Belum Bisa Move-on

5/13/2017

Berharap balikan, begitulah yang setiap kali gue inginkan setiap kali gue ingat dia.

Sudah 20 hari gue berpisah dengan kamar gue. Kamar dimana gue menghabiskan masa kuliah. Masa yang paling menyenangkan buat gue, masa dimana gue bisa leluasa. Seleluasa apa yang bisa gue bayangkan. Karena di kamar itu gue seperti punya dunia, dan punya kuasa atas dunia itu.

Namun, seperti kata sebuah pepatah,

Tak ada yang abadi.

Tepat tanggal 24 April kemarin, gue akhirnya melihat ruangan berbentuk balok itu untuk yang terakhir kalinya.

Lucu ternyata, ketika ruangan yang biasanya berantakan itu pada pengakhiran kembali rapi seperti saat gue pertama kali datang. 

Banyak yang gue lalui di kamar mungil itu.

Mulai dari berjam-jam melalui malam dengan ketawa enggak jelas ketika bertelpon ria di panggilan grup. Merasakan jatuh cinta, dan patah hati pertama kali. Atau sekadar merapihkan kamar yang tidak pernah bersih itu.

Berbincang dengan sahabat secara langsung, melakukan aktivitas 'gila', atau sekadar menyesap kopi sambil menulis skripsi.

Gue masih ingat saat dulu masih akrab dengan operator bolt. Karena rumah itu enggak tercover bolt, alhasil gue kudu beli antena tambahan. Gue melakukan beragam percobaan sampai pada akhirnya, gue bisa menikmati sinyal satu bar milik bolt. Boleh dikatakan. Gue jatuh cinta sama bolt, bukan sama sinyal yang sering blank spot itu, tapi sama perjuangan gue untuk tetap menggunakan bolt. Bahkan, gue pernah dapet hapenya dari kuis Bolt di Twitter.

Kamar itu juga, gue gunakan sebagai pelarian. Setelah gue lalui hari yang melelahkan, gue kunci pintu kamar dari dalam, lalu gue akan menikmati malam yang menyenangkan sekali lagi.

Di kamar itu gue punya dinding penuh post-it, gue tulis beragam angan, harapan, bahkan hingga kalimat motivasi disana. Rasanya gue selalu punya kegiatan menarik setiap kali bercermin. Gue jadi ingat bahwa gue selalu punya angan yang harus digapai.

Dinding sisi lainnya, ada sebuah peta Jabodetabek yang cukup besar. Bahkan jika jalan menuju rumahmu punya panjang lebih dari 20m, jalanan rumahmu akan tampak jelas di peta. Peta itu menyadarkan gue bahwa sebagai penduduk Jakarta, gue terlalu bodoh jika nyasar di kota yang tidak terlalu besar ini. 

Oia gue juga punya perpustakaan kecil disana. Dengan beberapa buku koleksi gue.

Entah kenapa, gue masih punya gambaran jelas akan kamar itu. Rasanya suatu malam nanti, gue akan kembali ke ruangan pengap itu dan melalui malam dengan menyenangkan seperti biasanya.

Kini,

Di kamar, atau lebih tepatnya bagian dimana gue tidur, ini gue belum menemukan sesuatu yang menyerupai dia. 

Gue tidak punya pintu yang bisa dikunci, gue enggak punya dunia sendiri apalagi kuasa akan dunia itu. Disini gue seperti menumpang dan mengikuti sebuah peraturan di dunia dimana gue rasa, gue enggak seharusnya berada. 

Tidak ada dinding penuh post-it, tidak ada peta, yang ada hanya tumpukan buku yang jauh dari kesan perpustakaan mini. 

Semua seperti menghilang, dan gue benci saat mengalami kehilangan.

Bagaimana kabar mu?

See you in my last chance, in my dream.


Baca tulisan menarik gue tentang kamar itu di Kontrakers Sejati

Seorang guru muda yang akan selalu belajar dari peserta didiknya, karena "Pembelajaran tidak hanya terjadi dari guru ke peserta didik, namun sebaliknya pun demikian".
Terimakasih Sudah Membaca

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Komentar tanpa moderasi tapi saya akan perhatikan setiap komentar.
I Love your comment EmoticonEmoticon