Tips Menjadi Guru yang Menyebalkan

6/29/2017 2
sumber : https://pixabay.com

Sebelum menuju topik postingan kali ini, saya mau mengucapkan.

Selamat Idul Fitri, 1438H. Semoga Ramadhan tahun ini memberi berkah untuk kita semua, dan kita kembali menjadi insan yang baik, baik kepada insan lain maupun ke Allah sebagai sang pencipta.

Saya melewatkan bulan puasa kemarin dengan tidak membuat secuilpun postingan untuk diposting di blog ini. Maafkan kesalahan saya. Semangat saya sedang turun. Mungkin karena saya ngeblog untuk mendapatkan apresiasi bukan karena pengen nulis.

Dengan segala kerendahan hati yang suci ini. Saya minta maaf untuk semua yang nyasar ke blog ini. Dan saya juga minta maaf kepada diri sendiri yang kurang memberi dorongan yang sedikit lebih keras.

Back to topic

Kali ini saya mau membahas bagaimana si caranya untuk menjadi guru menyebalkan, guru yang tidak disukai oleh muridnya. Guru yang menjadikan siswa tidak menyukai berada di sekolah. Silakan lanjut membaca.

  • Kasih PR terus
Yap, beri murid kalian banyak PR, mulai dari PR mengerjakan LKS, wawancara, cari informasi di koran atau internet, atau sekadar merangkum. Apalagi menjelang pembagian rapot, kalian bisa berdalih untuk menutup nilai yang kurang. Jangan beri dia kesempatan untuk bermain dengan temannya di rumah. Karena toh murid tidak akan belajar jika tidak diberi PR. Guru senior atau pun guru baru sering menerima aduan seperti itu dari wali murid, kan? 

Karena wali murid pun mendukung, sudah seharusnya kalian memberi mereka PR yang banyak. Agar si murid, 'belajar' di rumah? Setuju?

Setelah memberi PR, kalian bisa gunakan jam pelajaran di sekolah dengan mengoreksi bersama. Jadi, kalian tidak perlu repot-repot menghabiskan jam kosong kalian untuk mengoreksi. Ditambah kalian juga tidak dipusingkan membuat rencana kegiatan pembelajaran. 
  • Jarang bikin permainan
Tidak usahlah bikin permainan yang melelahkan kalian sebagai pengajar. Daripada harus berteriak, mengatur ini itu, atau mengganggu malam kalian untuk merancang permainan. Repot sekali, kan?

Efek permainan itu banyak, murid jadi senang dengan kalian, pembelajaran jadi kurang menjemukan, murid banyak bergerak artinya kalian harus bergerak lebih banyak lagi. Ditambah dengan melakukan permainan kelas jadi berisik dan pastinya mengganggu kelas lain.

So, hindari permainan dalam pembelajaran. Dan kalian akan fix jadi guru yang menyebalkan. Selamat!
  • Kerjakan apa yang ada di buku
Sumber: https://pixabay.com

Buku dibeli buat apa? Untuk dipelajari? So, daripada pusing mikirin kegiatan pembelajaran lain. Lebih baik kerjakan apa yang ada dibuku. Kan walimurid /pemerintah sudah mengeluarkan biaya cukup besar untuk membayar buku. Bagaimana jika mereka protes bukunya tidak digunakan dengan maksimal?

Pemerintah mungkin tidak protes, tapi yang mengajar di sekolah swasta mungkin akan diprotes wali muridnya jika bukunya jarang digunakan. Apakah saya benar?

Banyak informasi yang bisa didapatkan murid dari buku, kadang bahkan kalian sebagai guru tidak bisa mengimbangi informasi itu. Nah, karena buku adalah tempat segala ilmu dapat ditemukan, ngapain pusing-pusing. 

"Anak-anak, kerjakan halaman sekian sampai sekian. Di buku tulis, soalnya salin." Keluarkan kalimat sakti itu setiap hari. Yap, guru menyebalkan sudah kalian sandang.
  • Tidak bercerita
Berbicara tentu perlu energi. Dan energi kalian itu mahal. Jadi buat apa membuang energi untuk bercerita panjang lebar yang kadang malah ditanggapi murid dengan mulut menguap dan mata mengantuk. Enggak efektif dan efisien.
  • Jangan belajar dalam kelompok
Nilai dirapot adalah nilai individu tidak ada rapot yang dibagikan untuk kelompok. Jadi jika dalam pembelajaran dilakukan kelompok, bukannya itu percuma saja?

Pembelajaran dengan berkelompok tentu ada saja beberapa murid yang enggak cocok sama murid lainnya. Malah sampai adu argumen yang maunya menang sendiri. Daripada dibuat riweh sama urusan macam itu, ya pembelajaran kerjakanlah secara sendiri-sendiri. Jangan beri dia waktu untuk bersosialisasi dengan murid lainnya dalam pembelajaran. Murid ke sekolah untuk belajar bukan bersosialisasi.
  • Galak
Ketika gagal menguasi kelas, ini waktunya kalian mengeluarkan suara terbesar yang bisa kalian buat. Tatap mata murid dan buat kesan mata kalian seolah-olah bisa keluar dari tempatnya. Jika perlu jewer telinga nya hingga merah. Nah, kalo sudah begitu kalian akan ditakuti oleh murid alih-alih dihormati.

Saat kalian galak, kalian bisa menutupi bahwa kalian sebagai guru tidak terlalu menguasai materi. (Jika memang demikian).

Lakukan tips-tips tadi, jika ingin jadi guru yang menyebalkan.

Trust me, it's work.

See you.

Belum Bisa Move-on

5/13/2017 0

Berharap balikan, begitulah yang setiap kali gue inginkan setiap kali gue ingat dia.

Sudah 20 hari gue berpisah dengan kamar gue. Kamar dimana gue menghabiskan masa kuliah. Masa yang paling menyenangkan buat gue, masa dimana gue bisa leluasa. Seleluasa apa yang bisa gue bayangkan. Karena di kamar itu gue seperti punya dunia, dan punya kuasa atas dunia itu.

Namun, seperti kata sebuah pepatah,

Tak ada yang abadi.

Tepat tanggal 24 April kemarin, gue akhirnya melihat ruangan berbentuk balok itu untuk yang terakhir kalinya.

Lucu ternyata, ketika ruangan yang biasanya berantakan itu pada pengakhiran kembali rapi seperti saat gue pertama kali datang. 

Banyak yang gue lalui di kamar mungil itu.

Mulai dari berjam-jam melalui malam dengan ketawa enggak jelas ketika bertelpon ria di panggilan grup. Merasakan jatuh cinta, dan patah hati pertama kali. Atau sekadar merapihkan kamar yang tidak pernah bersih itu.

Berbincang dengan sahabat secara langsung, melakukan aktivitas 'gila', atau sekadar menyesap kopi sambil menulis skripsi.

Gue masih ingat saat dulu masih akrab dengan operator bolt. Karena rumah itu enggak tercover bolt, alhasil gue kudu beli antena tambahan. Gue melakukan beragam percobaan sampai pada akhirnya, gue bisa menikmati sinyal satu bar milik bolt. Boleh dikatakan. Gue jatuh cinta sama bolt, bukan sama sinyal yang sering blank spot itu, tapi sama perjuangan gue untuk tetap menggunakan bolt. Bahkan, gue pernah dapet hapenya dari kuis Bolt di Twitter.

Kamar itu juga, gue gunakan sebagai pelarian. Setelah gue lalui hari yang melelahkan, gue kunci pintu kamar dari dalam, lalu gue akan menikmati malam yang menyenangkan sekali lagi.

Di kamar itu gue punya dinding penuh post-it, gue tulis beragam angan, harapan, bahkan hingga kalimat motivasi disana. Rasanya gue selalu punya kegiatan menarik setiap kali bercermin. Gue jadi ingat bahwa gue selalu punya angan yang harus digapai.

Dinding sisi lainnya, ada sebuah peta Jabodetabek yang cukup besar. Bahkan jika jalan menuju rumahmu punya panjang lebih dari 20m, jalanan rumahmu akan tampak jelas di peta. Peta itu menyadarkan gue bahwa sebagai penduduk Jakarta, gue terlalu bodoh jika nyasar di kota yang tidak terlalu besar ini. 

Oia gue juga punya perpustakaan kecil disana. Dengan beberapa buku koleksi gue.

Entah kenapa, gue masih punya gambaran jelas akan kamar itu. Rasanya suatu malam nanti, gue akan kembali ke ruangan pengap itu dan melalui malam dengan menyenangkan seperti biasanya.

Kini,

Di kamar, atau lebih tepatnya bagian dimana gue tidur, ini gue belum menemukan sesuatu yang menyerupai dia. 

Gue tidak punya pintu yang bisa dikunci, gue enggak punya dunia sendiri apalagi kuasa akan dunia itu. Disini gue seperti menumpang dan mengikuti sebuah peraturan di dunia dimana gue rasa, gue enggak seharusnya berada. 

Tidak ada dinding penuh post-it, tidak ada peta, yang ada hanya tumpukan buku yang jauh dari kesan perpustakaan mini. 

Semua seperti menghilang, dan gue benci saat mengalami kehilangan.

Bagaimana kabar mu?

See you in my last chance, in my dream.


Baca tulisan menarik gue tentang kamar itu di Kontrakers Sejati

Berbagi Kebosanan

4/16/2017 4
Foto yang enggak ada makna nya.

Belakangan gue seperti menjalani kehidupan, bukan menghidupinya. Alih-alih menikmati, yang terjadi gue sibuk melakukan setiap ritmenya. Hidup gue jadi terasa terlalu sebentar. Iya, semua hanya sebatas melewati setiap hari, dan malamnya dengan cara yang selalu sama.

Gue bangun pagi hari, berangkat ngajar ke sekolah. Lalu gue akan pulang usai jam makan siang. Sampai rumah gue langsung terlelap tidur sebab inilah kesempatan gue untuk tidur, karena kesibukan lainnya akan menunggu saat sore hingga malam. Saat waktu memaksa gue untuk kembali kerumah, gue tidak punya banyak cara untuk melaluinya.

Sampai di rumah gue langsung akrab dengan benda dengan layar sentuh milik gue sampai dini hari menjebak gue untuk segera menutupkan mata sejenak. 

Hal-hal tadi akan berulang hingga akhir pekan. Gue akan senang ketika akhirnya sabtu siang menyapa. Akhirnya gue diberi kesempatan untuk merubah sedikit kebiasaan tadi.

Lalu gue jadi sadar gue hanya memiliki beberapa agenda rutin setiap akhir pekan. Mengunjungi pernikahan, lari hingga senja berakhir. Lalu menikmati malam bersama teman atau hanya dengan diri sendiri. Semua malah seperti rutinitas lagi bagi gue. Dan gue kembali merasakan bosan yang begitu akut. Dan rasanya hidup gue jadi tidak begitu menyenangkan seperti saat masih kuliah dulu.

Gue jadi kangen jatuh cinta, bukan sama orangnya. Tapi sama setiap proses jatuh cinta. Malu-malu saat pertama kali memulai perbincangan, berdamai dengan hati yang deg-deg an saat mengajak untuk pergi bersama pertama kalinya. Genggaman pertama yang dilakukan dengan keberanian yang menutupi rasa malu akan penolakan. Panggilan yang tercipta hanya untuk dia. Dan segala hal yang tidak pasti lainnya.

Seakan hidup lebih menarik ketika gue mengalami banyak hal yang tidak terduga. Banyak hal.

Dan hal itu semakin menggelora saat akhirnya gue di respon, yang menurut gue, cukup baik. Gue semakin berani untuk melakukan step selanjutnya. Sok-sok an di depan si pujaan hati, memelankan suara, atau tindakan memainkan rambutnya. Rasanya semua kembali seperti seharusnya.

Butuh berapa bulan lagi bagi gue untuk kembali menikmatinya?

Di lain sisi, banyak yang bilang ketika lu butuh jatuh cinta karena hidup lu membosankan, itu bukan langkah yang baik. Katanya dalam percintaan itu bukan membawa kebahagiaan, tapi membagi kebahagiaan. Dan gue rasa gue harus lebih bahagia dulu sama diri gue. Baru kemudian gue akan menemukan seorang yang kebahagiaan nya setara untuk berbagi dengan kebahagiaan milik gue. Lalu kebahagiaan kami akan berkombinasi menghasilkan kebahagiaan jenis baru.

Cukup menyebalkan ya paragraf gue tadi?

Kembali ke rutinitas.

Disisi lain, gue butuh rutinitas untuk menurunkan berat badan gue yang masih setia di tiga digit angka. Gue harus rajin lari, fitness, dan mengurangi beragam asupan yang sering masuk begitu aja ke dalam saluran pencernaan gue. 

Selama empat bulan, (hampir) rutin lari setiap sabtu, plus kadang hari minggu, atau hari lainnya untuk lari. Gue malah mengalami peningkatan berat yang bikin gue semakin enggak yakin sama program yang sedang gue jalani.

Tampaknya gue cukup ahli melakukan rutinitas pekerjaan tapi enggak cukup ahli untuk rutin lari, dan mengatur makanan yang masuk. Rasanya kayak gue memang ahli dalam melaksanakan kehidupan yang membosankan.

Udah ah, bosan gue berbagi kebosanan.

See you.

Undangan

3/26/2017 6
Dokumen pribadi

Umur gue baru dua puluh tiga tahun.

Umur gue sudah dua puluh tiga tahun.

Terserah lu mau baca yang mana...

Umur segitu masih dapat digolongkan muda jika menikah. TAPI, terlalu tua untuk mencari pasangan hanya untuk berstatus pacaran. Apalagi kalau lu itu wanita.

Iya ga si?

Anyway

Untuk pertama kalinya gue mendapatkan undangan resepsi yang resmi, tidak berupa personal chat di WhatsApp atau undangan via grup WhatsApp yang sangat menyebalkan. Undangan yang dicetak. Dan niat.

Memang si WhatsApp memudahkan orang-orang dalam berkomunikasi, tapi tidak selayaknya mengundang seseorang ke suatu acara besar (resepsi -red) hanya melalui WhatsApp. Rasanya lu kehilangan beragam kesempatan untuk ngobrol, dan melihat ekspresi teman lama yang kaget bukan kepalang. Padahal melihat ekspresi kaget adalah salah satu hiburan dalam menyebar undangan resepsi. Iya, kan? Gue belum pernah ngerasain soalnya.

Diundang via WhatsApp memang menyakitkan. Apalagi ketika yang nikah adalah teman yang rasanya lu anggap cukup dekat. Rasanya kayak kalian terlalu berlebihan menganggap dia sebagai seorang teman dekat. Kecewa rasanya memang. Tapi pertemanan kalian terlalu sepele jika mempersoalkan hal tersebut, disisi lain rasanya lu terlalu dipandang sepele jika di undang via WhatsApp.

Ego bermain disana.

Lanjut ke persoalan.

Gue sedang memandang sebuah persegi terbuat dari karton yang isinya nama mempelai pria, dan wanita ditambah tulisan 1 April 2017 di bagian bawahnya. Persegi itu masih terbungkus plastik, dan ada nama gue di atas sebuah stiker. Gue tahu inti dari persegi itu, itulah yang menjadi alasan persegi itu masih terbungkus rapi.

Setiap kali gue lihat persegi itu, ada rasa yang tidak begitu nyaman di hati. Rasanya 'mungkin enggak si, suatu saat ada nama gue di sana?' 'mungkin enggak si gue nikah bukan karena, dia doang yang mau?' atau yang tersakit 'apakah gue akan?' Rasanya itu sangat mengganggu kehidupan gue belakangan. 

Sementara teman yang lain sedang mempersiapkan sebuah resepsi, dan merancang sebuah kehidupan baru yang akan dia jalankan setelah tamu terakhirnya pulang. Perihal rumah serta perlatannya, dan perihal apakah pin rekeningnya harus dia kasih tahu ke istrinya kelak. Atau yang remeh seperti "Cocokan jeruk atau kelengkeng ya buahnya?"

Jujur gue sedih saat pertama kali dengar dia akan lamaran, rasanya kayak waktu berjalan terlalu cepat. Rasanya baru kemarin tuh bocah ngikutin gue saat ujian praktek solat kelas enam SD dulu. Lalu tiba-tiba beberapa bulan kedepan dia akan melepaskan status 'lajang'-nya. Gue seneng soal dia yang akan melanjut ke kehidupan jilid dua nya. Tapi sedih juga mengingat dia enggak bisa tiba-tiba gue WhatsApp "Di rumah enggak?" Atau dia enggak akan nelpon gue lagi buat sekadar ngajak ngumpul di rumahnya, karena akan sangat mengganggu istrinya.

PS: Rumah dia setelah nikah juga makin jauh. Jadinya males juga buat ngumpul :P

Teman yang terakhir, ini yang paling menyakitkan. Teman yang tiba-tiba ketauan baru aja selesai akad.

Jujur ini benar-benar menyakitkan. Rasanya kayak, gue enggak ada artinya sama sekali. Padahal gue, dan dia pernah satu organisasi yang rasanya kayak keluarga, bahkan kita pernah berada di tempat kerja yang sama. Memang si dia enggak melakukan itu ke gue doang. Dia juga melakukan itu ke semua temannya, tapi tetep aja rasanya sakit. Dia bilang kurang lebih gini "Akadnya emang buat keluarga doang, tapi nanti resepsinya pasti di undang kok". Dan perlu gue luruskan dia minta maaf di grup WhatsApp.

OKE GUE BENCI WHATSAPP.

Fine.

Karena postingan ini membicarakan tentang pernikahan. Rasanya kurang afdol jika tidak diakhiri dengan doa.

Gue sebagai teman, ingin berdoa agar pernikahan kalian menjadi pernikahan yang di ridhoi Allah, dan dia yang menjadi pasangan kalian membawa kalian ke arah yang jauh lebih baik. Tidak ada perpisahan setelahnya. Mungkin kalian akan mengalami beragam permasalahan kelak, namun ingat perkataanku ini 'tidak ada masalah yang terlalu besar, yang ada hanya akal dan pikiran yang harus bekerja lebih keras untuk menyelesaikannya.'

Didedikasikan untuk
Andriana
Gondo
Fikri

(Bagian 2) Cinta, Haruskah sama?

3/18/2017 12

Sebelumnya : (Bagian 1) Cinta, Haruskah sama?

"Aku tahu alasanmu merokok kali ini." Ucap Dewi setelah beberapa kali sengaja kuarahkan asap kearahnya.

"Kenapa?" Jawabku datar.

"Kamu tahu, aku akan segera pergi saat kamu membakar rokok. Dan saat ini jelas kamu ingin mengusirku." Jawab Dewi kesal. Andai ia tahu bahwa membuatnya kesal, malah membuat dia menampilkan wajah serius yang elegan.

"Tidak, ini rokokku pertama hari ini. Bisa kamu bayangkan?"

"Tidak. Seharusnya jangan, paling tidak saat pergi bersamaku. Aku ingin pertemuan kali ini tidak berhenti ketika ia terbakar." Kata Dewi sambil menunjuk benda yang mengeluarkan asap di tangan kananku.

"Baiklah. Apa yang ingin kamu bicarakan?" ucapku setelah mematikannya.

"Menurutmu apakah aku harus bertemu pria itu?" kata Dewi mencoba membuat kalimat yang terdengar biasa. Padahal aku tahu tujuannya. Dia ingin aku melarangnya, dan ia ingin aku mengajaknya ke puncak bersama teman-temanku.

"Aku punya dua pilihan buat kamu, bertemu dengan pria itu atau besok subuh kita ke puncak. Ada pertemuan rutin bulanan teman-teman SMA ku" ucapku. Setelah ku selesaikan kalimatku. Dia tersenyum menampilkan gigi gingsul, dan mengajakku ke masjid untuk solat zuhur. Syukurlah aku ingat.

Sebetulnya kondisi aku dengan wanita imut yang segara sedang menggenggam tanganku ini cukup rumit. Bahwa hanya ada dua pilihan bagi kami, mengganti tuhan kami, atau mencari pasangan yang memiliki tuhan dengan panggilan yang sama. Pilihan pertama jelas bukan pilihan yang akan dilaksanakan bagi orang yang masih beribadah. Dan pilihan kedua, harus aku akui, lebih masuk akal. Tapi melihat kondisi kami, aku rasa itu akan sulit.

Kondisi kami pernah lebih buruk. Ketika aku beribadah, Dewi menunggu di parkiran. Mungkin bagi beberapa jemaah melihat gadis berkerudung yang sering berada di parkiran gerejanya bukanlah bentuk toleransi umat beragama. Beberapa pernah meneriaki, meminta satpam untuk mengusirnya, bahkan ada seorang ibu-ibu yang menuduh bahwa ia membawa bom dibalik kerudungnya.

Aku ingat juga, kami pernah hilang kontak beberapa hari perihal masalah tadi. Karena aku cukup bodoh berkata "Yaudah kalo kamu nemenin aku ibadah lagi, kerudungnya dibuka aja."

Aku baru tahu bahwa jika kamu wanita, kamu belum menikah, serta fakta bahwa kamu adalah muslim. Setiap helai rambut yang dilihat oleh orang lain akan menghasilkan dosa yang ditanggung oleh ayahmu. Dan dia mengakhiri pidatonya dengan kalimat yang membuatku semakin paham ajaran agamanya. "Hal kayak begini enggak bisa dibecandain, Han!!." Dia menggunakan penekanan ditiap diksinya. Padahal, pacaran juga dilarang keras dalam ajaran agamanya. Untungnya dia tidak mempermasalahkan hal itu. Syukurlah.

Dewi pernah menyinggung perbedaan kamu, tentang ia yang menyesal bahwa dia tidak menemukan pria dengan hidung mancung, serta suara berat tapi memiliki tuhan yang sama dengannya. Ia mempersoalkan alasan kenapa tuhanku yang bersekongkol dengan tuhannya untuk mempertemukan kami. Padahal ia mengikuti banyak kegiatan.

"Mungkin karena kamu enggak tulus ikut pengajian, jadinya enggak ketemu deh sama pria yang satu tuhan denganmu" jawabku kala itu, ditambah beberapa kalimat yang aku pilih agar tidak terkesan bermain-main di lingkup yang terlalu sensitif itu.

"Mungkin, tapi harusnya ada dong. Aku selalu pakai warna kesukaan semua pria, hitam." Katanya polos.

Aku tertawa, bukan karena ia polos, tapi karena terimakasih kepada sang tuhan tidak memberinya ide menggunakan baju warna hijau tosca yang membuatnya sangat mempesona seperti saat ini. Baju ini juga yang ia gunakan saat pertama kali kami bertemu.

"Kamu kok malah ketawa si?" Tanya Dewi dengan tatapan yang seharusnya membuatku takut, yang terjadi malah ia mempesona bagiku.

"Kamu enggak perlu melakukan hal khusus untuk memikat pria lain, kamu hanya butuh sikap supel mu, senyum mu, dan beberapa cerita menarik mu saja. Dan beberapa pria mungkin akan berakhir dengan meminta nomormu" ucapku, mencoba bersikap datar akan pembahasan waktu itu.

"Jika ada seorang yang berhasil dan meminta nomorku. Apa yang akan kamu lakukan?" jawab dia memancing.

"Aku akan membuatnya berjanji tidak akan melukaimu. Jika ia melanggar janjinya, mungkin ia akan merasakan beberapa sundutan rokok kesayanganku" Jawabku cukup angkuh.

"Aku suka, setiap kali kamu seakan sangat membelaku."

"Apa? Seakan?"

"Kamu tidak pernah benar-benar membelaku. Ingat teman seangkatanmu, yang mencoba mendekatiku? Kamu tahu dia mencoba menciumku di kencan pertama kami. Tapi kamu tidak pernah menghardiknya." Semua wanita memang pengingat yang menyebalkan.

"Dia orangnya royal. Setiap nongrong selalu saja dia yang bayar. Tentu aku tidak ingin kehilangan teman seperti dia." Jawabku waktu itu, mencoba melindungi diri.

"Kamu lucu kalo lagi nyari-nyari alasan" kata Dewi sambil tertawa dan mengelus tangan kananku. Dan kami pun menyelesaikan pertemuan waktu itu dengan tawa, dan beberapa hal menyenangkan lainnya.

Kembali ke kondisi saat ini.

Sampailah kami di masjid, letaknya di parkiran. Aku memilih untuk mencari tempat terbuka, membakar rokok, dan merenung akan kami yang tampaknya tidak punya masa depan. Menunggu Dewi selesai beribadah butuh beberapa batang rokok. Ia butuh waktu 20-30 menit untuk menyelesaikan ritualnya. Salah satu hal yang paling aku syukuri dari perbedaan diantara kami.


Akan berlanjut, percayalah.


Review Film 'Music and Lyrics'

Review Film 'Music and Lyrics'

2/27/2017 0
Sumber: Wikipedia

Sebuah film drama musikal dengan tema sederhana. Begitulah inti dari film yang liris satu dekade yang lalu ini. Seorang musisi pop yang tenar tahun 1980-an, Alex Fletcher, mencoba untuk bangkit agar eksistensinya di dunia musik tetap ada.

Kesempatan itu akhirnya datang ketika seorang musisi wanita yang sedang berada di puncak, Cora Corman, meminta Alex untuk membuatkannya lagu. Sebuah lagu bertema 'Way Back In to Love'. Awalnya Alex bingung, dan tidak yakin bisa membuatkan lagu. Tapi ia dipaksa oleh keadaan, bahwa ini mungkin satu-satunya cara agar dia kembali bangkit dalam dunia musik. Akhirnya, dia mengiyakannya.

Disaat yang sama, Alex memiliki seorang penyiram tanaman baru bernama Sophie Fisher. Karakter Sophie adalah seorang wanita yang cerewet, namun memiliki bakat dalam menulis lirik. Yap, bisa ditebak penyiram tanaman itulah yang membantu Alex dalam pembuatan lirik 'Way Back in to Love'.

Selama masa pembuatan lirik, mereka akhirnya jatuh cinta. Keduanya adalah sosok yang cerewet. Benih cinta muncul ketika Alex membantu Sophie untuk menghadapi mantan pacarnya (Sloan Cates). Sloan yang menjadikan Sophie sebagai tokoh utama dalam novelnya. Dalam novel tersebut sosok Sophie digambarkan sebagai seorang wanita yang selalu menghindar dalam menghadapi persoalan, menganggap dunia seperti dalam dongeng. 

Cora Corman adalah seorang penyanyi wanita yang berada di puncak karir. Dia adalah artis yang cukup berani dalam melakukan aksi di panggung. Permintaannya kepada Alex dikarenakan ia baru saja putus dengan pacarnya setelah dua bulan memadu kasih. Yap, saya beranggapan bahwa sosok ini terilhami dari penyanyi wanita kelahiran 13 Desember 1989. Itu loh yang namanya ada Swift-nya.

Tema cerita yang terlalu sederhana tampaknya yang menjadikan film ini kurang bermakna. Lalu sosok Alex sebagai pemeran utama masih kurang digali, serta pertemuan Alex dengan Sophie saya rasa menjadi terlalu kebetulan. Seharusnya ada bagian ketika Alex sudah berusaha maksimal membuat lirik sehingga membuat dia depresi, lalu barulah dia dipertemukan oleh Sophie. Agar sosok Alex dapat lebih digali, dan menghindari kebetulan yang kebangetan.

Lalu bagian pembuka film juga menjadi minus. Dalam film berdurasi 1jam-36 menit ini, bagian pembuka diisi oleh video clip band bernama 'POP'. Band POP adalah band tahun 1980-an dimana salah satu anggotanya adalah Alex. Video Clip tersebut saya rasa untuk menambahkan durasi film, dan agak terlalu memaksa.

Film dengan IMDb rate hanya berada di poin 6,5/10 dari 83,959 voters ini, membuat saya semakin yakin bahwa film ini tidak terlalu recommeded untuk ditonton. Saya menonton film ini karena lagunya yang enak untuk didengar, kemudian penasaran dengan filmnya. Iya, hanya itu saja.

Oke, see you.

Postingan ini saya persembahkan untuk tema bulanan #KombunFeb2017. Terimakasih kombun. Sudah memberi ide untuk postingan.