. 

"Anak-anak, kerjakan halaman sekian sampai sekian. Di buku tulis, soalnya salin." Keluarkan kalimat sakti itu setiap hari. Yap, guru menyebalkan sudah kalian sandang.
  • Tidak bercerita
Berbicara tentu perlu energi. Dan energi kalian itu mahal. Jadi buat apa membuang energi untuk bercerita panjang lebar yang kadang malah ditanggapi murid dengan mulut menguap dan mata mengantuk. Enggak efektif dan efisien.
  • Jangan belajar dalam kelompok
Nilai dirapot adalah nilai individu tidak ada rapot yang dibagikan untuk kelompok. Jadi jika dalam pembelajaran dilakukan kelompok, bukannya itu percuma saja?

Pembelajaran dengan berkelompok tentu ada saja beberapa murid yang enggak cocok sama murid lainnya. Malah sampai adu argumen yang maunya menang sendiri. Daripada dibuat riweh sama urusan macam itu, ya pembelajaran kerjakanlah secara sendiri-sendiri. Jangan beri dia waktu untuk bersosialisasi dengan murid lainnya dalam pembelajaran. Murid ke sekolah untuk belajar bukan bersosialisasi.
  • Galak
Ketika gagal menguasi kelas, ini waktunya kalian mengeluarkan suara terbesar yang bisa kalian buat. Tatap mata murid dan buat kesan mata kalian seolah-olah bisa keluar dari tempatnya. Jika perlu jewer telinga nya hingga merah. Nah, kalo sudah begitu kalian akan ditakuti oleh murid alih-alih dihormati.

Saat kalian galak, kalian bisa menutupi bahwa kalian sebagai guru tidak terlalu menguasai materi. (Jika memang demikian).

Lakukan tips-tips tadi, jika ingin jadi guru yang menyebalkan.

Trust me, it's work.

See you.

Belum Bisa Move-on

5/13/2017 0

Berharap balikan, begitulah yang setiap kali gue inginkan setiap kali gue ingat dia.

Sudah 20 hari gue berpisah dengan kamar gue. Kamar dimana gue menghabiskan masa kuliah. Masa yang paling menyenangkan buat gue, masa dimana gue bisa leluasa. Seleluasa apa yang bisa gue bayangkan. Karena di kamar itu gue seperti punya dunia, dan punya kuasa atas dunia itu.

Namun, seperti kata sebuah pepatah,

Tak ada yang abadi.

Tepat tanggal 24 April kemarin, gue akhirnya melihat ruangan berbentuk balok itu untuk yang terakhir kalinya.

Lucu ternyata, ketika ruangan yang biasanya berantakan itu pada pengakhiran kembali rapi seperti saat gue pertama kali datang. 

Banyak yang gue lalui di kamar mungil itu.

Mulai dari berjam-jam melalui malam dengan ketawa enggak jelas ketika bertelpon ria di panggilan grup. Merasakan jatuh cinta, dan patah hati pertama kali. Atau sekadar merapihkan kamar yang tidak pernah bersih itu.

Berbincang dengan sahabat secara langsung, melakukan aktivitas 'gila', atau sekadar menyesap kopi sambil menulis skripsi.

Gue masih ingat saat dulu masih akrab dengan operator bolt. Karena rumah itu enggak tercover bolt, alhasil gue kudu beli antena tambahan. Gue melakukan beragam percobaan sampai pada akhirnya, gue bisa menikmati sinyal satu bar milik bolt. Boleh dikatakan. Gue jatuh cinta sama bolt, bukan sama sinyal yang sering blank spot itu, tapi sama perjuangan gue untuk tetap menggunakan bolt. Bahkan, gue pernah dapet hapenya dari kuis Bolt di Twitter.

Kamar itu juga, gue gunakan sebagai pelarian. Setelah gue lalui hari yang melelahkan, gue kunci pintu kamar dari dalam, lalu gue akan menikmati malam yang menyenangkan sekali lagi.

Di kamar itu gue punya dinding penuh post-it, gue tulis beragam angan, harapan, bahkan hingga kalimat motivasi disana. Rasanya gue selalu punya kegiatan menarik setiap kali bercermin. Gue jadi ingat bahwa gue selalu punya angan yang harus digapai.

Dinding sisi lainnya, ada sebuah peta Jabodetabek yang cukup besar. Bahkan jika jalan menuju rumahmu punya panjang lebih dari 20m, jalanan rumahmu akan tampak jelas di peta. Peta itu menyadarkan gue bahwa sebagai penduduk Jakarta, gue terlalu bodoh jika nyasar di kota yang tidak terlalu besar ini. 

Oia gue juga punya perpustakaan kecil disana. Dengan beberapa buku koleksi gue.

Entah kenapa, gue masih punya gambaran jelas akan kamar itu. Rasanya suatu malam nanti, gue akan kembali ke ruangan pengap itu dan melalui malam dengan menyenangkan seperti biasanya.

Kini,

Di kamar, atau lebih tepatnya bagian dimana gue tidur, ini gue belum menemukan sesuatu yang menyerupai dia. 

Gue tidak punya pintu yang bisa dikunci, gue enggak punya dunia sendiri apalagi kuasa akan dunia itu. Disini gue seperti menumpang dan mengikuti sebuah peraturan di dunia dimana gue rasa, gue enggak seharusnya berada. 

Tidak ada dinding penuh post-it, tidak ada peta, yang ada hanya tumpukan buku yang jauh dari kesan perpustakaan mini. 

Semua seperti menghilang, dan gue benci saat mengalami kehilangan.

Bagaimana kabar mu?

See you in my last chance, in my dream.


Baca tulisan menarik gue tentang kamar itu di Kontrakers Sejati