Dekade Yang Sip!

5/28/2020 0

Akhirnya blog yang enggak jelas juntrungannya ini genap berumur
sepuluh tahun.
Hari ini pas banget dia berusia 10 tahun alias satu dekade

Walau belum menghasilkan uang yang banyak. Gue tetep bersyukur memilikinya karna dia bisa menjadi tempat gue membuang segala uneg-uneg. Gue cuman bisa berharap uneg-uneg tadi akhirnya bisa menghasilkan uang ๐Ÿ˜‚

Sepuluh tahun,

Jika diibaratkan seorang manusia, masih anak-anak. Masih usia SD. Kurang lebih kelas 4/5 SD. Masih jadi orang yang sangat bergantung.

Sama kayak blog ini, tetep akan butuh gue sebagai pengeraknya. Dia enggak akan menjadi apa-apa selama gue enggak berbuat apa-apa.

Tahun 2010,
Waktu itu gue kelas 1 SMA

Gue membuat blog ini di Warung Internet dekat rumah daerah Tanjung Priok. Warnetnya rame sama bocah-bocah yang main poker atau game facebook lainnya.

Kalian mungkin tau kalau tahun 2010-an banyak orang masih suka permainan-permainan yang ada di facebook atau mungkin sekarang masih ๐Ÿคจ

Awalnya gue agak malu buat bikin, karena di sana itu setiap komputer di jajar mengelilingi tembok.
Apapun yang dilakukan pasti ketauan sama yang OP atau sama pengunjung lain.
Gue malu aja dikelilingi sama pemain poker gue malah buat blog.

Kurang lebih warnetnya kayak gini
sumber : https://apollo-singapore.akamaized.net/v1/files/0htr6fcgsme12-ID/image;s=850x0

Gue jadi pengunjung tetap di sana selama beberapa minggu sebelum akhirnya membuat blog ini. Selain untuk mengakrabkan diri sama lingkungan, juga buat ngerjain tugas sekolah. (alias Copy-Paste halaman Wikipedia enggak diedit sama sekali formatnya)

Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat untuk dilalui
Gue masih inget postingan pertama gue diisi sama bahasa yang enggak jelas dan penulisan yang enggak banget. Lu baca aja dah.

Bahkan paling parah tahun lalu
Gue cuman buat satu postingan

Minat ngeblog gue bisa dibilang menurun tiap tahun, mungkin karena punya banyak kegiatan yang menyibukkan atau karena paham kalau blog ini menyulitkan gue yang enggak pinter-pinter banget buat merangkai kata.

Padahal untuk mengisi blog si empunya mesti mau berjuang dan melawan Writer's block. Lah gue malah diturutin.

Gue sekarang enggak tau harus nulis apaan lagi. ๐Ÿ˜

Pokoknya gue cuman bisa berharap bahwa gue semakin rajin dan bisa menghasilkan sesuatu dari blog ini. Dan yang terpenting semoga kalian suka.

See You.

Ceritaku Selama #dirumahaja

4/29/2020 2

Covid-19 belakang pasti sering kalian baca, denger, cari, atau entah kenapa muncul di beranda sosial media. Penyakit yang tidak begitu mematikan dengan tingkat penularan yang tinggi. Bikin doi cocok jadi "Pendemik".

Oia, kalian udah cuci tangan belum?
Kalau belum,
Yuk! Cuci tangan dulu!

Terus saran gue momen gini tuh dijaga deh tangan kalian dari megang sesuatu apalagi di tempat umum. Selain benda itu bisa aja ada virus yang enggak keliatan atau benda itu bisa aja melukai kalian. Covid-19 dan jari yang terluka itu enggak cocok banget. Lu tau kan kalo luka kena sabun itu enak banget!
Soo, Staysafe semua.

Oia, Perkenalkan gue Dicky
(kali aja belum kenal)

Gue salah satu guru lumayan keren yang ngajar disalah satu sekolah swasta di Kota Bekasi, seperti yang kalian tau Bekasi juga ikut PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) kaya Jakarta dan wilayah sekitarnya.

Walau PSBB Bekasi baru mulai tanggal 15 April kemarin, gue libur jauh sebelum itu. Lebih tepatnya gue terakhir masuk itu tanggal 16 Maret 2020 (Persis kayak Gubernur DKI yang ngeliburin sekolah untuk pertama kali). Sebulan sebelum PSBB kota Bekasi. Karena sekolah gue pusat nya ada di Jakarta jadinya ikutan libur deh.

Gue si enggak mau ngebahas bagaimana enggak pedulinya lingkungan gue sama itu PSBB. Gue lebih suka ngebahas gimana enaknya hidup gue belakangan ini.

dan enaknya menjadi pahlawan karena #dirumahaja.

Pasti lu pernah ngomong atau kepikiran kayak gini

"Gue lagi nyari kalender yang tanggal merah semua"
"Cape banget  ya. Udah pulang kerja masih harus ngerjain tugas kerjaan lagi"
Baru bangun tidur terus bilang "Masih ngantuk, mau tidur tapi takut kesiangan."
atau "mau pakai internet malam yang banyak en cepet, tapi besok kudu kerja/kuliah pagi" Sebuah kebimbangan
"Siang ini panas banget si, mandi terus tiduran enak kali ya."
"Dosen enggak masuk ngasih kabar di menit-menit terakhir, gue udah jalan. Sayang bensin banget."

Emang si namanya WorkFromHome tapi rasanya itu kayak nikmatin kalender yang semuanya tanggal merah. Lu bebas mau bangun jam berapa, mau tidur jam berapa sing penting besoknya enggak ada video conference . ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Terus kalian enggak harus macet-macetan di jalan setiap pulang dan pergi kerja/kuliah, enggak bakalan ngerasa sia-sia udah berangkat eh ternyata dosennya berhalangan, bisa tidur siang sepuasnya juga. Itu kalau kalian menjadi orang beruntung buat WorkFromHome.

Buat yang tetap harus kerja, gue doakan semoga kalian dilindungi dari hal-hal buruk kayak covid-19. Jangan lupa lakukan prosedur pencegahan ya ๐Ÿ‘

Selama #dirumahaja gue punya banyak kegiatan yang biasanya sulit buat dikerjaain atau terlalu males buat dilakukan. Kayak belakangan gue jadi akrab lagi sama kegiatan membaca, nonton serial, atau sekadar dengerin podcast

Mulai dari baca, gue kembali rajin buat baca. Jenis bacaan gue pun semakin beragam. Biasanya gue cuma kuat baca fiksi karena enggak perlu pemikiran lebih. Terus belakangan gue melebarkan wawasan kebacaan gue ke nonfiksi. Gue mulai suka bacaan tentang tokoh-tokoh yang keren, buku buku motivasi, buku ilmiah atau cara ngajar.

Selama #dirumahaja gue baca Gege Mencari Cinta, Koala Kumal, Jika Aku Milikmu, Juru Bicara, 100 orang paling berpengaruh,  dan beberapa buku lainnya.

Buku-buku yang tadinya enggak pernah gue baca akhirnya gue buka lagi. Bahkan hampir tiap malem gue akan jongkok di depan lemari buku sembari memilih buku buat dibaca.

Bahkan gue sampe beli buku-buku baru. Dengan tema yang random


Buku nonfiksi itu perlu waktu yang lebih. Gue perlu berhenti sejenak untuk memasukan gagasan si buku ke otak gue. Semacam membuat bacaan masuk akal di pola pikir gue. ๐Ÿคฃ

Selain baca, gue jadi punya banyak referensi film/serial yang asik buat ditonton selama #dirumahaja

Awalnya gue milih-milih dalam nonton serial, karena gue enggak siap sama perasaan "terus gue ngapain sekarang?" yang muncul tiap kali gue selesai nonton serial. Sekarang gue jadi nonton apa aja. Bahkan gue nonton serial drama korea (mungkin banyak yang jadi penonton drakor belakangan), gue nonton dokumentasi (ada serial netflix judulnya "pendemic" yang muncul bahkan sebelum si covid-19 jadi 'pendemik'), gue nonton podcast yang ada di youtube, gue dengerin podcast beneran di spotify.

Gue bahas dikit aja ya yang serial. Nanti podcast seru gue bahas di postingan berbeda. Siapa tau ada yang mau baca ๐Ÿคฃ


sumber: makassar.tribunnews.com

Drakor pertama yang gue tonton itu Itaewon Class. Drakor yang enggak jadiin cinta sebagai sajian utamanya. Tetep ada si cintanya tapi isinya lebih menceritakan seorang yang ambisius ingin mengalahkan orang kaya yang enggak mungkin bisa dilawan. Dia ngajarin gue kalo punya ambisi harus dikejar sampai tercapai, tapi jangan juga lupaain orang yang menemani kalian menggapai ambisi tadi.

Sumber: Tirto.id

Drakor kedua yang gue tonton itu Hi Bye, Mama

Pokoknya drakor ini menceritakan seorang ibu yang meninggal saat mengandung bayinya. Menjadi arwah selama beberapa tahun. Lalu diberi kesempatan untuk 'hidup lagi'. Drakor ini si cocok buat kalian yang gampang sedih, atau mau sedih tapi enggak mau terlihat cengeng. Sumpah banyak adegan yang bikin gue nangis sejadi-jadinya.

Misalnya,
Ketika pernikahan seorang anak perempuan yang bapaknya sudah meninggal, si anak sedih karena dia telat nikah jadinya si bapak 'keburu' meninggal.
Tokoh utama mewakili si bapak menyampaikan pesan melalui surat ke anaknya untuk ngasih tau si bapak minta maaf tidak bisa menemani anaknya menikah, enggak mau anaknya ngerasa terbebani. Ini menjadi sedih karena di surat itu ada kalimat yang sering diucapkan ayahnya ketika si anak mengalami kegagalan. "Tak apa-apa. Ini bukan masalah besar."

Gue nangis banget disitu, sumpah.
Film ini punya banyak karakter, tapi secara ciamik bikin kita perhatian sama semuanya.

sumber: Kumparan.com

Drakor ketiga itu Hospital Playlist (masih ongoing, baru episode 7 dari 16 episode yang dijadwalkan). Ceritanya tentang 4 dokter laki-laki dan 1 dokter perempuan yang berteman sejak masa kuliah lalu bekerja di Rumah sakit yang sama. Drakor ini jadi naik daun gara-gara, orang-orang lagi fokus dan menaruh empati besar ke tenaga kesehatan yang sedang jadi pahlawan saat covid-19 ini. Awalnya gue suka karena mereka menyajikan profesi yang sedari SD gue jadikan cita-cita. Tapi lama-lama membosankan karena terlalu banyak ngomongin istilah medis, gue males mikirnya ๐Ÿ˜‚

sumber: liat gambar

Serial ke empat itu bukan drakor tapi serial USA, dan kebetulan juga punya 4 season.
Judulnya The Good Place isinya menceritakan akhirat. Tentu dengan pandangan kita sebagai manusia. Diserial ini diceritaain bahwa semua pengurus 'surga/neraka' adalah staf yang bertugas merancang surga/neraka masing-masing. Setiap staf mengurusin beberapa orang aja (1-4 orang mungkin) jadinya stafnya banyak banget. Ini sebenernya drama komedi cuman ngajarin kita untuk jadi orang baik atau menanggung akibatnya setelah meninggal. Disini lebih diperlihatkan gambaran surga menurut pengarangnya (sesuai sama judul mungkin ya), nereka hanya digambarkan dalam bentuk suara, atau dialog antar staf 'neraka'.
Ada satu tokoh yang tergila-gila dengan manusia (mulai dari penjepit kertas, gantungan kunci, macet), dan menyebutkan beberapa kali serial 'Friends' yang menurutnya semua cocok masuk neraka kecuali si Phoebe buffay.
Pemaran Phoebe (Lisa Kudrow) muncul di episode-episode terakhir season 4 tapi bukan sebagai Phoebe.


Sumber: thecinemaholic.com

Serial selanjutnya itu Kim's Convenience sebuah serial Kanada yang menceritakan keluarga pendatang asal Korea. Ini juga drama komedi sebenernya. Dia punya 4 season, yang tiap seasonnya cuman 12/13 episode dan berdurasi kurang dari 30 menit tiap episode. Gue cari-cari si bakalan lanjut sampai 6 season, tapi karena lagi pendemik kayaknya bakalan mundur. Dia biasanya tayang dari awal tahun sampai akhir Maret atau awal April.

Isinya menceritakan sebuah keluarga yang menjalankan bisnis toserba dengan gaya minimarket. Setiap episode menyajikan persoalan yang berbeda, dan hubungan tiap episode hanya seperti berbeda hari aja. Enggak terlalu berhubungan tiap episode.
Yah gitu lah pokoknya.

Kurang lebih itu yang gue lakukan selama #dirumahaja.

Gue mengajak semua pembaca untuk berdoa agar kondisi sekarang cepat berlalu biar kita bisa kembali hidup normal.
Untuk para bos yang baik hati, mari kita doakan semoga perusahaannya tetap stabil sehingga tidak sampai terjadi PHK besar-besaran.
Untuk para pekerja yang harus keluar rumah biar ada penghasilan, mari kita doakan keselamatan dan kesehatannya agar tidak ada keluarga yang kehilangan.
Bagi yang tidak terpengaruh marilah kita ulurkan tangan untuk membantu, saya tau kita bayar pajak. Tapi membantu tidak ada salahnya kan?
Pesanlah gofood/grabfood tapi makanannya untuk si driver.
Lewat situs kitabisa, atau mungkin ada temanmu yang mengadakan penerimaan sumbangan bagi keluarga terdampak covid-19.
Saran saya jangan salurkan bantuan secara langsung selain mengurangi kemungkinan kalian keluar rumah, dengan cara itu memperbanyak jumlah sumbangan, Kan?

Aduh jadi panjang.
Bye.

Akhirnya Menyerah

3/31/2020 2
Mereka pada akhirnya menyerah juga,
bukan karena mereka terlalu cepat putus asa
tapi karena mereka sudah terlalu lelah mencoba
mencoba bahwa mereka bisa saja saling terima
bahwa mereka individu yang berbeda
yang harus saling tenggangrasa
dan saling terima
akhirnya mereka tersadar,
mereka bukan individu yang sama
sekeras dan segigih apapun mereka mencobanya
satu yang akhirnya harus mereka terima,
mereka sudah tidak bisa saling mengharapkan

Si Pria,
sudah melakukan banyak hal untuk si wanita,
paling tidak itu yang dia yakini
si pria menutup angan-angannya
agar tak kehilangan pijakan saat meminang
tapi ternyata angan-angan yang dikuburnya
perbuatan sia-sia

Si Wanita,
dengan angkuh merasa,
ia sudah tidak bisa lagi menerima
pria yang ia rasa tak seperti yang ia inginkan sejak lama
walau dia telah merima pria itu awalnya
dan telah rela bertahan lama
dengan anggapan bahwa pria itu akan bisa menjadi yang diinginkannya
tapi ternyata kerelaanya
tak berbuah apa-apa


Si Pria,
berpikir
"apa yang akan terjadi padanya, setelah ini?"
si pria berusaha tegar,
walau ia kehilangan sesuatu yang dia jadikan alasan
tapi, jika memang sudah menyerah, aku bisa apa?
dia sudah banyak memohon selama perjalanan
meminta dan menjatuhkan egonya
baginya,
wanita itu seharusnya menjadi tempat pengakhirannya

Si wanita,
sudah memikirkan dengan segala konsekuensi atas tindakannya
bahwa jika ia melepaskan pria itu, dia tak akan pernah kembali
bahwa, pria yang dia sayangi itu.
tidak akan pernah menemuinya lagi
tak akan pernah menjadi tempat ia bercerita tentang hari-harinya
Ia, yakin
sekarang dia telah menjatuhkan harapan pria itu akan dirinya
ia tidak seharusnya bersedih jika bersama pria itu
tapi pria itu lah yang membuat ia sedih belakangan
jadi, sudah saatnya merelakan

Si Pria
tak tau kemana lagi tujuannya sekarang
karena yang menjadi tujuannya selama setahun belakangan
sudah menghardiknya
sekeras yang pernah dia terima

Si pria sadar,
bahwa tak apa-apa untuk menyerah
Sepahit apapun keadaan setelahnya
Ia tahu
Ia telah Kehilangan wanitanya.

Dan,
Akhirnya mereka saling menyerah

Teruntuk Dicky Tahun 2016

2/29/2020 0

Hampir 4 tahun berlalu sejak kamu menuliskan surat itu, aku memang bukan yang kamu inginkan. Tapi, tidak ada yang melarangnya, kan?

Tahun ini kamu menginjak usia 26 tahun, empat tahun lebih tua dari surat itu. Kamu terlalu tua untuk nongkrong di cafe atau sekadar duduk tanpa memesan apa-apa di restoran fastfood. Tapi kamu masih suka sekadar kumpul tanpa tujuan apa-apa.Walau semakin kesini semakin sulit mangajak kumpul teman-temanmu. 

Empat tahun setelahnya, kamu masih memakai jenis pomade yang relatif sama. Pada tahun itu, kamu kira kamu pakai pomade karena rambutmu tipis kemudian kamu semakin sadar bukan karena itu, tapi karena rambutmu berantakkan, tidak bisa diatur hanya dengan sisir, apalagi tangan.

Pada tahun ini parfum mu bukan lagi refil, karena kamu pindah dan tempat ini tidak bisa memberikan aroma yang sama jadinya kamu berganti-ganti parfum. Mulai dari parfum zodiak miniso, AXE, ataupun parfum original yang kamu idamkan sejak lama (barang reject tapinya) ๐Ÿ˜‰

Kamu gunakan secara random sesuai dengan ketersediaannnya di meja riasmu.

Setahun sejak kamu menulis di surat itu, kamu pindah ke IOS, bukan karena untuk meningkatkan status. Tapi karena kamu lebih suka hal-hal yang simple. Kamu juga sudah tidak tinggal di Priuk, kamu hidup mandiri di pinggiran kota. Orangtuamu pun sudah tidak tinggal di sana. Jujur, terkadang kamu rindu kendaraan berat yang sering kamu jumpai di sana, dulu.

Tahun itu kamu dipaksa keadaan untuk keluar dari tempat kerjamu. Masih menyakitkan memang, tapi kamu paham bahwa kamu memang harus mengalaminya untuk menjadi dewasa. Teman-teman kerjamu dulu juga masih sering mengajakmu berkumpul, tapi kamu lebih cenderung untuk menghindarinya. Kamu sudah berkali-kali berganti teman, sebentar lagi kamu juga akan kehilangan teman lagi. Kamu tau "people come, and go" tapi kamu masih tidak terbiasa akan hal itu.

Pada tahun itu kamu baru menyelesaikan skripsi, dan pada tahun ini bahkan kamu tidak bisa menemukan benda itu. Terakhir kamu lihat sekitar awal tahun 2018. Entah dimana sekarang.

Tahun itu kamu sedang kredit motor, tahun ini motornya tetap sama, belum ada keinginan untuk menggantinya, atau lebih tepatnya belum ada dana untuk menggantinya. Dulu kamu suka perjalanan jauh karena menikmatinya, sekarang kamu lebih  menikmati berlama-lama di tempat tujuan daripada diperjalanan. Tahun ini kamu baru menyelesaikan kredit laptop. Entah apa yang kamu pikirkan.

Orangtuamu masih sehat, walau harus sering-sering mengkonsumsi obat. Kamu jarang melihat atau berkunjung. Bukan karena sombong, tapi karena kamu menyukai kebebasan yang kamu punya sekarang. Bahkan kamu takut untuk ikut tes CPNS karena takut kebebasanmu direnggut.

Saya rasa itu yang harus Dicky 2016 ketahui.

Satu lagi, seharusnya mulai tahun ini kamu sadar bahwa kamu terlalu banyak mengkonsumsi minuman manis.

Tidak banyak yang berubah selama empat tahun sejak surat itu. 
Ya, sungguh.

Siapa yang Bisa Menerima ini?

2/01/2020 2
Banyak orang bilang
Perpisahan melengkapi pertemuan,
Pergi menggenapkan datang,
Atau segala yang memiliki awal pasti akan berakhir.
Tapi saat ini aku belum ingin untuk dilengkapi ataupun digenapkan
Tidak dalam waktu sedekat ini,
Tidak dengan semendadak ini.
Aku tidak bisa menerimanya.

Karena kalian harus tahu,
Aku tidak pernah suka keadaan yang begini.
Aku bahkan membenci ini.
Keadaan yang mengharuskan ada yang pergi.
Tidak benar-benar pergi memang.
Tapi tetap saja kita tidak lagi parkir ditempat yang sama, kita tak lagi bisa menghujat apa-apa di ruangan yang sama.
Atau sekadar saling sapa disela-sela waktu mengajar.
Kita mungkin masih bisa membenci orang yang sama, atau tetap saling sapa via ruang chat semata.
Tapi rasakan tak akan sama, Kan?


Aku tak tau siapa yang harus lebih kuat,
Kalian yang harus menerima kenyataan ini.
Atau aku yang faktanya harus mengalami kehilangan yang begitu menyakitkan seperti ini, sekali lagi.
aku masih tak bisa menerimanya.

Aku benci untuk membayangkan
Jika langkah kalian bisa saja benar.
Keberanian kalian akan menghasilkan sesuatu yang indah pada akhirnya.
Dan pilihanku bisa saja salah.
Aku toh, terlalu pengecut.
Tak seperti kalian

Aku makin tak suka untuk tau bahwa,

Mungkin saja kalian bisa mendapatkan yang lebih baik
Dan aku tidak berani untuk bertindak layaknya kalian

Aku sangat tak bisa menerima,
Bila tau bahwa pada akhirnya,
Kita akan dipaksa keadaan untuk saling melupa
Lalu kalian memiliki rekan yang baru
Teman berbagi kisah yang lebih hebat.
Pendengar yang jauh lebih mendengar.
Bukan tukang menyela atau menghina macam Aku.

Aku tak ingin menerima
Bahwa kita akan kembali seperti dulu
Tak saling kenal, tak saling mengetahui
Tak tau kepribadian dan kabar terkini.

Siapa pula yang bisa menerima bahwa
Kita akan berakhir engan untuk menyapa.
Grup WhatsApp akan kehilangan arwahnya
Takut untuk keluar, tapi sengan untuk menimpali
benci dengan segala pembahasanya
Karena selalu tentang Ia yang menjadi alasan kalian pergi.








Sampai ketitik ini.

Aku masih tak bisa dan tak akan pernah bisa menerimanya.
Setidaknya itu yang harus kalian pahami.

Mencinta dengan Ragu

9/01/2019 0

Jika Kamu boleh ragu. Apa aku juga boleh?
“Hai.”
Aku tertegun.
Suara itu menghamburkan lamunanku.
Setelah beberapa saat melihat sekeliling dan cukup yakin tidak ada yang mengenaliku di tempat ini.
Aku kembali ke lamunan ku
Sebentar, mari aku ingat-ingat.
. . .
Aku, kamu, dan (yang semoga masih ada) kita
Sedang berada dalam tahap saling meragu
Hanya kamu sebenarnya.
Tapi toh aku yang selalu diragukan pada akhirnya juga ikut meragu
Padahal rasa itu tidak pernah ada sebelumnya
Sampai akhirnya kamu berhasil membuat ragu menjadi milik kita berdua
Ragu… Ragu …. Ragu ….
Kuulang kata-kata itu berharap pada akhirnya, Ia tak berarti apa-apa.
Namun, tampaknya sia-sia.
Karena semakin kesini, malah semakin besar rasanya.
Ragu . . . .
Setiap manusia pernah merasakan hal itu.
Ragu akan dirinya, ragu akan pekerjaannya, ragu akan segala tindakannya.
Dan tahapan paling  parah dari itu adalah meragukan orang lain
Siapa aku, sampai nekat meragukan kamu?
Dan Siapa juga kamu? Berani-beraninnya meragukan aku?
Aku tidak tahu-menahu ragumu
Jadi,
Aku hanya akan menceritakan bagianku saja.
Ragu… Ragu . . . Ragu .   .   .   .   .   .   .
Kembali kuulang kata itu.
Aku sedang meyakinkan, bahwa aku sama sekali tak begitu.
Karena, usaha untuk menjadikan kita tetap ada masih terus aku lakukan.
Walau tak terlihat nyata dipandanganmu.
Ragu
Bukan pertama kali muncul disisi ku
Dulu aku ragu bisa mendapatkanmu
Setelahnya
Aku ragu bisa bertahan lama denganmu
Kemudian
Aku juga ragu
Apakah ini akan bergerak kearah yang benar?
Ke arah yang bagi sebagian orang, menjadi tujuan akhirnya.
Aku selalu berusaha mengusir semua raguku, dengan kenangan-kenangan yang sudah pernah tercipta diantara kita
.
Menikmati senja di hutan bakau
Bersepada berkeliling di tempat wisata
Atau bercanda tak jelas di hutan kota
Atau aku usir Ia dengan pikiran bahwasanya
Untuk mendapatkanmu, dulu, tak sedikit yang aku perjuangkan
Alasan pertama kumenyukaimu
Saat berhasil mendapatkan nomer telpon genggammu
Rasa ketika sadar bahwa umpanku disambut seperti yang aku harapkan
.
Tapi,
Untuk akhir yang mungkin tidak mengenakan kelak.
Aku hanya ini bilang
“Hei. Aku tidak ingin diragukan. Tapi jika kamu terus-terusan begitu, aku bisa apa?"