Chapter Finnale - Jadi Begini Ceritanya

7/01/2016 8
Mak, dikit lagi Dicky jadi SP,d

Ini adalah postingan penutup, setelah menyelesaikan tentang 'tulisan itu' - SKRIPSI (red)

Ada baiknya, kalian baca dulu beberapa postingan sebelumnya

Jadi begini ceritanya...

Setelah menempuh perjalanan yang enggak gampang-gampang amat, akhirnya genap sudah gue malalui masa kuliah S1, setelah bertahun-tahun harus PP Priok-Setiabudi, setelah bertahun-tahun mengalami macet di Manggarai, menikmati lamanya lampu merah Matraman, berjam-jam di kantin deket kampus, menjadi anak yang akrab sama orang tua, mencoba susahnya menjadi anak kos, sampai menemukan oasis perjalanan melalui Jalan HOS. Cokroaminoto, gue pun akan mengakhirinya beberapa bulan kedepan.

NB : FYI, Jalan HOS. Cokroaminoto itu jalan paling asik setelah motor dilarang melalui Jalan Thamrin.

Jadi begini ceritanya...

Banyak yang sudah gue lalui selama menjalaninya masa kuliah. Mulai dari cupu mencari identitas diri, sok akrab sama mahasiswa baru atau senior, sampai cari muka sama beberapa dosen. Yang berbuah di akhir semester, senior ngasih jalan gue mendapatkan pekerjaan, dan dosen pembimbing yang sangat memudahkan gue menyelesaikan skripsi, jujur selama menulis skripsi, gue merasa kedua dosen itu kayak 'malaikat' dalam wujud manusia.

Tentunya Allah yang memberikan malaikat itu buat gue. Semenjak Allah memberi beragam kemudahan dalam menyelesaikan skripsi, gue enggak pernah absen untuk menyisipkan terima kasih kepada-Nya yang gue ucapkan berkali-kali.

Jadi begini ceritanya,

Skripsi yang menyiksa gue belakangan, yang sampe mengharuskan tipi di ruang keluarga dimasukin ke kamar orang tua, akhirnya selesai. Selesai sudah pertanyaan nyokap yang belakangan selalu ngomong "udah beres?" atau "daripada maen mending ngerjain" 

Haha, sudah selesai. Dan gue pun menyelesaikannya dengan beragam kepuasan, sambil mengucap syukur yang tak henti-hentinya.

Dilain sisi,

Sedih memang, ketika salah satu dosen penguji gue bilang "ini adalah momen terakhir kita bisa berdiskusi sama mahasiswa"

Jujur gue tambah sedih ketika dia juga mengucapkan "ini adalah tahapan akhir, selamat bagi kamu yang sebentar lagi akan menjadi sarjana" yang dia ucapkan kepada seluruh mahasiswa yang dia uji hari itu.

Memang si gue bukan mahasiswa dengan IPK yang memuaskan kalo dibandingkan sama temen-temen gue, dan gue juga bikin skripsi yang biasa aja. Tapi itu udah cukup mengantarkan gue ke jenjang asli dalam kehidupan. Yap, menjadi dewasa, dan menjadi pekerja. Udah cukup nyusahin orang tua. Udah cukup jadi beban bagi mereka beberapa puluh tahun belakangan. Dan inilah saatnya bagi gue untuk membalasnya.

Jadi begini ceritanya,

Gue kan pernah cerita di postingan ini, kalo gue lagi seleksi di sekolah swasta. Dan Alhamdulillah, sehari setelah gue sidang, gue dan teman-teman gue dinyatakan secara sah menjadi bagian dari sekolah tersebut. Yap, semenjak hari itu gue semakin yakin kalo kita dekat sama Allah, Ia akan memberi jalan tol bagi kita. Yap, jalan kehidupan yang tanpa hambatan.

Agak malu emang sama ibadah gue yang masih bolong, tapi Dia masih bisa cinta banget sama gue kayak gini.

Thanks, Allah.

Semua ini bagi gue berkah ramadhan.

Akhirnya gue semakin mencintai ramadhan, dan menanti ramadhan selanjutnya.

NB  : jujur nih ya, gue ga begitu kuat nahan laper pas ramadhan :p

Ramadhan Datang

6/14/2016 6


Ramadhan datang alam pun riangmenyambut bulan yang berkahumat berdendang kumandang azanpertanda hati yang senang
Itulah sepenggal lirik yang sangat gue ingat belakangan ini. Yap Ramadhan kembali menyapa, waktunya untuk menyambut dengan suka cita. Bahkan siang hari di ramadhan tetap sejuk. Alam juga ikut menyambutnya.
Inti paragraf sebelumnya gue enggak ngerti maksudnya apaan. Jadi kalo lu bingung itu enggak nunjukkin kalo lu kurang pintar kok, santai aja.
Lanjut
Inti yang paling menakutkan dari ramadhan bagi kaum pemakan segala tiap jam ini adalah tidak diperbolehkan makan, dan minum. Itulah cobaan ter beratnya. Emang si puasa di Indonesia hanya 13 jam. 
Tapi enggak minum, dan makan seharian itu berat bagi gue, apalagi gue itu tipe orang yang kalo makan ya laper, eh kebalik. 
Malah yang terjadi belakangan, kemampuan tubuh gue untuk membedakan antara pengen makan sama pengen ee juga menurun drastis. Jadi pernah beberapa kali gue udah di wc eh enggak keluar itu ee.
Balik ke tujuan post ini dibuat, gue mau berbagi sedikit kisah dalam sepuluh hari pertama ramadhan kali ini. Nikmati yaaaa.
Puasa kali ini bagi gue emang sangat menakutkan, puasa kali ini gue menghindari untuk menghitung hari, karena semakin banyak hari yang berlalu gue pun semakin tertekan untuk menyelesaikan kuliah.
Banyak problematika yang gue miliki dalam ramadhan kali ini, misalnya gue harus lulus sebelum tahun ajaran baru. Kalo enggak gue bisa aja gagal diterima disalahsatu sekolah swasta bonafit di bilangan pulomas. Tapi gue berharap semoga pihak sekolah ngasih kompensasi gue untuk menambah satu semester buat ngelarin kuliah kalo misalnya gue tidak bisa lulus semester ini. Aaaamiiiin. Tapi lebih afdol lagi kalo gue bisa lulus semester ini tanpa harus nambah semester. Itu lebih aaaamiiiin. 
Disisi lain banyak banget hal yang bisa bikin gue sulit, kayak misalnya penelitian yang cuman seminggu, padahal di jurusan gue, penelitian paling minimal dua minggu untuk jenis skripsi yang lagi gue kerjain. Belom lagi kalo penguji sidang gue sama kayak penguji seminar proposal, pasti dia bakalan nagih yang dia minta, misalnya disuruh dibuatkan video atau penguji satunya lagi yang sangat teliti.
Ditambah path, Instagram, dan bahkan Facebook udah diisi oleh beberapa mahasiswa angkatan gue yang memposting foto dirinya dengan selendang bertuliskan nama dilengkapi gelar S.Pd dengan ucapan bersyukur di caption nya. Menambah beban bagi mahasiswa yang belom dinyatakan lulus kayak gue....
Kalo diinget-inget tiap ramadhan gue selalu beda, ada yang gabut segabut-gabut nya, ada yang galau segalau-galau nya, ada yang bahagia kebangetan,  dan ramadhan kali ini diisi dengan kecemasan yang sangat besar. Semoga kecemasan di ramadhan ini akan menjadi berkah bagi gue, dan bagi mahasiswa angkatan akhir yang sedang berjibaku dengan skripsinya. AAAAMMIIIIIIINN
Kalo postingan kali ini enggak enak dibaca maaf ya, gue lagi banyak pikiran. Ini gue post asal untuk update blog aja. Kasian udah sebulan gue cuekin, mahal nih bayar domainnya. 

#Chapter02 - 6K Ku Kejar Kau, Kau Ku Kejer

5/03/2016 2

Ini edisi ketiga

Edisi Pertama #Chapter00 - Sesumbar Orang Malas
Edisi Kedua #Chapter01 - Mengenai Kamu

Setelah sukses membeli printer untuk 'tulisan itu' yang gue ceritakan dipost sebelumnya kali ini gue mau cerita sedikit perkembangan si tulisan itu. Semoga aja ini cukup menarik untuk kalian baca ya. Kalopun enggak menarik ya baca aja sih, emang susah ya? Tinggal baca doang juga.

Oia, hari ini adalah hari pendidikan nasional. Jadi aku masih bertanya, kenapa ya yang dibuat hari libur tanggal satu Mei nya bukan tanggal dua nya?

Apa kalian bisa menjawabnya?

Lanjut setelah tulisan itu kembali gue jamah setelah sekian lama. Gue sampai dibagian gue akan daftar untuk presentasi di depan dosen biar tulisan itu emang cocok untuk diteliti. Cocok banget malahan.

Karena udah lama dicuekin, tulisan itu pun terbengkalai

Tulisannya di beberapa halaman sudah mulai berdebu, di beberapa halaman lainnya sampai ada warung yang jadi tempat nongkrong abang-abang supir angkot. Dan beberapa halaman sisanya malah sampai muncul perumahan liar. Ilustrasi aja si. Saking lamanya.

Nah karena gue sebagai pemerintah pusat tulisan itu enggak mau gue kalo kelamaan buat ngegusur sampai sampai nanti harus ada pertumpahan darah. Gue pun mengambil keputusan cepat untuk mengembalikan tulisan itu ke fungsi awalnya yakni menjadikan gue orang dengan nama belakang S.Pd

Masih terbayang wajah dosen gue ketika setelah empat bulan gue ketemu dia lagi. Dia dengan senyum ibu kepada anaknya bilang kurang lebih gini "Aduh, kamu kemana aja si? Ibu sempet kira kamu ganti dosen loh. Lama banget deh kayaknya, sibuk ya?" Gue pun hanya bisa senyum sambil menahan rasa malu yang lumayan gede sampai bikin gue terbatuk-batuk. Jujur gue emang batuk, tapi bukan karena malu, karena gue emang keren. Bye

Singkat cerita dia pun memulai bimbingan. Dan seperti bayangan gue. Dia pun meminta waktu seminggu untuk mengoreksi tulisan itu. Gue mau enggak mau harus terima, padahal itu pendaftaran berakhir sekitar 10 hari lagi. Dan gue harus membuang 7 hari diantaranya untuk nunggu hasil koreksi-an dia. 

Gue sempat meminta dia mempercepat koreksinya, tapi dia bilang enggak bisa soalnya hari selain hari yang udah ditentukan itu dia enggak bisa ke kampus, atau bahkan enggak bisa ditemui. Gue pun menerima dengan perasaan getir.

Hari yang telah ditentukan itu maksudnya kamis ya. Karena gue juga bimbingan dihari kamis.
Hasil koreksian itu maksudnya revisi skripsi ya.
Dan Presentasi itu maksudnya seminar proposal ya.

Sehari sebelum hari yang telah ditentukan, rabu, dia sms gue yang intinya dia mengundurkan ngasih hasil koreksian nya empat hari setelah hari kamis (senin-red). Dengan perasaan getirpun gue teriak di tempat makan deket kampus. Temen gue, dosennya sama kayak gue, ngasih ide buat to the point aja, bilang kalo hari jumat adalah pendaftaran terakhir.

Oia temen gue itu dosen satu dan dua nya sama. Jadinya kita kayak dua sejoli. Ih jijik

Satu Jam
Dua Jam
Tiga Jam

Gada balesan. Gue pun udah pasrah aja kalo emang enggak bisa besok dosen tersebut ngasih koreksian tulisan gue. Gue pun tidur dengan tenang. Eh harusnya si enggak bisa tidur ya. Gue bisa tidur karena gue berharap hari pendaftaran terakhir akan diundur. Sangat berharap.

Besoknya, kamis, gue yang lagi dalam perjalanan buat ngajar dapet telpon dari dosen itu. Dia bilang kalo dia kasihan sama gue kalo sampai enggak bisa daftar. Akhirnya dia memaksakan dirinya yang lagi sakit untuk tetep dateng ke kampus. 

Ah ini dosen emang idaman banget dah.

Setelah bertemu dengan dosen dia pun menandatangani buku bimbingan. Sambil menulis "ACC Seminar Proposal" di bagian keterangan. Kalimat yang sangat sakral untuk mahasiswa tingkat akhir. Dia juga bilang kalo  dia bakalan keluar kota. Gue yang udah tenang mendengarkannya sambil lalu.

Saat sore nya, gue kira urusan gue berhenti disitu ternyata TTD yang penting itu bukan di buku bimbingan. Tapi dilembar persetujuan yang di tandatangani oleh dua dosen pembimbing dan ketua program studi (Prodi).

Mampus lah gue.

Hari jumat itu hari terakhir daftar, dosen idaman gue mau pergi ke Jogja, kalo dosen yang satu lagi mah enak lah. Dan ada sebuah keraguan bahwa ketua Prodi belom tentu hadir hari jumat.

Kamis sore gue nelpon dosen idaman, gue takut dia udah pergi malem ini. Sialnya telpon gue enggak di angkat-angkat. 

Dan pada titik ini gue pun benar-benar kembali hanya bisa berharap.
Sambil memutar lagu Sheila On 7 - Berhenti berharap, ditambah genangan air mata. Dan sejumput asa yang tak kasat mata.

Lebay lu

Sambil berharap gue tanya sama seorang pegawai kampus, gimana kalo sampai akhir pendaftaran gue belom lengkap berkasnya masih bisa daftar ga? Dia bilang bisa asal minimal 5 orang yang daftar, baru akan dibuatkan jadwal presentasi. Sip gue semakin tenang.

Kamis malem dosen idaman gue nelpon. Dia bilang kalo sorenya dia lagi nganter suaminya berobat. Aduh gue semakin enggak enak sama dia. Berkali-kali bimbingan dan dia mulu yang nelpon.

Gue bilang ternyata harus ada lembar persetujuan yang ditandatangani. Yang ternyata dosen tercinta yang idaman itu enggak tau. Untungnya dia belom pergi ke Jogja. 

Akhirnya dia nyuruh gue ke Stasiun Gambir hari Jumat jam 7 pagi, karena dia bakalan pergi jam 8. Dan perjuangan pun dimulai.

Jumat pagi jam 6.21 gue udah duduk sambil sambil menikmati segelas coklat dingin yang beberapa menit sebelumnya masih panas padahal. Alhamdulillah nya gue enggak sendiri nunggu dosen idaman di stasiun Gambir. Temen gue dateng sekitar jam 7.10 an. Kita emang udah janjian. Atau lebih tepatnya gue yang ngabarin dia dateng ke stasiun gambir jam 7. Karena dosen idaman itu nyuruh gue ngasih tau dia juga.

Singkat cerita nunggulah gue dari jam 6.21 sampai jam 8.35

(Hanya jam perkiraan ya)

Benar

Gue nunggu dua jam lebih di stasiun. Ya enggak begitu lama lah. Tapi cukup menguras habis jam tidur gue karena gue udah kudu rapih sekitar jam 5an. Untung rumah gue deket. Nah temen gue itu yang kasihan dia tinggal di daerah Harapan Indah, Bekasi. Lumayan lah ke stasiun Gambir.

Setelah selesai meminta TTD dosen di stasiun gue pun menuju kampus pusat untuk ketemuan sama dosen idaman yang satu lagi. Awalnya janjian sekitar jam 10an di pasca sarjana kampus gue daerah rawamangun. Karena dosen idaman yang ini lagi s3. 

Nah setelah gue dan temen gue nyantai sambil ngopi. Tiba-tiba gue dapet kabar kalo dosen idaman yang satu lagi itu enggak jadi ke kampus. Alasannya karena dia mau ngejengguk temen nya yang baru selesai lahiran. Dan kami disuruh kerumahnya di daerah stasiun Kranji, Bekasi.

Temen gue pun bilang "eh buset dia ke kampus kok kayak kita ya. Cuman buat maen doang"

Karena ini adalah hari terakhir gue dan temen gue pun mau enggak mau menuju ke rumah beliau. Kami boncengan. Pake motor die gue yang bayar parkir. AHAHAHA. Gue culas memang.

Singkat cerita jarak yang lumayan jauh itu ditempuh kurang lebih sejam sama temen gue dengan motor 125cc nya.

Setelah sampai, duduk, tandatangan dan sedikit basa-basi. Tuh dosen pun menawari gue dan temen gue dengan makanan dan minuman sebagai bekal diperjalanan balik ke kampus. Karena kami terlihat sangat kelelahan.

Enggak lama ada seorang perempuan paruh baya keluar dari kamar ke ruang tamu tempat kami berada, dia bilang motor yang ditaro diluar untuk dimasukin aja. Tapi dosen idaman yang satu lagi ini pun dengan sigap menjawab "enggak lama-lama kok" 

Astaga, gue diusir perlahan.

Karena dia bilang abis solat jumat mau ke RS, dan posisi udah jam sebelas (mepet jumatan) kami pun pamit.

Sampai kampus, solat jumat, makan.

Sekitar jam dua gue baru inget alasan gue ke kampus itu mau daftar untuk presentasi. Shit.

Gue buru-buru langsung ke TU kampus untuk minta TTD ketua Prodi kemudian daftar. Yang sialnya ternyata itu ketua prodi udah pulang. Dan gue enggak bisa daftar sebelum punya TTD dia.

Kumplit juga hari jumat berkah gue..

Ibu-ibu TU yang baik itupun bilang, bulan Mei masih bisa daftar kok. Senin aja ya...

Dan hari senin ini. Tuh Ketua Prodi enggak dateng.

Sampai hari ini gue belom daftar buat presentasi.

Great ga pengalaman gue?

Ah sial gue enggak punya foto hari jumat berkah itu, soalnya cowok berdua si. Jadinya malu kalo pake foto.


Seeyou

Rutinitas Mematikan Kreativitas

4/25/2016 20

Yap. Kalian enggak salah bacanya. 

Gue ulang sekali lagi ya

Rutinitas Membunuh Kreatifitas 

Sangat-sangat membunuh. 

Ibaratnya rutinitas bagi kreativitas itu kayak penyakit serangan jantung, HIV/AIDS, diabetes, TBC dan teman-teman nya. Iya, ia mematikan.

Setidaknya menurut gue. 

Menurut gue rutinitas termasuk penyakit paling mematikan di dunia per-kreativitas-an dibawahnya ada beberapa yang juga mematikan kayak sikap malas, ngerasa karya orang lebih baik, takut ngikutin karya orang, enggak mau mengapresiasi karya sendiri, anti masukan, atau bahkan menganggap karyanya terlalu bagus untuk dinikmati sama orang lain yang ngebuat mereka hanya berakhir dalam bentuk draf ataupun sketsa setengah jadi atau dengan kalimat yang lebih sederhana "melakukan karya setengah-setengah". 

Atau yang lebih parah lagi mereka yang beranggapan bahwa setiap karya harus sempurna, mereka lupa padahal setiap karya yang sempurna berawal dari karya-karya sebelumnya yang cacat, aneh ataupun memalukan. Karena kuantitas menghasilkan kualitas dalam ranah kreatifitas.

Setidaknya menurut gue.

Sebelumnya mau sedikit meluruskan rutinitas yang gue maksud itu yang kayak masuk kerja jam sembilan sampai jam lima sore. Utak-atik data. Jalanan yang macetnya bikin betis kayak bakpao serta bikin celana bau. Atau rutinitas guru yang harus mikirin gimana cara ngajarin nilai pancasila sila pertama. Walaupun kegiatan tadi selalu berulang, tapi tetep aja kalian fokus sama kegiatan berulang tadi. Karena mereka menyita waktu.

Yap itulah yang paling mematikan dari rutinitas. Ia bener-bener menyita waktu. Padahal kreativitas bagi gue adalah hasil dari "Me Time" yang berkualitas. Dan dia enggak akan berkualitas kalo cuman dapet jatah waktu yang seikhlasnya aja, kan?

Karena bagi gue

Kreativitas sangat butuh waktu yang banyak biar otak punya waktu buat muter. Muter mikirin segala hal. Mikirin mau posting apa, mikirin mau ngegambar apa, atau mikirin mau ngegampar siapa. Tapi kesempatan otak buat muter tadi terlahap abis karena ketika rutinitas berakhir otak akan mengirimkan sinyal ke tubuh, ini waktunya untuk istirahat. Karena rutinitas selanjutnya sudah menanti di kemudian hari.

Di sisi lain serangkaian hal yang jadi rutin setiap harinya tadi. Akan berakibat kalian lama-kelamaan akan kehilangan sikap memperhatikan hal-hal kecil yang bagi gue itu sangat penting untuk kreativitas. Dan rutinitas juga ngebuat waktu santai kalian emang beneran buat nyantai, padahal waktu santai adalah golden time untuk melakukan karya.

Yap. Sekalipun ia membunuh tapi kalian tetep bisa kok membuat proses pembunuhan tadi melambat atau malah hilang. Nah gue mau ngasih sedikit tips gimana si biar kreativitas tetap terasah walaupun kalian penuh dengan rutinitas.

  • Selain rutin kerja rutin ngumpul juga dong
Yap, rutin ngumpul dan ngobrol sama banyak orang tentang banyak hal bagi gue sangat meningkatkan kreativitas. Karena itu memperkaya lu tentang sudut pandang orang, yang mana mereka adalah penikmat hasil karya.
  • Menyempatkan paling sedikit sehari beberapa menit buat ngembangin kreativitas yang lu suka
Misalnya sepulang kerja, duduklah beberapa menit buat nulis catatan kegiatan hari ini kalo suka nulis. Ngegambar bapak-bapak brewokan yang enggak mau ngasih duduk nenek rentan di Commuter Line kalo yang suka gambar. Bikin breakdown bagi youtuber. Atau kalo kegiatan tadi terlalu melelahkan. Biarkanlah otak kalian muter, buat ia menjadi liar.
  • Saat ngejalanin rutinitas latihlah untuk memperhatikan hal-hal kecil
Walaupun rutinitas itu ngebunuh bukan berarti dia membunuh seketika kok. Nah rutinitas biar enggak bener-bener ngebunuh kreativitas, hal yang bisa kalian lakukan adalah memperhatikan hal hal kecil saat melakukan rutinitas. Kayak penumpang CL yang pura-pura tidur, cara temen sekantor minum kopi, wajah polisi ngatur lalu lintas, atau perhatiin suara klakson yang menyebalkan dengan sudut pandang yang berbeda.

Pokoknya pinter-pinter kalian lah...

Udeh gitu aja kali ini...

Seeyou

NB: 

Buat yang enggeh gue bikin GA ternyata udah gada. Maaf ya. Ternyata GA gue tidak berhasil mengundang satu orangpun. 
Tiga minggu sudah berlalu dan satupun enggak ada yang ngirim.
Jadinya gue batalin dulu deh.
Lain kali gue buat lagi...
Tips Buat Asikin Tongkrongan

Tips Buat Asikin Tongkrongan

4/13/2016 18

Hai, semua. Apa kabar? Sehat?

Kembali lagi di blog yang keren dan sangat mempesona ini. Atau anggaplah demikian.

Kali ini gue mau bagi-bagi tips. Tips ini enggak mudah gue buat. Gue harus berdiam diri selama beberapa detik setiap selesai boker untuk menyempurnakan teori gue ini.

Di tambah gue kudu sering berhenti di flyover cempaka putih arah sunter sambil merenungi teori ini. 

Selain itu, gue juga kudu sering solat wajib. Namanya juga wajib, ya mesti toh?

Setelah melakukan beberapa syarat tadi gue pun berhasil menyimpulkan tipsnya.

Berikut adalah hasilnya, 

Awalnya tingkatkan frekuensi, lalu turunkan

Anggaplah ini awal-awalnya lu ngumpul sama temen baru. Diawalan perjumpaan sih baiknya, menurut gue, tingkatkan frekuensi ketemu. Buat apa? 

Jelas, untuk meningkatkan keterikatan emosional dalam kelompok yang baru lu bangun. KUANTITAS lah yang penting. Tujuannya biar lu semakin akrab, dan tau sela apa yang bisa dipakai untuk ngasikin.

Contohnya, lu enggak akan tau kan seorang temen asik atau enggak kalo pas kalian ketemu dia baru aja kena musibah kakinya kesandung meja setiap dua jam beberapa hari belakangan. Kalian pasti dapet kesan kalo dia orangnya enggak asik. Tapi siapa yang tau? Kalo ternyata sikap membosankan itu cuman diawal-awal pertemuan.

Dan emang sikap alamiah seseorang untuk jaga sikap sama yang jarang ketemu.

Diawalan pertemanan kalian, intenslah bertemu. Paling enggak dalam sebulan bisa lah dua sampe tiga kali ketemu, kalo misalnya kalian enggak berada di lingkungan yang sama, karena percaya atau enggak kuantitas pertemuan kalian akan meningkatkan kualitas pertemuan kalian. 

Lalu,

Ketika lu sudah ngerasa keterikatan emosional antaranggota tadi sudah gede, inilah saatnya mengurangi ketemuan. Tujuannya juga jelas. Biar kalian enggak bosen aja gitu ketemuan terus. Nanti asiknya malah jadi turun.

Pokoknya bijak aja deh dalam mengolah ketemuan kalian.


Bikin Peraturan

Emang si ini enggak asik keliatannya. Masa nongkrong aja kudu ada peraturan. Tapi yaudah deh ikutin aja.

Misalnya peraturan enggak boleh maen hape kalo lagi ngumpul, dan kalo ada yang akhirnya enggak kuat dan megang hape. Dia harus beliin kalian makanan, atau misalnya kalian lagi nongkrong di tempat makan. Dia yang harus menanggung biaya makan pertemuan kali ini.

Atau misalnya ada yang ngerokok diantara kalian. Bikin peraturan enggak boleh ngerokok kalo lagi ngumpul. Kecuali dia menjauh. Hukumannya boleh sama kayak yang di atas. Ya, pokoknya sesuaikan aja sama isi kelompok lu.

Bisa juga bikin peraturan enggak boleh ada cinlok diantara kalian. Kalo yang kebetulan cinlok di tongkrongan, mereka harus langsung nikah paling enggak dalam empat belas purnama. Atau mereka berdua keluar dari tongkrongan

KETAWA KEJAM

Jangan Gampang Tersinggung

Karena asas nongkrong adalah

Tidak boleh ada pihak yang gampang tersinggung atau sekarang dikenal dengan Baper (bawa perasaan)

Kalo ada yang Baper membuat setiap bercandaan jadi kurang lepas aja. Takut menghancurkan moment. Ini mengharuskan anak tongkrongan emang harus kebal kalo di cengin apalagi dicengin mengenai mantan yang masih dalam kelompok yang sama.

Makanya gue kasih saran di point sebelumnya, enggak boleh ada cinlok.

Kalo lu pada dasarnya Baper. Mungkin lu terlahir bukan untuk jadi anak tongkrongan. 


Tapi kalo tetep ngeyel pengen buat tongkrongan, kenapa enggak buat tongkrongan para Baper. Biar saban nongkrong kalian bisa saling jaga perasaan tiap anggota.

Ah emang seru ya kalo gada ceng-ceng an antaranggota?

Dateng telat

Karena yang paling enggak enak dari janjian buat ketemuan adalah pasti ada aja yang datengnya beberapa jam kemudian. Dan nunggu adalah kegiatan yang enggak asik.

Nah ada baiknya, daripada lu kudu jadi orang yang nunggu. Mendingan lu ikutan dateng telat aja. Karena sesungguhnya keasikan tongkrongan itu terjadi dua jam setelah jam pertemuan yang ditentukan.

Bengis emang.

Jangan Pelit

Anak tongkrongan emang kudu sering berbagi, dari yang paling sederhana berbagi cerita (kesedihan lu, ambisi lu, keseharian lu), berbagi rokok, berbagi makanan, berbagi pacar. Ya pokoknya harus berbagi semua lah.

Karena kalo lu pelit yang ada nantinya lu enggak diajak lagi buat ikutan nongkrong. 

Gue pernah mengalaminya.

Harus ada Basecamp

Basecamp itu maksudnya ada tempat yang menjadi markas kalian ngumpul. Bisa salah satu rumah temen, tempat makan, space tertentu di kampus kalo masih kuliah, di taman, di halte busway, atau dimanapun.

Pokoknya yang menjadi tempat yang selalu digunakan buat ngumpul. Karena itu ngebuat lu enggak cuman cinta aja sama orangnya, tapi juga cinta sama tempatnya. Dan saban ke tempat itu lu bakalan selalu inget temen-temen lu yang asik.

Gue si tidak begitu menyarankan nongkrong di tempat makan. Selain mahal, untuk waktunya juga enggak bisa terlalu lama kecuali lu mau dipelototin sama pelayannya atau di batukin sama pengunjung lain. Atau lu nongkrongnya dari jam 12 malem sampe pagi. ITU BEBAS

Udah itu aja dulu ya...

Semoga gue semakin keren.

SeeYou


FYI, Nongkrong yang menjadi kegiatan liburan favorit kita-kita dalam bahasa Inggris pernah di deskripsikan sebagai 
Sitting, Talking and Generally Doing Nothing
Menurut New York Time tahun 2012


#Chapter01 - Mengenai Kamu

4/05/2016 10

Seharusnya gue cepet-cepet begini

Sebelumnya mau meluruskan ini bukan mengenai seorang wanita yang enggak punya waktu buat drama sehingga kami malah ketawa mulu pas ketemu, juga bukan perihal wanita yang enggak bisa marah sama gue, atau mengenai wanita yang sangat nerima sebagaimanapun gue.

Ini mengenai tugas yang diperuntukan untuk mengakhiri masa kuliah. Yang seharusnya udah gue kerjain dari dulu tapi sekarang malah jadi begini.

Tulisan ini juga bakalan berseri sepertinya, biar gue terdorong. Biar gue bisa melanjutkan penulisan tulisan itu.

Sebelumnya perkenalkan dulu gue adalah mahasiswa tingkat akhir, sehingga jabatan itu mengharuskan gue untuk menulis sebuah catatan akademik yang nantinya bakalan nambahin nama pendek gue ini, yang menunjukkan kalo orang tua gue kurang kreatif dalam memberi nama.

Mengenai tulisan itu gue juga gatau sekarang harus mulai darimana karena dia udah cukup lama gue cuekin. Terakhir gue ketemu dosen itu Desember 2015. Dan sekarang udah April, at least udah empat bulan dosen enggak gue ajak buat COD an bahas tulisan gue. Entah tuh dosen masih inget enggak kalo gue mahasiswa bimbingan dia.

Karena gue belom ada kisah baru sama tulisan gue itu, jadinya gue mau sedikit sharing mengenai gimana gue dulu sama dia. Boleh, ya?

Masih inget dulu pas masih angget-angget nya angkatan gue bakalan lulus 3,5 tahun, gue langsung sekonyong-konyongnya hunting beragam jenis buku di perpustakaan kampus. Berhubung yang gue tulis banyak buku teorinya, gue pun tidak begitu menerima hambatan dalam penulisan mengenai bagian yang mendeskripsikan setiap variabel tulisan gue itu.

Catatan akademik tadi itu mengkaji apa, dengan-apa, pada-apa. Nah "apa", "dengan-apa", dan "pada-apa" itu adalah contoh variabel. Dia kudu dikaji dengan beragam sumber. Biar cocok sama namanya, Catatan Akademik. Semua harus dikaji secara akademik.
Baca juga 3,5 Tahun, Sungguh?

Selain pake buku yang geletakan di perpustakaan kampus, gue juga berusaha buat dapet akses ejurnal di kampus lain. Alhamdulillah dapet. Inikan tandanya Allah ngasih jalan yang mulus buat lu dik, kenapa lu gini sih?

Namun, karena banyak banget sumber teori mengenai variabel tulisan gue itu, gue malahan sampe ditahap "Anjir, gue harus nulis yang mana aja ini. Ini kan karya tulis bukan karya salinan" gue langsung pusing mengenai editing. Terus gue pusing mengenai asas nyambung-enggak-sih-setiap-paragrafnya, soalnya diawal-awal penulisan gue ngerasa kalo tulisan gue itu loncat-loncat. Persis kayak cewek yang gue deketin kadang mau, lebih seringnya engak.

Lalu dari pihak dosen, gue juga kebetulan dapet dosen yang memenuhi hukum 1 dan 2 newton pembimbingan. Dua dosen gue sangat mudah ditemui, dia berdua juga jarang banget batalin janji, bahkan pernah ada momen dimana satu dari dua dosen tadi nungguin gue buat bimbingan. 

Entah gue sedablek apa. Gue buat dosen sampe nungguin gue. Untung dia tipikal dosen yang suka sama gue. Iyap, gue dulu mahasiswa favoritnya. Katanya gue itu mahasiswa yang gampang banget buat senyum. Pas dia lagi bete ngajar di kelas, dia bakalan nenggok ke gue, terus dia ngerasa bahagia. Anjir pede banget gue

Masih dengan dosen yang sama, dia juga pernah bilang kurang lebih begini "Paling nanti waktu ngebimbing mas diki, isinya cuman senyum mulu. Kayak di kelas", yap, gue pun membalas senyum tulusnya dengan senyuman gue-enggak-ngerti-bu-makanya-senyum. Dia juga typikal dosen favorit nomer satu seuniv kalo gue boleh berlebihan. Dia ngebimbing kayak ngebimbing anak sendiri. Keren pokoknya.

Btw hukum 1 Newton pembimbingan itu bunyinya. 
"Dosen pembimbing (seharusnya) mudah untuk ditemui".
Dan hukum 2 nya itu. 
"Dosen (seharusnya) tidak membatalkan janji bimbingan seenaknya"
Setelah beragam kemudahan tadi gue malah sampai ditahap, yaudahlah-entar-aja-dilanjut-lagi, dan empat bulan sudah dia tersimpan manis disebuah folder cloud gratisan. Karena gue takut flasdisk munggil gue raib atau hilang di komputer yang kadang suka ngambek ini.

Dilain sisi, tulisan itu juga mendewasakan gue secara perlahan, membuat gue semakin realistik sama tujuan hidup gue. Kalo gue mau lulus ya udah kerjain, kalo enggak yaudah syana kerja aja yang fokus. Bikin tulisan itu juga seharusnya menjadi pekerjaan fulltime, maksudnya dia tuh enggak bisa disambi sama kegiatan lain. Kayak nongkrong sama temen SD-SMA, ngalur ngidul di grup WhatsApp. Pokoknya harus fokus, bener-bener fokus, bahkan harus ada yang dikorbankan termasuk jam tidur.


Saking stres nya gue sampe gini
Seharusnya pas bikin tulisan itu gue juga harus jaga omongan, jaga sikap, karena banyak pengalaman yang bilang bahwa segala kesulitan yang muncul pas pengerjaannya bisa aja karena doa orang yang lu bikin dongkol. Selain jaga sikap orang yang lagi bikin tulisan itu juga kudu punya temen untuk mensupport, paling enggak satu, karena lu gatau kapan mood lu ancur, kapan lu butuh tempat curhat, tempat nangis karena dosennya ngebatalin tiba-tiba. Lu sangat butuh kehadiran pihak yang mendukung.

Baca Juga KECE PGSD UNJ

Nah karena gue lagi mau meningkatkan lagi mood gue buat nulis tentang itu, jadinya gue bakalan menghadiahi diri gue dan mood gue dengan sebuah printer nantinya. Duitnya lagi gue siapin, biar gue bisa maksimal dalam penulisan itu. 

Gue juga lagi ngumpulin niat buat ngegarap dia lagi, gue harus baca-baca buku pendukung lainnya. Biar gue bisa di acc dan yang terpenting agar menang dalam seminar proposal kelak. Gue juga harus ngebuat gue enggak keliatan bodoh saat di tanya yang-entah-kapan-terjadinya-itu.

Semoga ya, doa in gue ya.

Aku padamu lah, Seharusnya.

SeeYou