Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan

Ucapan Selamat Tinggal Kepala Sekolah

12/08/2025 0



Terima kasih.
Itu mungkin kata paling sederhana, tapi juga paling kuat untuk menggambarkan tujuh tahun mengenal Pak Kepala. Namun, rasanya terlalu singkat jika hanya berhenti di kata itu. Maka, izinkan saya merangkai kenangan agar perjalanan tujuh tahun ini terasa lebih istimewa.

Saya masih ingat jelas, pertengahan musim hujan tahun 2018. Aula Dewi Sartika menjadi saksi pertemuan pertama kita. Saat itu, bapak menyapa dengan kalimat yang sederhana namun membekas:
“Pak Dicky, ya?”

Sejak momen itu, saya baru sadar bahwa bapaklah sosok yang selama ini sabar membalas pesan WhatsApp saya menjelang hari penting itu. Maafkan ya, Pak, atas segala kerepotan yang saya timbulkan. 🙏😁

Lalu, kenangan melompat ke beberapa bulan sebelum pandemi Covid-19. Saat itu, saya menghadapi keluhan besar dari orang tua murid—tantangan pertama yang membuat saya benar-benar panik. Orang tua datang langsung, menyampaikan kekecewaan tanpa ragu. Namun bapak tetap tenang, mendengarkan dengan penuh kesabaran, lalu menjawab dengan pengetahuan dan pengalaman yang luas. Saya tidak pernah lupa kalimat bapak setelah sesi panjang itu:
“Tenang aja, Dik. Semua ini pasti selesai kok.”

Kalimat sederhana, tapi mampu meredakan ketakutan saya. Sejak saat itu, saya melihat Pak Kepala bukan hanya sebagai pemimpin sekolah, tapi sebagai sosok bijaksana yang jauh melampaui pengalaman saya dengan kepala sekolah lain. Saya yakin, jika bukan bapak yang memimpin, kisah saya di sekolah ini mungkin akan berbeda.

Tentu, ada banyak momen pendisiplinan. Sesi di ruang kepala sekolah yang membuat saya merasa kurang disiplin, teguran yang kadang terasa berat, hingga cerita legendaris tentang “nasi goreng akreditasi.” Semua itu, pada akhirnya, membentuk saya menjadi guru yang lebih baik. Terima kasih, Pak, sudah bersusah payah mendidik saya dengan cara yang kadang keras, tapi selalu penuh makna.

Di balik semua itu, ada begitu banyak kenangan hebat bersama bapak. Kenangan yang mungkin tidak selalu saya ceritakan, tapi tetap tersimpan rapi di hati. Dan hari ini, saya ingin menuliskannya agar tidak hanya menjadi ingatan, melainkan juga sebuah penghargaan untuk perjalanan tujuh tahun yang luar biasa.

Saya masih ingat, pernah berangkat bersama delapan orang teman. Empat motor melaju beriringan, masing-masing berboncengan dua. Saat jam makan siang, bapak sempat melihat rombongan itu lewat. Tentu bapak tahu siapa saja yang ada di sana. Namun, beberapa saat kemudian, saat rapat berlangsung, hanya nama saya yang disebut dengan pesan singkat penuh makna:
“Kalau jam makan siang, anak kelasnya jangan ditinggal ya.”

Ada juga kisah lain yang tak kalah lucu. Suatu hari saya salah mengenakan celana pramuka. Warnanya memang coklat, tapi tidak segelap coklat khas seragam pramuka. Tak lama kemudian, bapak mengunggah foto bersama pengurus pramuka di grup, lengkap dengan caption:
“Berikut contoh penggunaan seragam pramuka yang benar.”

Ah, kisah-kisah kecil itu ternyata cara bapak mendisiplinkan saya. Teguran yang sederhana, kadang terasa menggelitik, tapi justru meninggalkan kenangan yang hangat. Kini, jika saya mengingatnya kembali, rasanya seperti potongan cerita yang membentuk perjalanan saya—bahwa setiap detail, bahkan yang tampak sepele, punya arti besar dalam mendidik dan menempa saya.


Menjadi pengajar di Masa Pandemi

12/12/2021 2

Maret 2020 menjadi awal dari suatu masa yang umurnya hampir 2 tahun. Banyak orang yang terdampak, di segala sendi kehidupan, di banyak wilayah Indonesia. Banyak bidang yang mau tidak mau harus menyesuaikan diri, apalagi bidang yang memfasilitasi orang-orang untuk berkumpul. Memfasilitasi salah satu kebutuhan paling dasar manusia, berkumpul dengan manusia lainnya.

Kita dipaksa, untuk sementara waktu, membuat jarak satu sama lain. Tidak ada yang boleh bertemu tatap muka. Yang ternyata setelah dua tahun menjadi hal yang paling dirindukan. Mall ditutup, tempat rekreasi, bioskop, bahkan dunia Pendidikan pun tak luput dari penghentian sementara itu.

Hal tersebut mengisyaratkan bahwa kita sedang menghadapi sesuatu yang bahkan dunia Pendidikan pun harus mengalah. Bidang paling penting dalam membentuk manusia masa depan, bidang yang membuat anak bangsa bisa jadi presiden, tentara, arsitek, ahli teknologi dan banyak profesi lainnya.

Sebagai pendidik kita dituntut keadaan, dipaksa harus menyesuaikan beragam pola pembelajaran yang awalnya cocok untuk dengan interaksi antar siswa dalam kelas, menjadi hanya sebatas tatap maya. Ada banyak yang harus disesuaikan. Tidak ada interaksi fisik yang bisa dilakukan, tidak bisa berolahragama bersama, berbagi cemilan saat istirahat, atau sebatas canda tawa disela-sela jam belajar.

Tidak ada praktek yang bisa dilihat dan dilaksanakan langsung oleh siswa. Semua hanya bisa mereka lihat di gawai nya masing-masing. Begitulah yang terjadi di tiga bulan awal belajar dari rumah tahun kemarin. Karena semua rencana sudah dirancang kita sebagai pendidik belum siap untuk melakukan penyesuaian di awal-awalnya.

Seiring berjalannya waktu, saya sebagai pendidik menemukan beragam cara agar siswa tetap menantikan pertemuan tatap muka tiap harinya. Apalagi saya mengajar di kelas 2 SD selama 2 tahun masa pandemi saya memutar otak agar siswa tidak bosan atau mengantuk. Mulai dari membuat media pembelajaran yang menarik, menyelipkan permainan edukasi (misal quiziz, worldwall, kahoot), ice breaking saat pembelajaran atau sebatas pertanyaan-pertanyaan sederhana tentang keseharian untuk memancing perhatian mereka.

Kita paham bahwa saat pembelajaran tatap muka pun, tidak semua materi bisa disampaikan di dalam ruang kelas. Saat materi tentang hewan dan tanaman misalnya, kita perlu berjumpa langsung dengan tanaman atau hewan yang dipelajari. Saat pandemi hal tersebut bisa disiasati dengan melakukan pemantauan langsung oleh guru dan dilihat oleh siswa melalui gawai nya masing-masing, tidak maksimal memang tapi paling tidak mereka bisa melihat guru berinteraksi secara langsung.

Saat materi bernyanyi saya bisa melaksanakan pentas mini saat tatap muka, tapi saat tatap maya saya bisa meminta siswa bernyanyi bersama di aplikasi video conference seperti zoom. Ada yang berperan memainkan alat musik perkusi yang ada di rumah, ada yang sebagai suara satu, suara dua dan sebagainya. Seolah kami sedang melakukan konser mini di kelas.

Saat materi tentang uang jika tatap muka mungkin saya bisa membuat semacam pasar kelas, tapi dengan tatap maya saya bisa mengarahkan siswa untuk berjualan secara daring. Memberi pengalaman mereka menjawab pertanyaan calon pembeli, membuat video atau foto promosi, dan melakukan pengiriman. Menjadikan materi tersebut bisa terintegrasi dengan materi pembelajaran lain.

Untuk mengurangi kebosanan belajar dari rumah, saya selingi dengan meminta bantuan orang tua siswa untuk berbagi pengalaman mengenai profesi nya kepada anak-anak. Memberi gambaran pada siswa akan dunia kerja nanti, dan sebagai rujukan cita-cita mereka kelak.

Dicky Renaldy,

Bekasi, 24 November 2021

Sehari menuju Hari Guru Nasional.

Siapa yang Bisa Menerima ini?

2/01/2020 2
Banyak orang bilang
Perpisahan melengkapi pertemuan,
Pergi menggenapkan datang,
Atau segala yang memiliki awal pasti akan berakhir.
Tapi saat ini aku belum ingin untuk dilengkapi ataupun digenapkan
Tidak dalam waktu sedekat ini,
Tidak dengan semendadak ini.
Aku tidak bisa menerimanya.

Karena kalian harus tahu,
Aku tidak pernah suka keadaan yang begini.
Aku bahkan membenci ini.
Keadaan yang mengharuskan ada yang pergi.
Tidak benar-benar pergi memang.
Tapi tetap saja kita tidak lagi parkir ditempat yang sama, kita tak lagi bisa menghujat apa-apa di ruangan yang sama.
Atau sekadar saling sapa disela-sela waktu mengajar.
Kita mungkin masih bisa membenci orang yang sama, atau tetap saling sapa via ruang chat semata.
Tapi rasakan tak akan sama, Kan?


Aku tak tau siapa yang harus lebih kuat,
Kalian yang harus menerima kenyataan ini.
Atau aku yang faktanya harus mengalami kehilangan yang begitu menyakitkan seperti ini, sekali lagi.
aku masih tak bisa menerimanya.

Aku benci untuk membayangkan
Jika langkah kalian bisa saja benar.
Keberanian kalian akan menghasilkan sesuatu yang indah pada akhirnya.
Dan pilihanku bisa saja salah.
Aku toh, terlalu pengecut.
Tak seperti kalian

Aku makin tak suka untuk tau bahwa,

Mungkin saja kalian bisa mendapatkan yang lebih baik
Dan aku tidak berani untuk bertindak layaknya kalian

Aku sangat tak bisa menerima,
Bila tau bahwa pada akhirnya,
Kita akan dipaksa keadaan untuk saling melupa
Lalu kalian memiliki rekan yang baru
Teman berbagi kisah yang lebih hebat.
Pendengar yang jauh lebih mendengar.
Bukan tukang menyela atau menghina macam Aku.

Aku tak ingin menerima
Bahwa kita akan kembali seperti dulu
Tak saling kenal, tak saling mengetahui
Tak tau kepribadian dan kabar terkini.

Siapa pula yang bisa menerima bahwa
Kita akan berakhir engan untuk menyapa.
Grup WhatsApp akan kehilangan arwahnya
Takut untuk keluar, tapi sengan untuk menimpali
benci dengan segala pembahasanya
Karena selalu tentang Ia yang menjadi alasan kalian pergi.








Sampai ketitik ini.

Aku masih tak bisa dan tak akan pernah bisa menerimanya.
Setidaknya itu yang harus kalian pahami.

Sebulan di Kelas 1 Bulan

9/11/2018 0

Hari kemerdekaan yang telah berlalu. Namun, saya rasa masih cocok bagi saya untuk menceritakan pengalaman merayakan Kemerdekaan. Nah perayaan Kemerdekaan kemarin tepat satu bulan (16 Juli-16 Agustus) sejak awal tahun pelajaran dimulai, dan tahun ini saya mengajar di kelas 1 Bulan.  Jadi enggak salah dong saya pakai judul itu. 😎

Tapi ada yang berbeda dari postingan ini. Kali ini tulisannya tidak berasal dari saya, tapi dari salah satu wali murid saya. Ia menceritakan bagaimana pengalaman pertamanya sebagai orang tua dalam merayakan Kemerdekaan di sekolah. Tentunya dengan sedikit edit, baik untuk merahasiakan identitas maupun untuk menyesuaikan dengan gaya bahasa blog ini.

Sebelum membaca postingan ini sampai bawah, saya ingin menjelaskan kalo Lotus itu adalah nama acara yang diselenggarakan sekolah saya dalam menyambut momen kemerdekaan Indonesia. Lotus sendiri adalah akronim dari Lomba Tujuh Belas Agustus, walaupun kenyataannya dilaksanakan sehari sebelumnya 😋

Selamat menikmati.

by the way mohon maaf jika beberapa foto tidak nyambung dengan teks 😜

Menjadi Orang Tua Merdeka
Pada tahun ini, Alhamdulillah anak kami, diberikan kesempatan untuk bersekolah di SD Labschool Cibubur. Sebulan ini, saya dan istri menjalani peran emak dan bapak yang menemani masa-masa awal bersekolah, seperti orang tua pada umumnya. Walaupun baru sebulan, nyatanya banyak cerita dan insight yang kami dapatkan. Tulisan ini, pada dasarnya merupakan ucapan terima kasih kami kepada Allah, karena telah memberikan lingkungan sekolah dengan iklim komunikasi yang terbuka. Sejak awal, pihak sekolah secara clear menjelaskan harapan keterlibatan orang tua dalam mengawal proses sekolah anak-anaknya. Saat orientasi orang tua, banyak bapak-bapak mendampingi istrinya menghadiri pembekalan dari sekolah. Ditengah banyaknya fenomena atau problem parenting karena ketidakhadiran (baca: keterlibatan) ayahnya, orientasi kemarin memberikan angin segar optimisme bahwa sekolah bukan hanya urusan emaknya doang, tapi juga urusan bapake

Kemarin kami baru selesai kegiatan LOTUS (lomba 17 Agustus) yang diadakan sekolah. Bisa dibilang ini acara besar pertama yang dirasakan oleh anak-anak kami, setelah kegiatan Marshmellow (orientasi). Acara kemarin terbukti sukses ‘menguji’ kekompakan para emak dan bapak di kelas kami, kelas 1 bulan. 

Bayangkan, hanya dalam waktu 3 hari persiapan, seluruh orang tua bahu membahu menyukseskan kegiatan tersebut. Saya sangat terharu melihat berjibakunya para orang tua. Bagi orang tua yang punya keluangan waktu, mereka datang langsung ke sekolah; mendekorasi, membuat properti kelas, hingga menyiapkan tumpeng Asian Games yang ciamik. Bagi yang ada keterbasaan, dengan semangatnya setiap emak dan bapak langsung menawarkan bantuan patungan sumber daya dan ide yang bisa dikerjakan dari rumah. Kreativitas emak dan bapak ini juga berhasil melibatkan anak-anaknya dalam dekorasi; mewarnai, membuat komik, menulis, dan semua yang bisa dilakukan anak-anak. 

Tumpeng yang bikin kelas Bulan Juara 1 Lomba Tumpeng antar kelas.


Bagi kita orang tua yang hidup di era Millennial (sekarang: generasi Z), tak jarang kegiatan-kegiatan kebersamaan seperti ini malah berubah menjadi jebakan-jebakan ‘prestasi’, ‘kompetisi’, ‘orang tua paling hebat’ dan lain sebagainya. Kita jadi melupakan esensi untuk memberikan kebahagiaan dalam prosesnya, dan semangat kebersamaan dalam mencapai tujuan. Nilai-nilai seperti berbagi, partisipasi, apresiasi terreduksi dalam ukuran-ukuran artifisial dengan balutan popularitas. 

Dari yang datar sampai paling ekspresif


Sedikit flashback, ketika Anak Saya bersekolah di TK, ada peristiwa yang masih membekas dalam ingatan. Pada suatu waktu, Ia beberapa kali pulang terlambat sampai rumah. Agak lama kami menyadarinya, sampai kemudian saya luangkan waktu untuk bertanya "Apakah ada kegiatan lanjutan di sekolah atau ada Issue apa hingga dijemputnya selalu sejam lebih lama? 

Jawaban Anak Saya sangatlah sederhana; dia harus menemani temannya di sekolah. Tak puas dengan jawabannya, saya dan istri kemudian bertanya pada guru mengenai apa yang terjadi. Guru pun kemudian menjelaskan bahwa Tara seringkali menjadi saksi ‘masalah’ yang terjadi antar temannya. Kadang ada temannya yang berebut tempat duduk, berebut teman bermain, dan cerita lainnya, khas anak TK yang sering kita dengar. Saya tanya apa hubungan Anak Saya dalam situasi itu? Belakangan kami baru tahu bahwa Ia sering berada diantara ‘masalah’, karena Ia sering berinisitif untuk menyelesaikan konflik antar teman sekelasnya. 

Pada kali yang lain, saya ingat betul Anak Saya pulang dengan sedikit memar luka di wajahnya. Ketika saya tanya, apa yang terjadi di sekolah? Dengan terisak dia mengatakan, wajahnya secara tak sengaja terkena lemparan buku. Guru memberitahu kami bahwa Ia terkena lemparan karena membela temannya yang bukunya diambil ketika belajar. Kami percaya, saat itu Ia diberikan kesempatan oleh gurunya ikut terlibat menyelesaikan masalahnya, tanpa orang tua yang (harus) selalu ikut campur. Saya juga senang karena ada nilai solidaritas dan membela temannya dari pilihan sikapnya. Saya yakin, emak dan bapak kekini-an punya banyak cerita seperti ini. 

Aku, partner mengajar, orang tua, dan murid ku
Santai saat waktu rehat lomba

Ditengah intrusi nilai yang menonjolkan personal achievement seperti ‘lebih pintar’, ‘lebih cerdas’, ‘lebih populer’, sebagai orang tua, kita perlu berpikir ulang mengenai ‘ukuran-ukuran’ ini. Kita tahu, bangsa Indonesia besar karena dalam sejarahnya, nenek moyang kita ditempa dan berjibaku dengan bermodalkan semangat kebersamaan. Saling meniadakaan ego individual, saling berlapang dada dan merelakan, sekaligus proaktif menemukan celah kontribusi. Value berbagi, kebersamaan inilah saya pikir warisan terbesar yang masih berada dalam akar budaya bangsa. Memiliki anak yang berprestatif merupakan kebahagiaan setiap orang tua, namun demikian, sebagai orang tua, seringkali kita ikut terpancing dengan jebakan ini. Sebagai titik sentral dalam pengasuhan anak, yang dilakukan orang tua, akan langsung tercermin dalam perilaku anak. Lantas apa yang akan kita wariskan kalau sebagai orang tua, mencontohkan perilaku menghalalkan segala cara, mengorbankan integritas demi predikat terbaik.  Tak jarang kita dengar ‘keajaiban’ sebagian orang tua, agar menang dalam sebuah perlombaan; mengkarbit proses, memanfaatkan celah teknologi, hingga memaksakan anak hingga kebahagiaan lenyap dari diri anaknya. 

Semangat bener nak 😅

Pada hari kemerdekaan ini, saya mengajak emak-emak dan bapak-bapak untuk saling mengingatkan. Memerdekakan anak kita untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, menjadi bagian penting dalam kemajuan anak. Menikmati proses, menciptakan kebahagiaan jangan sampai sirna dari anak kita. Saya bukan ahli parenting, namun saya percaya proses pengasuhan merupakan hasil keseimbangan kedua orang tua yang masing-masing memiliki pengetahuan, pengalaman, nilai-nilai yang terakumulasi sepanjang hidup, dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Dengan demikian, menciptakan support system (perkumpulan emak dan bapak, koordinasi dengan Kepsek dan guru) merupakan hal yang harus kita pastikan hadir dalam keseharian anak kita. Merdeka atas persepsi negatif, ukuran popularitas, perbandingan capaian merupakan hak segala orang tua. Untuk itu, mari kita wujudkan bersama! Merdeka!


Tabik, 
@ivanahda

Terima kasih kepada Bapak Kepala sekolah serta Ibu, dan Bapak guru, serta semua elemen sekolah yang berupaya keras menjadikan semua anaknya bermental juara. 

Tulisan ini didedikasikan kepada emak-emak kekinian yang telah berhasil membuat kompak semua orang tua kelas 1 bulan. 💪

Terima kasih juga kepada ananda sekalian, semua usaha yang dikeluarkan menambah kuat keyakinan kami bahwa ananda adalah JUARA di hati dan hidup kami. ❤

Oya, Anak yang dari tadi saya ceritakan adalah anak pertama kami. Kelak jika emak dan bapak bertemu dengannya, mohon berkenan untuk juga berbagi dengan anak kami. Saya yakin ada hikmah, kebijaksanaan yang bisa ditularkan dari pengalaman emak dan bapak disini, termasuk kebaikan yang berasal dari anaknya sendiri. Mohon maaf lahir batin 🙏

Pendidikan bukan hanya masalah siapa yang lebih baik, lebih pintar, tapi juga siapa yang lebih peduli.
Kejadian ini terjadi ketika aku, dan partner mengajarku bilang "Makannya yang rapih"

Ngeblog untuk Literasi

7/28/2018 2
 
Tahun ini ngajar kelas 1 SD
Selamat pagi, siang, sore, malam.

Kalian tinggal cocokin aja kapan kalian baca postingan ini.

Perkanalkan nama saya Dicky Renaldy, seorang guru yang dulu sempet hoby ngeblog tapi sekarang malah blog nya tidak terawat. Padahal blog nya sudah dibeliin Domain, tapi malah semakin malas setelahnya.

Setelah hampir 70hari semenjak postingan terakhir, atau setelah ribuan hari tidak intens lagi nulis di blog, saya ingin kembali menghidupkan blog yang dibeberapa tulisan sudah tidak sesuai dengan keadaaan saat ini.  Saya sudah bekerja, sudah bukan mahasiswa lagi. Bahkan ini tempat kerja saya yang ketiga untuk dua tahun belakangan. Semoga yang tempat kerja kali ini bisa mengembangkan saya.

Saya ingin meluruskan jati diri siapakah pemilik blog ini. Karena menurut saya hampir sebagian besar orang-orang yang nyasar kesini pasti karena tulisan saya mengenai PGSD UNJ. Karena saya sudah tidak menjadi bagian dari PGSD UNJ, saya hanya ingin kalian tau itu 😋

Profesi saya adalah seorang tenaga pendidik, oleh murid-murid saya dipanggil dengan sebutan "Pak Dicky."

Saya mengajar di sekolah yang menjalankan kurikulum 2013 (entah sekarang kalian menyebutnya dengan sebutan apa), yang salah satu kegiatannya adalah literasi. Atau budaya membaca. Seperti diketahui Indonesia menempati posisi 64 dari 72 yang diukur lembaga PISA dalam hal membaca, matematika, dan sains. (kalian bisa cari sendiri untuk informasi selengkapanya)

Dengan alasan itu saya rasa menteri pendidikan saat ini, Pak Muhajir (yang 10 Juli lalu saya lihat secara langsung di acara sekolah) menganggap penting untuk meningkatkan budaya literasi atau pengertian yang paling sederhana adalah budaya membaca. Kerena menurutnya, dengan meningkat budaya literasi bisa meningkatkan pola pikir anak bangsa yang pada akhirnya meningkatkan daya saing bangsa Indonesia.

Karena saya seorang tenaga pendidikan, tampaknya kurang tepat jika saya hanya menyuruh anak untuk membaca tanpa diimbangi dengan saya yang ikut pula membaca. Dan dengan meningkatkan budaya literasi, saya bisa menjadi contoh nyata bagi murid-murid saya.

Saya akui budaya membaca saya sedang turun beberapa bulan terakhir, sangat rendah malahan. Sekarang dengan cepat dan murahnya paket data, saya (dan sebagian besar orang, mungkin) memilih untuk menyaksikan media audiovisual dibandingkan dengan membaca. Padahal dengan membaca kita bisa mengetahui dunia dengan lebih terperinci, menambah sudut pandang, mempertajam daya pikir, meningkatkan daya ingat, bukan hanya video-video di youtube yang acapkali isinya tidak bagus. (Misalnya Flat Earth 😏)

Langkah paling sederhana yang bisa saya lakukan untuk meningkatkan budaya membaca, saya memasang rak buku yang bertujuan agar saya bisa menyimpan, dan menambah stok buku untuk dibaca.

Koleksi bukunya masih sedikit, malah banyaka isi yang lain 😝

Melalui blog, saya ingin budaya literasi bisa saya lakukan sedikit demi sedikit. Karena dengan menulis saya akan haus untuk membaca. Dengan rajin membaca saya bisa menjadi tenaga pendidik yang bisa menjadi contoh dalam berbudaya literasi.

Sehingga rak buku yang masih kosong bisa terisi, dan terbaca. Kamu tahu kan bahwa kegiatan menulis sangat membutuhkan kegaiatan membaca? 

See You