Mencinta dengan Ragu

9/01/2019 1

Jika Kamu boleh ragu. Apa aku juga boleh?
“Hai.”
Aku tertegun.
Suara itu menghamburkan lamunanku.
Setelah beberapa saat melihat sekeliling dan cukup yakin tidak ada yang mengenaliku di tempat ini.
Aku kembali ke lamunan ku
Sebentar, mari aku ingat-ingat.
. . .
Aku, kamu, dan (yang semoga masih ada) kita
Sedang berada dalam tahap saling meragu
Hanya kamu sebenarnya.
Tapi toh aku yang selalu diragukan pada akhirnya juga ikut meragu
Padahal rasa itu tidak pernah ada sebelumnya
Sampai akhirnya kamu berhasil membuat ragu menjadi milik kita berdua
Ragu… Ragu …. Ragu ….
Kuulang kata-kata itu berharap pada akhirnya, Ia tak berarti apa-apa.
Namun, tampaknya sia-sia.
Karena semakin kesini, malah semakin besar rasanya.
Ragu . . . .
Setiap manusia pernah merasakan hal itu.
Ragu akan dirinya, ragu akan pekerjaannya, ragu akan segala tindakannya.
Dan tahapan paling  parah dari itu adalah meragukan orang lain
Siapa aku, sampai nekat meragukan kamu?
Dan Siapa juga kamu? Berani-beraninnya meragukan aku?
Aku tidak tahu-menahu ragumu
Jadi,
Aku hanya akan menceritakan bagianku saja.
Ragu… Ragu . . . Ragu .   .   .   .   .   .   .
Kembali kuulang kata itu.
Aku sedang meyakinkan, bahwa aku sama sekali tak begitu.
Karena, usaha untuk menjadikan kita tetap ada masih terus aku lakukan.
Walau tak terlihat nyata dipandanganmu.
Ragu
Bukan pertama kali muncul disisi ku
Dulu aku ragu bisa mendapatkanmu
Setelahnya
Aku ragu bisa bertahan lama denganmu
Kemudian
Aku juga ragu
Apakah ini akan bergerak kearah yang benar?
Ke arah yang bagi sebagian orang, menjadi tujuan akhirnya.
Aku selalu berusaha mengusir semua raguku, dengan kenangan-kenangan yang sudah pernah tercipta diantara kita
.
Menikmati senja di hutan bakau
Bersepada berkeliling di tempat wisata
Atau bercanda tak jelas di hutan kota
Atau aku usir Ia dengan pikiran bahwasanya
Untuk mendapatkanmu, dulu, tak sedikit yang aku perjuangkan
Alasan pertama kumenyukaimu
Saat berhasil mendapatkan nomer telpon genggammu
Rasa ketika sadar bahwa umpanku disambut seperti yang aku harapkan
.
Tapi,
Untuk akhir yang mungkin tidak mengenakan kelak.
Aku hanya ini bilang
“Hei. Aku tidak ingin diragukan. Tapi jika kamu terus-terusan begitu, aku bisa apa?"

Bagaimana Jika Kita....

12/20/2018 1

Kamu tahu, aku sedang memikirkan kamu saat ini
Munafik mungkin buatmu,
karena bagimu, aku adalah sosok yang memperlihat diri bahwa ia tidak ingin hubungan ini bertahan...

Kamu tahu,
Bagaimana jika kita, seperti yang kamu minta dan harap belakangan ini, benar-bener menjadi kenyataan? 
Apa itu terlalu jauh dan terlalu tidak mungkin untuk jadi kenyataan?

Kamu, wanita yang saat ini sedang menjadi tokoh utama dalam kehidupanku.
Kamu, wanita yang tidak pernah memelukku dari kursi belakang,
tapi kamu adalah wanta yang selalu mencium tanganku tiap kali kita usai menjalani hari kencan kita yang panjang.
Hari kencan kita selalu sama
aku akan ke kotamu, melalui hari yang panjang bersama mu, membawa kamu pulang, lalu aku akan kembali ke kotaku
atau
kamu yang berkunjung ke kota ku, kita akan melakukan hal yang bagiku selalu saja tampak indah,
lalu aku akan mengantar kamu ke kotamu, dan aku akan kembali ke kotaku pada tengah malam.
Kamu, wanita yang selalu saja senang jika dekat denganku.
Wanita itu memang tidak sempurna.
Tapi memangnya aku sesempurna apa sampai mengharapkan kamu menjadi wanita sempurna?

Kamu tahu, aku sedang memikirkan
Bagaimana jika pada akhirnya kita benar-benar memutuskan untuk....
menikah?

Apa kamu berhasil,dengan susah payah, mengajakku untuk berkomitmen pada satu hubungan seumur hidup?
Sesuatu yang sangat kutakuti
Jujur, bahkan ketika menulis kata itu saja aku punya ketakutan tersendiri.

Kamu tahu,
Menikah adalah keputusan besar bahkan untuk aku yang berbadan besar ini.
Membayangkan aku akan selalu terbangun dengan kamu disampingku.
Kamu adalah orang pertama yang kujumpai setiap hari, dan pula menjadi orang terakhir yang aku jumpai setiap aku berhasil melalui hari yang berat.

Kamu tahu,
Bagaimana jika pada waktunya, kita benar-benar harus melalui hari pernikahan.
Kamu sebagai orang yang duduk malu-malu disamping ayahmu,
dan aku duduk di depan pria itu, takut melakukan kesalahan
aku harus menatap, dan mengenggam tangan pria itu
pegangan itu lebih sebagai ancaman bagiku
pria itu akan mengenggam tanganku kencang, dan menatap sambil memastikan pria didepannya bisa menjaga buah hatinya
anak perempuan pertamanya
anak perempuan itu telah berubah menjadi wanitaku
dia akan memaksaku mengulang ucapannya
dia memintaku berjanji untuk selalu menjaga, merawat, dan melalui hari bersama buah hatinya



Kamu tahu,
bagaimana jika aku tidak bisa melakukan itu?
bagaimana jika aku malah melukaimu?

bagaimana jika aku tidak menjadi pria yang kamu bayangkan?
bagaimana jika hal buruk terjadi setelahnya?
dan apakah aku bisa?

Kamu tahu,
bagaimana kita setelahnya?

Apa yang akan berubah? 
Apa kamu akan tetap mencium tanganku saat aku pulang?
Apa kamu akan tetap ceria?
Apa kamu akan tetap mencintaku?
dan apakah aku bisa memperlakukanmu dengan baik?

Kamu tahu,
bagaimana jka pernikahan kita benar-benar terlaksana,
apa kamu akan mulai memelukku dari kursi belakang?
apakah aku menjadi pria yang benar, dan tepat buatmu?
apa kita akan baik-baik saja?

atau apa yang akan terjadi setelahnya?
apakah akan menjadi pernikahan yang selamanya?
dan apakah aku akan memperlakukanmu secara baik, seperti yang diminta pria tadi?


Kamu harus tahu,
Jujur, aku takut dan senang disaat yang bersamaan saat membayangkannya.
Kita akan menjadi sepasang suami istri, menjadi orang tua
kita akan punya anak,
seorang anak perempuan yang memiliki kecerdasan, dan keceriaan sepertimu
aku tidak berharap dia keras kepala seperti aku.
tapi aku hanya berharap dia selalu senang bersamaku,
seperti ibunya

Kamu tahu,
Aku ingin kita, aku ucapkan ini dengan sungguh-sungguh,
aku ingin kita menikah.

Sebulan di Kelas 1 Bulan

9/11/2018 0

Hari kemerdekaan yang telah berlalu. Namun, saya rasa masih cocok bagi saya untuk menceritakan pengalaman merayakan Kemerdekaan. Nah perayaan Kemerdekaan kemarin tepat satu bulan (16 Juli-16 Agustus) sejak awal tahun pelajaran dimulai, dan tahun ini saya mengajar di kelas 1 Bulan.  Jadi enggak salah dong saya pakai judul itu. 😎

Tapi ada yang berbeda dari postingan ini. Kali ini tulisannya tidak berasal dari saya, tapi dari salah satu wali murid saya. Ia menceritakan bagaimana pengalaman pertamanya sebagai orang tua dalam merayakan Kemerdekaan di sekolah. Tentunya dengan sedikit edit, baik untuk merahasiakan identitas maupun untuk menyesuaikan dengan gaya bahasa blog ini.

Sebelum membaca postingan ini sampai bawah, saya ingin menjelaskan kalo Lotus itu adalah nama acara yang diselenggarakan sekolah saya dalam menyambut momen kemerdekaan Indonesia. Lotus sendiri adalah akronim dari Lomba Tujuh Belas Agustus, walaupun kenyataannya dilaksanakan sehari sebelumnya 😋

Selamat menikmati.

by the way mohon maaf jika beberapa foto tidak nyambung dengan teks 😜

Menjadi Orang Tua Merdeka
Pada tahun ini, Alhamdulillah anak kami, diberikan kesempatan untuk bersekolah di SD Labschool Cibubur. Sebulan ini, saya dan istri menjalani peran emak dan bapak yang menemani masa-masa awal bersekolah, seperti orang tua pada umumnya. Walaupun baru sebulan, nyatanya banyak cerita dan insight yang kami dapatkan. Tulisan ini, pada dasarnya merupakan ucapan terima kasih kami kepada Allah, karena telah memberikan lingkungan sekolah dengan iklim komunikasi yang terbuka. Sejak awal, pihak sekolah secara clear menjelaskan harapan keterlibatan orang tua dalam mengawal proses sekolah anak-anaknya. Saat orientasi orang tua, banyak bapak-bapak mendampingi istrinya menghadiri pembekalan dari sekolah. Ditengah banyaknya fenomena atau problem parenting karena ketidakhadiran (baca: keterlibatan) ayahnya, orientasi kemarin memberikan angin segar optimisme bahwa sekolah bukan hanya urusan emaknya doang, tapi juga urusan bapake

Kemarin kami baru selesai kegiatan LOTUS (lomba 17 Agustus) yang diadakan sekolah. Bisa dibilang ini acara besar pertama yang dirasakan oleh anak-anak kami, setelah kegiatan Marshmellow (orientasi). Acara kemarin terbukti sukses ‘menguji’ kekompakan para emak dan bapak di kelas kami, kelas 1 bulan. 

Bayangkan, hanya dalam waktu 3 hari persiapan, seluruh orang tua bahu membahu menyukseskan kegiatan tersebut. Saya sangat terharu melihat berjibakunya para orang tua. Bagi orang tua yang punya keluangan waktu, mereka datang langsung ke sekolah; mendekorasi, membuat properti kelas, hingga menyiapkan tumpeng Asian Games yang ciamik. Bagi yang ada keterbasaan, dengan semangatnya setiap emak dan bapak langsung menawarkan bantuan patungan sumber daya dan ide yang bisa dikerjakan dari rumah. Kreativitas emak dan bapak ini juga berhasil melibatkan anak-anaknya dalam dekorasi; mewarnai, membuat komik, menulis, dan semua yang bisa dilakukan anak-anak. 

Tumpeng yang bikin kelas Bulan Juara 1 Lomba Tumpeng antar kelas.


Bagi kita orang tua yang hidup di era Millennial (sekarang: generasi Z), tak jarang kegiatan-kegiatan kebersamaan seperti ini malah berubah menjadi jebakan-jebakan ‘prestasi’, ‘kompetisi’, ‘orang tua paling hebat’ dan lain sebagainya. Kita jadi melupakan esensi untuk memberikan kebahagiaan dalam prosesnya, dan semangat kebersamaan dalam mencapai tujuan. Nilai-nilai seperti berbagi, partisipasi, apresiasi terreduksi dalam ukuran-ukuran artifisial dengan balutan popularitas. 

Dari yang datar sampai paling ekspresif


Sedikit flashback, ketika Anak Saya bersekolah di TK, ada peristiwa yang masih membekas dalam ingatan. Pada suatu waktu, Ia beberapa kali pulang terlambat sampai rumah. Agak lama kami menyadarinya, sampai kemudian saya luangkan waktu untuk bertanya "Apakah ada kegiatan lanjutan di sekolah atau ada Issue apa hingga dijemputnya selalu sejam lebih lama? 

Jawaban Anak Saya sangatlah sederhana; dia harus menemani temannya di sekolah. Tak puas dengan jawabannya, saya dan istri kemudian bertanya pada guru mengenai apa yang terjadi. Guru pun kemudian menjelaskan bahwa Tara seringkali menjadi saksi ‘masalah’ yang terjadi antar temannya. Kadang ada temannya yang berebut tempat duduk, berebut teman bermain, dan cerita lainnya, khas anak TK yang sering kita dengar. Saya tanya apa hubungan Anak Saya dalam situasi itu? Belakangan kami baru tahu bahwa Ia sering berada diantara ‘masalah’, karena Ia sering berinisitif untuk menyelesaikan konflik antar teman sekelasnya. 

Pada kali yang lain, saya ingat betul Anak Saya pulang dengan sedikit memar luka di wajahnya. Ketika saya tanya, apa yang terjadi di sekolah? Dengan terisak dia mengatakan, wajahnya secara tak sengaja terkena lemparan buku. Guru memberitahu kami bahwa Ia terkena lemparan karena membela temannya yang bukunya diambil ketika belajar. Kami percaya, saat itu Ia diberikan kesempatan oleh gurunya ikut terlibat menyelesaikan masalahnya, tanpa orang tua yang (harus) selalu ikut campur. Saya juga senang karena ada nilai solidaritas dan membela temannya dari pilihan sikapnya. Saya yakin, emak dan bapak kekini-an punya banyak cerita seperti ini. 

Aku, partner mengajar, orang tua, dan murid ku
Santai saat waktu rehat lomba

Ditengah intrusi nilai yang menonjolkan personal achievement seperti ‘lebih pintar’, ‘lebih cerdas’, ‘lebih populer’, sebagai orang tua, kita perlu berpikir ulang mengenai ‘ukuran-ukuran’ ini. Kita tahu, bangsa Indonesia besar karena dalam sejarahnya, nenek moyang kita ditempa dan berjibaku dengan bermodalkan semangat kebersamaan. Saling meniadakaan ego individual, saling berlapang dada dan merelakan, sekaligus proaktif menemukan celah kontribusi. Value berbagi, kebersamaan inilah saya pikir warisan terbesar yang masih berada dalam akar budaya bangsa. Memiliki anak yang berprestatif merupakan kebahagiaan setiap orang tua, namun demikian, sebagai orang tua, seringkali kita ikut terpancing dengan jebakan ini. Sebagai titik sentral dalam pengasuhan anak, yang dilakukan orang tua, akan langsung tercermin dalam perilaku anak. Lantas apa yang akan kita wariskan kalau sebagai orang tua, mencontohkan perilaku menghalalkan segala cara, mengorbankan integritas demi predikat terbaik.  Tak jarang kita dengar ‘keajaiban’ sebagian orang tua, agar menang dalam sebuah perlombaan; mengkarbit proses, memanfaatkan celah teknologi, hingga memaksakan anak hingga kebahagiaan lenyap dari diri anaknya. 

Semangat bener nak 😅

Pada hari kemerdekaan ini, saya mengajak emak-emak dan bapak-bapak untuk saling mengingatkan. Memerdekakan anak kita untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, menjadi bagian penting dalam kemajuan anak. Menikmati proses, menciptakan kebahagiaan jangan sampai sirna dari anak kita. Saya bukan ahli parenting, namun saya percaya proses pengasuhan merupakan hasil keseimbangan kedua orang tua yang masing-masing memiliki pengetahuan, pengalaman, nilai-nilai yang terakumulasi sepanjang hidup, dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Dengan demikian, menciptakan support system (perkumpulan emak dan bapak, koordinasi dengan Kepsek dan guru) merupakan hal yang harus kita pastikan hadir dalam keseharian anak kita. Merdeka atas persepsi negatif, ukuran popularitas, perbandingan capaian merupakan hak segala orang tua. Untuk itu, mari kita wujudkan bersama! Merdeka!


Tabik, 
@ivanahda

Terima kasih kepada Bapak Kepala sekolah serta Ibu, dan Bapak guru, serta semua elemen sekolah yang berupaya keras menjadikan semua anaknya bermental juara. 

Tulisan ini didedikasikan kepada emak-emak kekinian yang telah berhasil membuat kompak semua orang tua kelas 1 bulan. 💪

Terima kasih juga kepada ananda sekalian, semua usaha yang dikeluarkan menambah kuat keyakinan kami bahwa ananda adalah JUARA di hati dan hidup kami. ❤

Oya, Anak yang dari tadi saya ceritakan adalah anak pertama kami. Kelak jika emak dan bapak bertemu dengannya, mohon berkenan untuk juga berbagi dengan anak kami. Saya yakin ada hikmah, kebijaksanaan yang bisa ditularkan dari pengalaman emak dan bapak disini, termasuk kebaikan yang berasal dari anaknya sendiri. Mohon maaf lahir batin 🙏

Pendidikan bukan hanya masalah siapa yang lebih baik, lebih pintar, tapi juga siapa yang lebih peduli.
Kejadian ini terjadi ketika aku, dan partner mengajarku bilang "Makannya yang rapih"

Ngeblog untuk Literasi

7/28/2018 2
 
Tahun ini ngajar kelas 1 SD
Selamat pagi, siang, sore, malam.

Kalian tinggal cocokin aja kapan kalian baca postingan ini.

Perkanalkan nama saya Dicky Renaldy, seorang guru yang dulu sempet hoby ngeblog tapi sekarang malah blog nya tidak terawat. Padahal blog nya sudah dibeliin Domain, tapi malah semakin malas setelahnya.

Setelah hampir 70hari semenjak postingan terakhir, atau setelah ribuan hari tidak intens lagi nulis di blog, saya ingin kembali menghidupkan blog yang dibeberapa tulisan sudah tidak sesuai dengan keadaaan saat ini.  Saya sudah bekerja, sudah bukan mahasiswa lagi. Bahkan ini tempat kerja saya yang ketiga untuk dua tahun belakangan. Semoga yang tempat kerja kali ini bisa mengembangkan saya.

Saya ingin meluruskan jati diri siapakah pemilik blog ini. Karena menurut saya hampir sebagian besar orang-orang yang nyasar kesini pasti karena tulisan saya mengenai PGSD UNJ. Karena saya sudah tidak menjadi bagian dari PGSD UNJ, saya hanya ingin kalian tau itu 😋

Profesi saya adalah seorang tenaga pendidik, oleh murid-murid saya dipanggil dengan sebutan "Pak Dicky."

Saya mengajar di sekolah yang menjalankan kurikulum 2013 (entah sekarang kalian menyebutnya dengan sebutan apa), yang salah satu kegiatannya adalah literasi. Atau budaya membaca. Seperti diketahui Indonesia menempati posisi 64 dari 72 yang diukur lembaga PISA dalam hal membaca, matematika, dan sains. (kalian bisa cari sendiri untuk informasi selengkapanya)

Dengan alasan itu saya rasa menteri pendidikan saat ini, Pak Muhajir (yang 10 Juli lalu saya lihat secara langsung di acara sekolah) menganggap penting untuk meningkatkan budaya literasi atau pengertian yang paling sederhana adalah budaya membaca. Kerena menurutnya, dengan meningkat budaya literasi bisa meningkatkan pola pikir anak bangsa yang pada akhirnya meningkatkan daya saing bangsa Indonesia.

Karena saya seorang tenaga pendidikan, tampaknya kurang tepat jika saya hanya menyuruh anak untuk membaca tanpa diimbangi dengan saya yang ikut pula membaca. Dan dengan meningkatkan budaya literasi, saya bisa menjadi contoh nyata bagi murid-murid saya.

Saya akui budaya membaca saya sedang turun beberapa bulan terakhir, sangat rendah malahan. Sekarang dengan cepat dan murahnya paket data, saya (dan sebagian besar orang, mungkin) memilih untuk menyaksikan media audiovisual dibandingkan dengan membaca. Padahal dengan membaca kita bisa mengetahui dunia dengan lebih terperinci, menambah sudut pandang, mempertajam daya pikir, meningkatkan daya ingat, bukan hanya video-video di youtube yang acapkali isinya tidak bagus. (Misalnya Flat Earth 😏)

Langkah paling sederhana yang bisa saya lakukan untuk meningkatkan budaya membaca, saya memasang rak buku yang bertujuan agar saya bisa menyimpan, dan menambah stok buku untuk dibaca.

Koleksi bukunya masih sedikit, malah banyaka isi yang lain 😝

Melalui blog, saya ingin budaya literasi bisa saya lakukan sedikit demi sedikit. Karena dengan menulis saya akan haus untuk membaca. Dengan rajin membaca saya bisa menjadi tenaga pendidik yang bisa menjadi contoh dalam berbudaya literasi.

Sehingga rak buku yang masih kosong bisa terisi, dan terbaca. Kamu tahu kan bahwa kegiatan menulis sangat membutuhkan kegaiatan membaca? 

See You


Segalanya berubah di April

5/20/2018 2
Januari adalah bulan paling menyenangkan buatku. Paling tidak ia adalah awal dari tahun yang menjanjikan, dan garis akhir dari tahun yang kusesali. Selain fakta bahwa aku lahir pada bulan itu.

Tapi itu sebelum aku menjumpai April 2018.



Aku menjumpai banyak hal baru disana. Wanita baru. Lingkungan kerja baru. Tempat tinggal baru. Tanggung jawab baru. Teman baru. Bahkan aku baru memulai kehidupan mandiri ku pada bulan itu.

Point pertama tadi akan aku bahas pada waktunya. Tentang manusia yang sedang mengisi hari-hariku yang sudah gamang setelah dua tahun menduda 😛

Lanjut ke point selanjutnya.

Lingkungan Kerja Baru
Teman Baru
Tempat Tinggal Baru
Mandiri?

Paling tidak itulah hal-hal yang sangat membuat Aprilku kemarin sangat berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Aku memutuskan untuk mundur dari sekolah sebelumnya sebelum akhir tahun pelajaran, walaupun keputusan itu terkesan tidak bertanggung jawab, tapi tetap saja ku lakukan. 

Gejolak di tempat lama, adaptasi ditempat baru, bahkan akhirnya aku memulai sesuatu yang sudah dari dulu aku dambakan. Memulai hidup mandiri sebelum menikah. Walaupun aku tetap pulang saat akhir pekan, tapi itu tidak menghilangkan konteks bahwa aku hidup mandiri sebelum menikah.

Aku ingin membahas lingkungan kerja baru. Di sekolah ini aku mengalami banyak shock terapi. Beberapa budaya sangat berbeda dari sekolah sebelumnya, mulai dari jargon-jargon khas sekolah, gaya kepemimpinan yang sangat berbeda, pola interaksi dengan pegawai (selain guru) yang lumayan mengasikan, tidak ada tempat berkumpul lain selain ruang guru, pola serapan, dan makan siang yang selalu sama, budaya solat berjamaah, olahraga sore menjalang ashar, atau hal-hal lainnya.

Padahal ada sedikit persamaan dari sekolah ku saat ini dengan sekolah sebelumnya. Sama-sama memiliki tiga unit, SD-SMP-SMK untuk sekolahku sebelumnya. Sedangkan sekolah baru terdiri dari SD-SMP-SMA. Walaupun seakan sama, tapi disekolah sebelumnya aku masih bisa mengenal pegawai yang berbeda unit tadi, sedang disekolah baru aku belum bisa mengenal satupun guru di unit SMP-SMA. Karena unit SD pada dasarnya adalah unit paling muda dari ketiganya sehingga SD terletak agak jauh dari unit SMP-SMA, hal itu terjadi karena lokasi unit SD sebelumnya adalah lahan parkir.

Lingkungan kerja baru pasti membawa teman baru. Baik guru, staf, atau tenaga non guru. Beberapa sedang kucari kecocokannya, mana yang aku rasa cocok dengan gayaku, mana yang sebaiknya tidak aku dekati dengan gayaku yang terlalu guyon. 

Aku datang bersama tiga belas orang lainnya, sehingga tidak kesulitan membuat teman. Bahkan jumlah guru baru dengan guru lama lebih banyak guru baru. Pada dasarnya guru baru lebih mendominasi di sana. 😝

Kamu bisa membaca perjuanganku sehingga diterima di sekolah ini pada postingan berjudul Keputusan Berat.

Lanjut

Karena lokasi sekolah dengan tempat tinggalku di Priok berjarak kurang lebih 30km, aku memutuskan untuk mencari kontrakan kecil di lingkungan sekolah. Memang sedikit berlebihan memang, padahal ada guru lama yang tetap pulang pergi padahal jarak ke rumahnya lebih dari 42km. 

Tinggal sendiri memang tidak menyenangkan, aku harus menyiapkan segalanya sendiri, makan, perbaikan rumah, bayar listrik, atau sekadar menjaga kebersihan rumah. Selain itu, teman-temanku kebanyakan tinggal di priok, akhirnya aku hanya bisa bermain atau sekadar berbincang dengan mereka pada waktu akhir pekan. Padahal tidak semua temanku liburnya selalu pada akhir pekan. 

Tinggal sendiri memang tidak terlalu menyenangkan, apalagi tidak banyak kegiatan yang bisa aku lakukan selain bermain hape, atau menonton film di laptop. Dan sekarang sedang bulan Ramadhan, pasti lebih berat. 

Memang, tidak ada yang menyenangkan dari perubahan. Tapi jika tidak ada perubahan, kamu tidak akan mengalami perbaikan, kan?

Doakan semoga segala yang terjadi di Aprilku kemarin memang yang terbaik buatku.

Terimakasih sudah membaca.

See you.