Ngeblog untuk Literasi

7/28/2018 1
 
Tahun ini ngajar kelas 1 SD
Selamat pagi, siang, sore, malam.

Kalian tinggal cocokin aja kapan kalian baca postingan ini.

Perkanalkan nama saya Dicky Renaldy, seorang guru yang dulu sempet hoby ngeblog tapi sekarang malah blog nya tidak terawat. Padahal blog nya sudah dibeliin Domain, tapi malah semakin malas setelahnya.

Setelah hampir 70hari semenjak postingan terakhir, atau setelah ribuan hari tidak intens lagi nulis di blog, saya ingin kembali menghidupkan blog yang dibeberapa tulisan sudah tidak sesuai dengan keadaaan saat ini.  Saya sudah bekerja, sudah bukan mahasiswa lagi. Bahkan ini tempat kerja saya yang ketiga untuk dua tahun belakangan. Semoga yang tempat kerja kali ini bisa mengembangkan saya.

Saya ingin meluruskan jati diri siapakah pemilik blog ini. Karena menurut saya hampir sebagian besar orang-orang yang nyasar kesini pasti karena tulisan saya mengenai PGSD UNJ. Karena saya sudah tidak menjadi bagian dari PGSD UNJ, saya hanya ingin kalian tau itu 😋

Profesi saya adalah seorang tenaga pendidik, oleh murid-murid saya dipanggil dengan sebutan "Pak Dicky."

Saya mengajar di sekolah yang menjalankan kurikulum 2013 (entah sekarang kalian menyebutnya dengan sebutan apa), yang salah satu kegiatannya adalah literasi. Atau budaya membaca. Seperti diketahui Indonesia menempati posisi 64 dari 72 yang diukur lembaga PISA dalam hal membaca, matematika, dan sains. (kalian bisa cari sendiri untuk informasi selengkapanya)

Dengan alasan itu saya rasa menteri pendidikan saat ini, Pak Muhajir (yang 10 Juli lalu saya lihat secara langsung di acara sekolah) menganggap penting untuk meningkatkan budaya literasi atau pengertian yang paling sederhana adalah budaya membaca. Kerena menurutnya, dengan meningkat budaya literasi bisa meningkatkan pola pikir anak bangsa yang pada akhirnya meningkatkan daya saing bangsa Indonesia.

Karena saya seorang tenaga pendidikan, tampaknya kurang tepat jika saya hanya menyuruh anak untuk membaca tanpa diimbangi dengan saya yang ikut pula membaca. Dan dengan meningkatkan budaya literasi, saya bisa menjadi contoh nyata bagi murid-murid saya.

Saya akui budaya membaca saya sedang turun beberapa bulan terakhir, sangat rendah malahan. Sekarang dengan cepat dan murahnya paket data, saya (dan sebagian besar orang, mungkin) memilih untuk menyaksikan media audiovisual dibandingkan dengan membaca. Padahal dengan membaca kita bisa mengetahui dunia dengan lebih terperinci, menambah sudut pandang, mempertajam daya pikir, meningkatkan daya ingat, bukan hanya video-video di youtube yang acapkali isinya tidak bagus. (Misalnya Flat Earth 😏)

Langkah paling sederhana yang bisa saya lakukan untuk meningkatkan budaya membaca, saya memasang rak buku yang bertujuan agar saya bisa menyimpan, dan menambah stok buku untuk dibaca.

Koleksi bukunya masih sedikit, malah banyaka isi yang lain 😝

Melalui blog, saya ingin budaya literasi bisa saya lakukan sedikit demi sedikit. Karena dengan menulis saya akan haus untuk membaca. Dengan rajin membaca saya bisa menjadi tenaga pendidik yang bisa menjadi contoh dalam berbudaya literasi.

Sehingga rak buku yang masih kosong bisa terisi, dan terbaca. Kamu tahu kan bahwa kegiatan menulis sangat membutuhkan kegaiatan membaca? 

See You


Segalanya berubah di April

5/20/2018 2
Januari adalah bulan paling menyenangkan buatku. Paling tidak ia adalah awal dari tahun yang menjanjikan, dan garis akhir dari tahun yang kusesali. Selain fakta bahwa aku lahir pada bulan itu.

Tapi itu sebelum aku menjumpai April 2018.



Aku menjumpai banyak hal baru disana. Wanita baru. Lingkungan kerja baru. Tempat tinggal baru. Tanggung jawab baru. Teman baru. Bahkan aku baru memulai kehidupan mandiri ku pada bulan itu.

Point pertama tadi akan aku bahas pada waktunya. Tentang manusia yang sedang mengisi hari-hariku yang sudah gamang setelah dua tahun menduda 😛

Lanjut ke point selanjutnya.

Lingkungan Kerja Baru
Teman Baru
Tempat Tinggal Baru
Mandiri?

Paling tidak itulah hal-hal yang sangat membuat Aprilku kemarin sangat berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Aku memutuskan untuk mundur dari sekolah sebelumnya sebelum akhir tahun pelajaran, walaupun keputusan itu terkesan tidak bertanggung jawab, tapi tetap saja ku lakukan. 

Gejolak di tempat lama, adaptasi ditempat baru, bahkan akhirnya aku memulai sesuatu yang sudah dari dulu aku dambakan. Memulai hidup mandiri sebelum menikah. Walaupun aku tetap pulang saat akhir pekan, tapi itu tidak menghilangkan konteks bahwa aku hidup mandiri sebelum menikah.

Aku ingin membahas lingkungan kerja baru. Di sekolah ini aku mengalami banyak shock terapi. Beberapa budaya sangat berbeda dari sekolah sebelumnya, mulai dari jargon-jargon khas sekolah, gaya kepemimpinan yang sangat berbeda, pola interaksi dengan pegawai (selain guru) yang lumayan mengasikan, tidak ada tempat berkumpul lain selain ruang guru, pola serapan, dan makan siang yang selalu sama, budaya solat berjamaah, olahraga sore menjalang ashar, atau hal-hal lainnya.

Padahal ada sedikit persamaan dari sekolah ku saat ini dengan sekolah sebelumnya. Sama-sama memiliki tiga unit, SD-SMP-SMK untuk sekolahku sebelumnya. Sedangkan sekolah baru terdiri dari SD-SMP-SMA. Walaupun seakan sama, tapi disekolah sebelumnya aku masih bisa mengenal pegawai yang berbeda unit tadi, sedang disekolah baru aku belum bisa mengenal satupun guru di unit SMP-SMA. Karena unit SD pada dasarnya adalah unit paling muda dari ketiganya sehingga SD terletak agak jauh dari unit SMP-SMA, hal itu terjadi karena lokasi unit SD sebelumnya adalah lahan parkir.

Lingkungan kerja baru pasti membawa teman baru. Baik guru, staf, atau tenaga non guru. Beberapa sedang kucari kecocokannya, mana yang aku rasa cocok dengan gayaku, mana yang sebaiknya tidak aku dekati dengan gayaku yang terlalu guyon. 

Aku datang bersama tiga belas orang lainnya, sehingga tidak kesulitan membuat teman. Bahkan jumlah guru baru dengan guru lama lebih banyak guru baru. Pada dasarnya guru baru lebih mendominasi di sana. 😝

Kamu bisa membaca perjuanganku sehingga diterima di sekolah ini pada postingan berjudul Keputusan Berat.

Lanjut

Karena lokasi sekolah dengan tempat tinggalku di Priok berjarak kurang lebih 30km, aku memutuskan untuk mencari kontrakan kecil di lingkungan sekolah. Memang sedikit berlebihan memang, padahal ada guru lama yang tetap pulang pergi padahal jarak ke rumahnya lebih dari 42km. 

Tinggal sendiri memang tidak menyenangkan, aku harus menyiapkan segalanya sendiri, makan, perbaikan rumah, bayar listrik, atau sekadar menjaga kebersihan rumah. Selain itu, teman-temanku kebanyakan tinggal di priok, akhirnya aku hanya bisa bermain atau sekadar berbincang dengan mereka pada waktu akhir pekan. Padahal tidak semua temanku liburnya selalu pada akhir pekan. 

Tinggal sendiri memang tidak terlalu menyenangkan, apalagi tidak banyak kegiatan yang bisa aku lakukan selain bermain hape, atau menonton film di laptop. Dan sekarang sedang bulan Ramadhan, pasti lebih berat. 

Memang, tidak ada yang menyenangkan dari perubahan. Tapi jika tidak ada perubahan, kamu tidak akan mengalami perbaikan, kan?

Doakan semoga segala yang terjadi di Aprilku kemarin memang yang terbaik buatku.

Terimakasih sudah membaca.

See you.

Keputusan Berat

3/17/2018 2
sumber: pixabay

Aku ingin bercerita tentang sesuatu. Sesuatu yang sedang terjadi belakangan ini. Sesuatu yang besar. Terlalu besar, sehingga sangat mengangguku. 

Bolehkah?

Kisahnya bermula ketikaku yang nekat mengirimkan surat lamaran kerja ke salah satu sekolah di daerah Bekasi awal tahun ini. Awalnya kutidak berharap, sesuatu yang sudah kutanamkan sejak setahun yang lalu. Aku kirimkan beragam syarat yang sekolah itu minta dari pelamarnya. Berbagai jenis scan harus kukirim lewat email, Scan Ijazah, KTP, Transkrip Nilai, berbagai Sertifikat yang kuikuti selama jadi mahasiswa, dan beberapa syarat standar lainnya. 

Singkat cerita, sebulan nyaris berlalu. Diakhir bulan pertama tahun ini ada email masuk yang menyatakan aku lolos tahap I dari ketiga tahap yang akan dilalui oleh setiap pelamarnya. Kurang lebih ada 74 orang yang lulus pada tahap itu. Pada posisi yang aku lamar terdapat 27 orang, sedang yang akan diterima hanya 8 diantaranya (Aku berharap menjadi salah satu diantaranya). Cukup menakutkan memang.

Kami diharuskan datang pada tanggal 3 Februari 2018 untuk melanjutkan rangkaian tahap II. Awalnya perbandingan tadi cukup menakutkan. Tapi alam berkehendak lain. Sejak malam tanggal 2 Februari hujan turun, tidak besar memang tapi cukup untuk membuat orang malas kemana-mana, hujannya berlangsung hingga keesokkan harinya. Sehingga dari 27 pelamar yang seharusnya datang, hanya 19 diantaranya yang mengalahkan hujan untuk datang. Membuat perbadingan tadi menjadi tidak begitu menakutkan. 

Tahap II terdiri dari dua bagian, bagian pertama terdiri dari 3 indikator yang akan dites (Pedagogik, TIK, dan Bahasa Inggris), bagian kedua itu Microteaching (mengajar dengan jumlah siswa, dan waktu yang sedikit). Pada saat microteaching kubaru tahu perihal 19 orang tadi. Pada saat microteaching mengalami pengurangan lagi, yang datang hanya 16 orang membuat hati ini semakin gembira. Artinya kesempatanku untuk diterima naik menjadi 50%. 

Aku menjadi orang terakhir yang diujikan pada tahap Microteaching (tidak dilakukan serentak, tapi hanya 6-7 orang perhari). Sehari setelahnya (14 Februari) diumumkan siapa saja yang lolos tahap II. Kucukup senang pada awalnya. Tapi setelah aku memperhatikan cukup lama ternyata semua pelamar yang mengikuti atau datang semua rangkaian tahap II diloloskan. Tampaknya sekolah itu menguji semua indikator kepada semua pelamar. Kami diwajibkan datang tanggal 19 Februari untuk tes psikologis, dan 22 Februari untuk tes wawancara yang menjadi bagian Tahap III. Pada kondisi ini kusudah cukup pasrah dalam mengikuti semua rangkaiannya. Kujalankan sesuai dengan kemampuan maksimal otakku.

Aku sangat takut melalui tahap III, karena saat tes wawancara aku langsung ditemui oleh kepala sekolah, dan kepala HRD disana. Mereka menanyakan apa yang bisaku tawarkan, apa yang bisa menjadi nilai jualku dibanding pelamar lain. Aku gugup tak karuan, beberapa kali kukesulitan untuk menghasilkan kalimat yang padu. Tapi kujawab setiap pertanyaan dengan tingkat kepercayaan diri yang kuusahakan tidak dibawah sang pewawancara. Aku merasa yakin, namun cukup kecewa terhadap diriku pada saat yang bersamaan.

Pengumuman akhir semua rangkaian seleksi akan diumumkan antara tanggal 24 Februari, dan 3 Maret. Inilah tahap IV (bagiku) yang paling menakutkan dari semua tahapan. Hampir setiap hari aku cek email atau web dalam seminggu. Awalnya aku sangat penasaran, lalu perlahan berubah menjadi pasrah.

Awal Maret seorang rekan sesama pelamar menghubungiku, dia bilang web sekolah itu tidak bisa diakses. Aku cukup yakin bahwa hasil akhir seleksi akan diumumkan pada hari ini. Ku refresh terus menerus web itu hingga tengah malam. Walau kalau dipikir-pikir cukup aneh juga sekolah itu mengumumkannya pada malam hari. Tapi perasaanku cukup yakin bahwa pengumuman akan keluar malam itu juga. Hingga kurang lebih pukul 11 malam web itu kembali bisa diakses.

Kumasukan nomer pelamar dan tanggal lahir pada form di web. Selang beberapa waktu, akhirnya aku mendapatkan berita yang sangat kudambakan....

Aku dinyatakan lulus tahap III, dan sukses menjadi bagian dari sekolah itu. Aku sempat tak yakin karena biasanya diumumkan juga melalui email, dan kepsek akan chat WA untuk mengecek. Karena cukup penasaran aku email atau WA beberapa pelamar lolos yang kebetulan kukenal. Kebanyakan memang tidak sekepo aku, jadi mereka baru menyadarinya ketika email muncul atau kepsek yang WhatsApp. Saking kepo nya aku sampai WhatsApp kepsek ybs, untuk menanyakan apakah hasil yang muncul di Web sebagai hasil akhir atau tidak.

Singkat cerita, Aku dinyatakan lulus tahap III. Kali ini hanya 17 orang yang diemail. Terdiri dari 14 guru yang akan menjadi bagian dari SD, dua staf keuangan tingkat SD-SMP-SMA, dan satu staf perpusatakaan SD. Sebagai bentuk syukur, kupotong habis rambutku.

Lalu muncullah persoalan lain....

Kusangka awalnya pelamar yang lolos akan mulai bekerja pada tahun ajaran baru, tapi ternyata aku harus tetap datang ke sekolah baru, dengan alasan kami harus mengenal budaya kerja disana. Kukonsul dengan beberapa guru ditempatku mengajar saat ini, yang menganjurkan untuk berbicara langsung ke kepsek ku saat ini. 

Lalu, ternyata kepsekku saat ini tidak meninginkanku untuk berada pada dua sekolah pada saat yang bersamaan. Sehingga keputusan telah dibuat. Aku akan mengundurkan diri akhir bulan ini.

Persoalan perlahan muncul, aku harus melepaskan seluruh murid privat ditambah aku akan meninggalkan murid kelasku saat ini. Padahal ajaran baru tinggal beberapa bulan lagi. Aku bingung, disatu sisi aku ingin tetap sampai tahun ajaran baru, tapi disisi lain kepsekku saat ini tidak memungkinkan itu.

Hari ini beberapa walimuridku mengetahuinya, beberapa mendukung, beberapa menyayangkan keputusanku meninggalkan anak-anak menjelang akhir tahun ajaran. Tapi keputusannya sudah bulat, aku harus datang ke sekolah baru, dan sekolah yang saat ini tidak mengijinkanku untuk rutin ijin setiap beberapa hari dalam sepekan.

Selanjutnya adalah persoalan tempat tinggal. Karena jarak rumah dan sekolah baru hampir 30km, yang tidak memungkinkan untuk PP setiap hari, aku memutuskan akan ngekos di daerah sana. Yang membuat aku akan secara total hidup mandiri.

Jujur kondisi tadi memang yang membuat aku nekat mendaftar disana. Karena yang sudah sedari dulu aku ingin hidup mandiri. Tapi perlahan aku mempertanyakan diriku. Bisakah?

Jadi aku ingin bertanya sesuatu padamu.

Apa yang seharusnya kulakukan?


Renungan untuk seorang Guru

2/25/2018 6
sumbernya biasa pixabay.com

Guru, adalah profesi paling berpengaruh dalam tumbuh kembang seseorang. Dalam pendidikan formal (yang diwajibkan) setidaknya 9 tahun seseorang ditemani oleh guru-guru nya. Gue bilang jamak, karena memang dalam sembilan tahun tadi seseorang akan berganti guru. Yang menyaksikan, dan membantu setiap perubahan yang dialami. Walau kadang-kadang guru menyebabkan trauma, tak jarang juga guru dianggap orang tua kedua si anak. Yang lebih mengetahui, bahkan mau memahami daripada orang tua kandungnya.



Entah karena gue masih baru sebagai seorang guru, atau bagaimana gue selalu ngerasa wajar kok gue dapet gaji yang kecil. Soalnya gue masih selalu ngajar dengan pola baca-buku-kerjain, masih sangat jarang gue bercerita panjang lebar untuk meningkatkan minat murid belajar sama gue, atau jarang gue melakukan praktek, uji coba, atau hal-hal lain untuk mengajak murid gue sejenak keluar dari kursinya. 

Sampai pada tahap itu gue selalu kepikiran


Apa yang gue lakukan selama kuliah?

Apa enggak ada ilmu yang bisa gue pake?

Rasanya gue hanya melakukan rutinitas yang dulu gue jadiin latar belakang karya tulis gue. Gue selalu mengajar dengan cara guru aja yang pinter, murid hanya baca-kerjain-duduk, atau segala hal yang enggak meaning full banget buat mereka. Padahal dulu pas kuliah, gue selalu memegang prinsip 'jika kerja nanti, gue harus kreatif, gue harus jadi guru yang disenangi anak-anak, gue harus jadi guru yang membuat muridnya senang ketika gue datang'.

Tapi setelah setahun gue berprofesi demikian, gue malah makin jauh dari angan-angan tadi. Rasanya gue enggak seprofesional yang gue harap.

Dan yang terparah gue membenarkan tindakan gue. Gue mencari beragam alasan. Mulai dari pekerjaannya melelahkan, gaji yang tidak memadai, fasilitas sekolah yang sangat tidak menunjang, dan yang paling klise 'ada yang salah dari sistem pendidikan kita'. Atau beragam alasan lain yang intinya tidak ingin menjadi pihak yang salah. Waktu belajar banyak gue pake malah buat duduk di meja sambil main handphone atau yang lebih parah gue pake waktu belajar buat menilai PR mereka. Yang rasanya sangat tidak profesional.

Dan gue hanya bisa mengeluh perihal tadi.


Tangerang, Yuks!

1/31/2018 0
Lagi asik-asiknya ngelamun, tiba-tiba terbesit si mantan, cewek asli Betawi yang nyasar ke Tangerang. Enggak  tau deh gimana kabar tuh Betawi pinggiran. Terakhir yang gue tau si dia lagi deket, entah sama siapa. Kalo deket doang si enggak cemburu gue, kalo jadian baru gue kelabakan.

Apalagi kalo jadiannya sama temen juga. 😜

Jujur gue tipikal orang yang suka mancing-mancing buat gagal move on. Karena bagi gue momen ketika kepikiran hal-hal yang enggak bisa digapai, lagi, itu menenangkan dan menyenangkan. Kegiatan menyenangkan yang menyakitkan si lebih tepatnya. Nah tadi kan si mantan tinggal di Tangerang ya, dan gue sama dia itu suka nyari tempat asik buat pacaran dengan biaya makanan yang murah-meriah. Gimana kalo gue pergi nyari makanan di Tangerang? Siapa tau ketemu. 

ASAL KETEMUAN PAS ENGGAK LAGI SAMA PACARNYA.

Eh Maaf, kebawa suasana.

Iseng-iseng gue nyari di internet tempat-tempat kekinian asik buat sekedar nongkrong di Tangerang, yang pasti makannya juga enggak mahal-mahal banget. Nyasar lah gue ke travelokaDisitu ditulis beragam tempat yang enak buat jalan-jalan, ada jajanan yang murah-murah juga.

Nah ada satu tempat yang lumayan bagus tuh, namanya Pasar Lama, yang enggak pernah tutup, mungkin namanya berasal dari orang-orang yang nunggu sepi itu tempat. "Etdah, Lama bener tutupnya. Pasar Lama nih"

Maafkan bercandaan gue yang garing itu ye.

Di Pasar Lama banyak yang harus banget dicoba, dari pagi hingga malam hari yang bikin gue gagal diet. Cobain, yuks!

Roti Cane
Sumber: Saturesep.com
Makanan ini memang bukan dari Tangerang tapi makanan khas India. Yang seru kamu enggak harus jauh-jauh ke negara si Shah Rukh Khan buat nyobain roti Cane. Tangerang punya tempat penjual Roti Cane yang patut diuji kelezatannya, yang ada di Kawasan Pecinaan - Pasar Lama. 

Unik? Roti Cane India tapi adanya di Tangerang dan di Kawasan Pecinaan lagi. Kalau mau nyoba, tokonya buka saban 5 sore sampai 11 malam.

Sate Ayam
Sate emang gak aneh sih dan ada dimana-mana, tapi yang ada di Pasar Lama Tangerang ini dijamin nagih. Rahasianya ada pada sambal kacangnya yang kabarnya sangat lembut. 

Ditambah asep yang keluar dari arang disana sangat menghipnotis.

Bercanda, ding!

Nama warung satenya, siapa tau penasaran, Sate Ayam H. Ishak.

Roti Bakar

sumber: indahkotatangerang.blogspot.co.id
Makanan yang satu ini enak dinikmati malam hari. Cocok buat yang ramean, enggak mau makan berat, dan berat kalo keluarin uang banyak.

Di Pasar Lama –Tangerang, yang enak ada di Roti Bakar 88. Selain rotinya yang empuk, kelezatannya juga ada pada toppingnya yang bisa kita sesuaikan dengan selera.

Aduh jadi laper.

Es Bun Tin
Tau kan Tangerang itu kalo siang bikin haredang?

Nah gerah-gerah gini enak nih nyoba yang seger-seger kayak Es Bun Tin. Penyajiannya seperti Es Campur, namun isiannya lebih banyak. Tidak hanya kolang-kaling, sagu mutiara, dan kelapa muda saja. Tapi, ada leci juga.
Kebayangkan gimana segernya es bercampur dengan manisnya lelehan susu kental manis dan berbagai isian tersebut.

Nasi Uduk

sumber:pergikuliner.com

Gue selalu sarapan pake nasi uduk, enggak tau kenapa. Kayaknya kalo belom makan nasi uduk rasanya belom sarapan aja. 

Eh tapi,

Walau nasi uduk cocok buat sarapan, di Pasar Lama Tangerang lu enggak harus pagi-pagi kesana kalo penasaran sama nasi uduknya. Karena nasi uduknya buka sampai sore. Di Pasar Lama Tangerang, warung nasi uduk yang paling terkenal adalah Nasi Uduk Encim Sukaria. Di tempat ini juga jualan ketupat sayur sebagai alternatif pilihan menunya.

Bakso
Pecinta bakso wajib cobain Bakso Mas Gino di sini. Warung bakso ini sudah ada sejak tahun 80an. Usia ini tentu bukan waktu yang sebentar untuk menjamin rasa dan kualitas baksonya dong.

Bubur
Di Pasar Lama Tangerang ada warung bubur namanya Bubur Bakmi Kepiting Hokie. Bubur di sini spesial karena penyajiannya menggunakan kacang mete, alih-alih kacang tanah.  Selain daging kepiting, tersedia juga ilihan topping lainnya mulai dari daging ayam, abon, hingga juhi.

Waduh semakin laper nulisnya.

Makan dulu ah.

Es Podeng
sumber:qraved.com
Kayaknya kalo abis makan bubur cocok nih nyemilin es. Gimana kalo Es Podeng?

Enggak nyambung, ya? Enggak peduli 😛

Gue penasaran sama Es Podeng di Pasar Lama Tangerang, tapi gue kudu siap antri di Es Podeng DP Varia. Karena rasa manisnya yang kelewat enak ditambah gurih nya santan, beda deh sama penjual es podeng pada umumnya, es podeng di sini selalu dipadati pembeli apalagi siang bolong yang terik.

Tips dari gue, kalo mau antrinya enggak rame. Mengantrilah saat hujan.

Bakmi
Rasanya yang berbeda dan ukuran mie yang lebih lebar membuat Bakmi Pasar Lama terkenal. Tidak sedikit penggemar bakmi yang jauh-jauh ke sini hanya untuk makan bakminya. Topping daging ayamnya pun katanya lebih banyak, lho!
Sembilan menu kuliner di tempat wisata di Tangerang ini hanya beberapanya saja. Kalau kamu sudah sampai di sana, kamu pasti akan menemukan lebih banyak. Karena Pasar Lama Jadi, pastikan kamu siap untuk terus mengunyah, ya!

Coba duiu gue bawa mantan kesini, pasti menyenangkan.

Aku menyesalinya.

See You.

Pengalaman Menggunakan XL Prioritas

1/03/2018 0
Sejak Oktober 2017, kurang lebih dua bulan saya menggunakan layanan pascabayar XL. Kisah bermula saat saya kehilangan kartu XL. Tanggal 13 Oktober saya pun berkesempatan untuk mengunjungi Xplor yang ada di Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sebenarnya lokasinya bagus, tapi karena sebagian besar La Piazza (Bagian dari komplek MKG) ditutup, jadinya agak kesulitan menuju ke sana.

Berlokasi enggak jauh dari Farmers Market Kelapa Gading, ruangannya dibuat agak trendy. Tidak sekaku operator merah. Artinya tidak ada batas yang benar-benar memisahkan antara pelanggan dan Rangers nya (Sebutan bagi Custemer Servis XL). Pelanggan dengan Rangers hanya dipisahkan oleh meja yang tersusun berjarak mengelilingi sudut salah satu sisi ruangan. Mejanya berbentuk ‘n’ sempurna, setiap ‘n’ dapat diisi oleh dua rangers. Menurut daya ingat saya ada 2/3 ’n’ disana. Yang jelek (setidaknya menurut saya) adalah, kedua pihak berada dalam posisi berdiri. Yap, si Rangers melayanin pelanggan dengan berdiri. Bagi pelanggan yang lelah bisa duduk dikursi tunggu yang terletak tidak jauh dari meja ‘n’ tadi, itu akan jadi kendala saat kursi tunggu penuh.

Saya yang awalnya hanya ingin mengganti kartu yang hilang, berpikir sekalian saja berpindah ke Prioritas. Saya bilang ke rangers bahwa saya ingin mencoba perbedaan kualitas layanan prioritas XL dengan Prabayar XL, si rangers pun lebih menyarankan saya untuk menggunakan nomer baru. Karena jika saya lakukan migrasi dari prabayar ke pascabayar ada kontrak minimal setahun jika ingin kembali ke prabayar. Sedangkan dengan nomer baru kontrak minimal sekitar 3 bulan (setidaknya menurut rangers tadi). Ditambah jika saya memilih untuk menggunakan nomer baru saya bisa mendapatkan nomer XL dengan 10 digit angka. Saya pun memilih untuk menggunakan nomer baru dengan 10 digit angka.

Setelah mendapatkan nomer XL 10 digit, si rangers menanyakan bagaimana saya ingin melakukan pembayaran. Karena tidak punya kartu kredit, saya memilih untuk memasukan deposit. Minimal 200K, deposit itu yang akan menjadi batas pemakaian perbulan. Saya memilih paket seharga 150k, dengan batas 200k artinya dalam sebulan saya hanya mempunyai 'pulsa' 50k diluar biaya untuk paket prioritas.

Saya memilih berlangganan paket prioritas glod yang terdiri dari 15GB untuk 4G saja, 5GB semua jaringan, 150sms-150menit nelpon(semua operator), dan unlimited WhatsApp, Line, dan BBM. Dengan biaya langganan 150rb perbulan. Semua rincian itu akan terset ulang setiap awal bulan. Dengan biaya 50k/1GB jika melebihi kuota yang disediakan. Tagihan akan muncul kurang lebih tanggal 1-10 setiap bulannya, dengan tanggal 27 untuk jatuh tempo pembayaran.

Bulan pertama (pembayaran November) saya dikenakan biaya sekitar 101k, dibulan kedua saya hanya membayar 65k. Aslinya saya harus membayar 166k dibulan kedua, namun menurut sistem saya sudah membayar sebesar 101k. Sepertinya dibulan pertama saya melakukan pembayaran double, soalnya sempat gagal jadinya saya coba dua kali dipembayaran pertama. Dalam setiap pembayaran dikenakan pajak sekitar 10%.

Dibulan pertama saya hanya membayar 101k, menurut hemat saya karena dibulan pertama saya hanya menggunakan prioritas kurang dari 3minggu, dengan sisa kuota yang masih sangat banyak. Sedangkan dibulan kedua, saya menyisahkan kurang lebih 1Gb sehingga saya harus membayar 165k. Dibulan desember kemarin (yang akan ditagih Januari ini) saya bahkan kelebihan 1 GB. Yang artinya saya kira kira harus membayar sekitar 220k.

Pemakian kurang dari 3 minggu (bulan pertama) menyisakan kuota yang banyak juga disebabkan oleh kualitas jaringan yang belum begitu stabil, dibulan kedua kualitas jaringan semakin stabil, dan dibulan ketiga ini, saya semakin merasa bahwa kualitas jaringan prioritas jauh lebih stabil dari bulan pertama. 

Anehnya ketika saya lakukan test speed, saya tidak pernah mendapatkan angka lebih dari 3Mbps (jika saya lakukan di rumah, notabene di pedalaman perumahan padat penduduk pada jam 'normal') Jika saya lakukan di jalan raya bisa menyentuh angka 17Mbps.
Saat membuat post ini (3/1) saya coba melakukan speed test. Hasilnya cukup mencengangkan.

1. Saya lakukan masih di daerah Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara
2. Saya lakukan di SPBU Pertamina Jalan Raya Pelumpang Semper, Jakarta Utara
3. Saya lakukan di rumah, di daerah Tugu Selatan, Jakarta Utara

Diluar itu semua, kualitas jaringan XL prioritas (dibulan ketiga ini) tidak terlalu beda dengan yang prabayar jika digunakan untuk browsing atau sekedar melihat sosial media. Barulah terjadi perbedaan yang sangat kentara saat melakukan kegiatan streaming video (misalnya youtube, iflix, atau web streaming lainnya). Sepanjang bulan Juli-Oktober prabayar XL tidak bisa memberikan streaming video yang lancar untuk aplikasi VOD (Video On Demand) seperti Iflix. Namun semenjak saya menggunakan prioritas, streaming di Iflix sama sekali bukan kendala. Dengan catatan saya tidak melakukannya di jam-jam padat (18.00-20.00 WIB).

Hal seperti kualitas sinyal tidak bisa disamakan ya. Setiap daerah berbeda. Bahkan di rumah teman saya yang masih berada dalam satu kelurahan yang sama, kualitas jaringan XL sangat menyebalkan.

Sejauh ini saya puas dengan kualitas yang saya dapatkan dari Priotitas, hanya saja dengan nomer telpon yang cuman 10 Digit menjadikan nomer saya sering mendapatkan sms spam. Isinya sebagian besar menawarkan kredit mobil atau sekadar gathering sesama pengguna merek mobil. Namun setelah saya komplain via twitter ke @MyXLCare, sms spam itu jauh berkurang.


Selanjutnya saya tertarik menggunakan layanan Mifi atau Home Router dari XL Go. Siapa yang sudah coba?

If you wondering, saya enggak dibayar sama XL bikin postingan ini.
Kaya penting aja blog ini :D

See You.